TribunJabar/

SOROT

Kegembiraan Hari Pertama

Di pundak anak-anak, bagi sebagian orangtua, juga menjadi harapan kehidupannya menjadi lebih baik. Sebab, pendidikan pemutus mata rantai kebodohan

Kegembiraan Hari Pertama
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar

Kegembiraan hari pertama menapakkan kaki di ruang kelas, bagi murid baru sekolah dasar (SD), pelajar SMP, SMA, SMK, dan setingkatnya, tergambar dari wajah-wajah mereka.

Kegembiraan yang sama juga  terpancar dari wajah-wajah para orangtua yang mengantarnya ke sekolah. Bahkan, beberapa hari sebelum hari Senin (17/7/2017), kegembiraan itu sudah terasa. Anak-anak diterima di sekolah negeri atau di sekolah-sekolah swasta pilihan mereka.

Lalu, para orangtua menyokong mereka dengan mengiyakan semua yang diminta sebagai bekal sekolah. Berapa banyak uang dibelanjakan untuk kebutuhan sekolah, seragam, tas baru, buku, dan sepatu baru, para orangtua tak lagi hitung-hitungan. Bahkan, mereka rela mencari pinjaman untuk sang anak yang hari kemarin mulai bersekolah.

Di jalanan, terlihat para orangtua mengantar anak-anak berseragam merah putih, mengendarai sepeda motor atau mobil, ke sekolah. Ada kemacetan. Tapi, jalanan tetap tenang. Ada warna lain dari biasanya di jalanan, merah putih, biru putih, dan abu-abu putih,  yang memberi harapan.

Harapan anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, yang akan membanggakan para orangtua, dan kelak dengan kepintarannya turut membantu memperbaiki keadaan karut-marutnya bangsa ini. Di pundak anak-anak, bagi sebagian orangtua, juga menjadi harapan kehidupannya menjadi lebih baik. Sebab, pendidikan adalah pemutus mata rantai kebodohan dan kemiskinan.

Di sekolah, kegembiraan itu makin bertambah. Anak-anak berbaris, mendapat pengarahan dari sekolah, lalu masuk ke dalam kelas. Para orangtua mengawasinya dari kejauhan. Mereka tidak pulang, tapi menunggu hingga hari sekolah hari pertama berakhir. Ini hari pertama, hari paling bersejarah bagi orangtua membekali ilmu kepada anak-anak secara formal.

Di hari yang mestinya bertebar kegembiraan, ternyata di tempat lain ada sebagain orangtua dan pelajar yang kecewa atau sedih.

Di SMPN 46 Bandung, sebagian para orangtua sengaja mendatangi sekolah bukan mengantar anak sekolah, tapi memprotes pihak sekolah, karena anak-anak tak diterima. Padahal mereka tinggal di sekitar sekolah. Aturan zonasi menjadi masalah anak-anak tak bisa diterima.

Audiensi pun dilakukan. Tapi pihak sekolah tak bisa memenuhi permintaan, karena pihak sekolah terikat dengan aturan dan batasan kuota jumlah siswa.

Di SMAN 30 Garut, wajah-wajah kecewa pun tak bisa disembunyikan. Bukan hanya para pelajar, gugu-guru-nya pun menunjukkan ekspresi kekecewaan. Padahal Senin (17/7/2017), adalah hari pertama masuk sekolah.

Ada apa? Masalahnya ternyata lebih pelik dibandingakan ribut-ribut soal PPDB SMA. Masalahnya, mereka tidak memiliki ruang kelas yang nyaman untuk belajar.

Sejak April lalu, mereka belajar di tenda, karena tiga ruang kelasnya rusak diterjang puting beliung. Pelajar diungsikan dan belajar di tenda bantuan dari BPBD Provinsi Jawa Barat.

Pemprov Jabar pun sudah datang ke sana untuk melihatnya. Namun hingga kini, bangunan kelas baru tidak ada dan para pelajar tetap belajar di tenda. Bagaimana rasanya? Kadang terasa panas, kadang dingin karena hujan menembus tenda. Kemarin mereka sengaja berunjuk rasa di hari pertama masuk sekolah, menangih janji pemerintah yang hendak memperbaiki ruang kelas.

Sebenarnya hal ini tidak elok, pelajar mulai belajar unjuk rasa. Tapi mau bagaimana? Upaya seperti ini mungkin jalan terakhir bagi mereka agar pemerintah menjadi perhatian. Semoga kekecewaan ini berubah mejadi kegembiraan, karena belajar adalah hal yang penting. Sepenting harapan orang-orang miskin yang ingin masa depannya lebih baik karena kepintaran anak-anak. (*)

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help