TribunJabar/

SOROT

Calo PPDB

Setiap PPDB memiliki potensi terjadi kecurangan. Apa? Orangtua memaksakan diri agar anaknya bisa diterima di sekolah tujuan

Calo PPDB
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro

Wartawan Tribun Jabar

SENIN 3 Juli 2017, adalah hari pertama pendaftaran peserta didik baru (PPDB) 2017/2018, jalur akademik, untuk tingkat SMP dan SMA di Jawa Barat. Pendaftaran akan berlangsung sepekan dan pada 10 Juli 2017, peserta tingkat SMA yang diterima akan diumumkan.

Artinya, calon peserta didik (CPD) dan orangtuanya, mulai blusukan ke SMP atau SMA negeri di Jawa Barat, mencari sekolah yang sesuai dengan pilihan. Tidak hanya soal domisili yang dekat dengan sekolah, nilai Ujian Nasional pun harus disesuaikan dengan passing grade sekolah.

Mebayangkan bisa diterima dan bersekolah di sekolah yang sejak lama dicita-citakan adalah hal yang wajar. Namun, untuk bisa diterima harus lah ditempuh dengan cara yang legal. Jika setiap orangtua menyadarai hal tersebut, maka kekisruhan PPDB tidak akan terjadi. Aduan terjadinya kecurangan pun tidak akan ada.

Namun, setiap PPDB memiliki potensi terjadi kecurangan. Apa? Orangtua memaksakan diri agar anaknya bisa diterima di sekolah tujuan, meskipun domisili atau nilai UN-nya di bawah passing grade sekolah tujuan. Kasak-kusuk pun dilakukan. Bak gayung bersambut, oknum pejabat di sekolah, yang dibutakan dengan segepok uang, pun mejanjikan bisa memuluskan masuk di sekolah negeri.

Jika hal ini terjadi di banyak sekolah, maka kegaduhan PPDB pun akan terjadi. Ingat! Kejahatan itu akan selalu meninggalkan jejak. Artinya, kecurangan itu pun tetap akan bisa tercium boroknya. Maka, jangan permalukan diri dengan berbuat kecurangan.

Untuk mencegah tradisi titipan pada PPDB 2017/2018, Dinas Pendidikan Jawa Barat menggandeng Tim Saber Pungli. Kehadiran tim ini diharapkan bisa membantu pihak sekolah untuk bekerja pada jalan yang benar. Jika ada pihak-pihak yang dengan kekuasaannya menekan sekolah untuk menerima anaknya, maka pihak sekolah bisa melaporkan ke Tim Saber Pungli. Atau sebelum hal itu terjadi, sekolah bisa membentengi diri dengan mengatakan “kami tak bisa menerima titipan, karena diawasi Tim Saber Pungli.”

Mengutip pernyataan Guru Besar UPI, Dr H Cecep Darmawan MSi, PPDB jalur akademik lebih mudah dibandingkan dengan PPDB jalur non-akademik. Sebab, indikator penilaiannya lebih mudah. CPD tak memiliki nilai yang seusai dengan passing grade sekolah, ya tidak bisa diterima. Mudah.

Penilaian yang mudah ini, mestinya proses PPDB bisa berlangsung dengan terbuka dan akuntable. Tidak ada percaloan PPDB yang kelak tetap akan terbongkar dan mempermalukan pihak sekolah dan dinas pendidikan. Anak dan orangtua pun akan ikut terseret. Kebanggaan berseragam pelajar pun bisa runtuh.

Gagal diterima di sekolah negeri tak akan menjadikan langit menjadi runtuh. Masa depan masih bisa diraih di sekolah swasta, yang bisa jadi memiliki kualitas lebih baik. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help