TribunJabar/

Suku di Pedalaman Pulau Halmahera Ini Unik, Dulu Kalau Mati Disandarkan di Pohon Tidak Dikubur

Satu Suku Togutil yang masih dapat dijumpai oleh para turis domestik maupun mancanegara berada di Blok Akatejawe

Suku di Pedalaman Pulau Halmahera Ini Unik, Dulu Kalau Mati Disandarkan di Pohon Tidak Dikubur
Tribunjabar/Ragil Wisnu Saputra
Suku Togutil 

Suku Togutil dikenal memiliki ilmu magis yang kekuatannya sangat luar biasa. Selain itu Suku Togutil hidup penuh kewaspadaan, meski dalam waktu tertidur. Pasalnya, suku ini tidak ingin kehidupannya terganggu oleh masyarakat luar atau kelompok lainnya.

"Kewaspadaannya sangat tinggi. Mereka pun kalau ada orang datang selalu penuh curiga. Karena mereka tidak ingin kehidupan kelompoknya diganggu," kata dia.

Anak-anak Suku Togutil
Anak-anak Suku Togutil (Tribunjabar/Ragil Wisnu Saputra)

Meski begitu, Suku Togutil Tayawi sudah jauh lebih modern dari pada kelompok lainnya. Bahkan Suku Togutil Tayawi sudah mau memeluk agama Kristen Protestan. Padahal, sebelumnya Suku Togutil tidak memiliki agama.

"Mereka juga sudah menggunakan pakaian. Tapi ini juga sudah dilakukan oleh kelompok lainnya. Mayoritas Suku Togutil sudah memakai pakaian. Dulu kan hanya menggunakan celana atau rok saja yang terbuat dari kulit pepohonan. Tapi yang modern ya hanya kelompok Tayawi saja," kata dia.

⁠⁠⁠⁠⁠


Menurut David, bentuk wajah Suku Togutil bahkan berbeda dengan penduduk asli Provinsi Maluku Utara. Orang Maluku Utara sering menyebut Suku Togutil adalah keturunan Bule. Konon, Suku Togutil kebanyakan keturunan dari bangsa asing, seperti Portugis, India, dan Cina.

Untuk mengetahui lebih dalam kehidupannya, Tribun pun diberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan Suku Togutil Tayawi. Tribun diantar ke seorang anggota Suku Togutil Tayawi oleh seorang Polisi Kehutanan di Blok Aketajawe.

Wartawan Tribun Jabar (tengah) bersama satu keluarga Suku Togutil
Wartawan Tribun Jabar (tengah) bersama satu keluarga Suku Togutil (Istimewa)

Tribun pun bertemu dengan Keluarga Lelenge. Saat ditemui, Lelenge dan istrinya, Onya serta anaknya Yulina tengah bersantai di rumah tradisionalnya. Rumahnya terbuat dengan memanfatkan tanaman yang ada di sekitar hutan. Sebagai tiang penyangga, hanya kayu biasa tanpa dirapikan. Sedangkan atapnya terbuat dari tumpukan Daun Woka.

Uniknya, rumah ini tidak diberi bilik disisinya. Hanya papan sebagai tempat tidur dan tempat menaruh barang-barangnya. Sekilas, rumah Suku Togutil mirip dengan gubuk yang ada di persawahan. Mereka menyebut rumahnya dengan bahasa Tobelo asli dengan sebutan Otau.

Untuk gayung sebagai alat mandi, memakan dan memasak, mereka juga memanfaatkan daun woka. Daun woka ini dibentuk seperti mangkuk. Jika untuk memasak, anehnya daun woka ini tidak akan terbakar oleh api.

Halaman
123
Penulis: raw
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help