TribunJabar/

SOROT

Mengakhiri Permusuhan

Peristiwa terenggutnya nyawa Ricko Andrean seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua kelompok

Mengakhiri Permusuhan
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar

PERSIB Bandung akan kembali berlaga tanpa dihadiri bobotoh saat melawan PS TNI di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Sabtu (5/8/2017). Ini adalah laga kedua setelah pada laga sebelumnya, melawan Perseru Serui, bobotoh juga dilarang untuk hadir ke stadion.

Masih ada tiga laga lagi, melawan Arema FC, Sriwijaya FC, dan Persegres Gresik United, yang menyebabkan Persib kehilangan pemain keduabelas. Ini adalah konsekwensi yang harus diterima oleh tim Persib Bandung setelah Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi hukuman berlaga tanpa kehadiran bobotoh di lapangan.

Hukuman itu dijatuhkan karena pada laga Persib melawan Persija Jakarta, supporter Persib menunjukkan perilaku yang tidak terpuji, mulai dari menyalakan flare, melakukan pelemparan ke tengah lapangan, memukul official lawan, hingga insiden penggeroyokan terhadap sesama suporter yang mengakibatkan suporter bernama Ricko Andrean, akhinya meninggal dunia.

Laga melawan PS TNI, bobotoh memang dilarang hadir ke stadion. Namun, laga tersebut tak menghalangi masyarakat umum dan suporter PS TNI menyaksikan laga. Di antara penonton yang menyatakan sebagai masyarakat umum, di dalamnya pasti ada bobotoh, suporter yang sangat setia dengan Persib Bandung, yang hadir tanpa mengenakan atribut.

Apakah laga akan berjalan aman? Masyarakat pencinta sepak bola Indonesia, terutama Jawa Barat, sangat berharap laga tersebut berjalan aman, tanpa ada ulah dari penonton. Tapi, potensi tindakan tidak terpuji tetap akan ada, meski semua upaya sudah ditempuh demi laga yang enak ditonton.

Peristiwa terenggutnya nyawa Ricko Andrean seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua kelompok yang menjadi elemen terselenggaranya liga, mulai dari panitia pelaksana, manajemen tim, dan para penonton. Perhatian untuk apa? Untuk menjaga ketertiban dalam setiap laga dan mengakhiri permusuhan antarsupoter sepak bola.

Perseteruan antara supoter Persib dan Persija, sudah saatnya diakhiri. Upaya perdamaian di antara keduanya sudah dilakukan. Di Purwakarta, bobotoh dan The Jakmania bergandengan tangan dan berjanji untuk menjadi teman, tidak lagi berseteru dan berbuat onar saat kedua klub legendaris bertemu.

Mantan Pemain Persija, Aliyudin, juga datang ke rumah Ricko, menunjukkan rasa empati dan mengajak semua pendukung sepak bola berdamai. Dan banyak tokoh lain yang melakukan hal serupa.

Coba renungkan! Hidup dalam suasana damai itu menyenangkan, tenang, dan aktivitas menjadi lebih produktif. Kita bisa membayangkan bertapa pedihnya, saudara kita di Palestina dan sejumlah negara di Timur Tengah, hidup dalam suasana konflik. Hari-hari diliputi kecemasan akan adanya serangan. Dan nyawa pun kapan saja bisa melayang.

Di Bandung, kegelisaan karena asalan keamanan, seharusnya tidak terjadi, termasuk ketika orang datang ke stadion untuk menyaksikan Persib bertanding. Mengapa? Karena perseteruan itu bisa dihilangkan.

Ricko sudah berkorban dengan pengorbanan yang besar. Keluarganya pun berkorban, ditinggal untuk selamanya. Maka, pengorbanan itu mestinya dibalas dengan pengorbanan yang sepadan, menahan diri utuk bertindak jahat dan membuat Persib menanggung hukuman.

Persib adalah kebanggaan. Persib adalah identitas. Maka, menjaga cirta positif sebagai pencinta Persib adalah wajib. Ayok, menjadi bobotoh santun. Semoga nasib Persib menjadi lebih baik.

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help