TribunJabar/

Keluarga

Hasil Hipnoterapi, Remaja Jadi Geng Motor karena Kurang Kasih Sayang Orangtua

Perlu untuk mengeksistensikan diri agar terlihat keren. Itu biasanya kalau yang kami temukan karena kekosongan di dalam

Hasil Hipnoterapi, Remaja Jadi Geng Motor karena Kurang Kasih Sayang Orangtua
dennis destryawan/tribunnews.com
ILUSTRASI ---Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan usai menginterogasi anggota geng motor, Jumat (2/6/2017). 

TRIBUNJABAR.CO.ID, DEPOK - Dari hipnoterapi yang dilakukan terhadap para anggota geng motor yang terlibat kekerasan jalanan, diperoleh hasil bahwa mereka adalah para remaja yang kurang kasih sayang dan perhatian dari keluarganya.

Hasil itu berdasarkan wawancara yang dilakukan salah seorang praktisi hipnoterapi, Yulianti Wijoyo, terhadap salah seorang anggota geng motor, K (18), yang ditangkap belum lama ini di wilayah Depok.

Menurut Yulianti, K mengaku bahwa ia ingin terlihat eksis dan mendapat perhatian. K tidak mendapatkan hal itu saat berada di rumah.

"Perlu untuk mengeksistensikan diri agar terlihat keren. Itu biasanya kalau yang kami temukan karena kekosongan di dalam. Tidak dipenuhinya bahasa kasih dari orangtua ke anak. Dia mau bisa diterima masyarakat, mau terlihat gagah," kata Yulianti di Mapolresta Depok pada Selasa (13/6/2017). 

"Dia mau memperlihatkan diri karena memang tidak ada yang memperhatikannya. Jadi dia mencari perhatian," kata Yulianti.

Menurut Yulianti, para remaja yang menjadi anggota geng motor ini mengakui dan menyadari tindakan kekerasan yang mereka lakukan itu salah.

Hal itu dinilainya mengindikasikan bahwa nalar dan logika para remaja tersebut masih baik. Namun, keinginan untuk mendapatkan pengakuan membuat nalar dan logika tersebut kalah oleh emosi.

"Tetap dia lakukan karena ada suatu perasaan kekurangan dan harus dia penuhi untuk mengisi kekosongan jiwanya," ucap Yulianti.

K diketahui merupakan remaja anggota geng motor yang juga berperan sebagai pembuat senjata tajam.

Kepada Yulianti, ia mengaku menyesal atas apa yang diperbuatnya. Yulianti menilai, remaja adalah kaum yang sangat rentan dipengaruhi hal negatif.

(Baca juga: Geng Motor Kerap Tawuran pada Malam Minggu)

Ia berpendapat, hanya lingkungan terdekatnya yang dapat mencegah pengaruh negatif itu. Karena itu, Yulianti menilai, keluarga dan orang-orang terdekat dari para anggota geng motor yang harus memberikan perhatian saat para remaja itu selesai menjalani hukuman dan kembali ke kehidupannya.

"Harapan kami ketika dia pulang, lingkungan mendukung. Bukan men-judge mereka sebagai residivis atau semakin dijauhi," ucap Yulianti.

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help