TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Yus R Ismail

Sit-Uncuing

SIT-uncuing bernyanyi di atas pohon. Tapi entah pohon yang mana. Nining sudah beberapa kali mengamati pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya

Sit-Uncuing
ILustrasi Cerpen Sit Uncuing 

SIT-uncuing bernyanyi di atas pohon. Tapi entah pohon yang mana. Nining sudah beberapa kali mengamati pepohonan tinggi yang tumbuh di sekitar rumahnya. Jambu air, sawo, mangga, rambutan, yang tumbuh di halaman belakang, diperhatikan sampai hafal jumlah dahan besarnya. Burung itu masih tidak tertemukan meski suaranya begitu jelas dan nyaring.

Pagi datang sedikit muram. Entah kenapa matahari yang tadi cerah tertutup lagi awan yang semakin tebal. Sepertinya gerimis sebentar lagi turun. Apakah ini pertanda dari pesan malapetaka sit-uncuing? Mungkin benar mitos itu, pikir Nining. Mitos bahwa bila burung sit-uncuing bernyanyi maka itu adalah nyanyian kematian. Ah, tapi ada atau tidak pun burung itu bernyanyi, kematian pasti datang. Pasti datang kepada yang dikehendaki-Nya.

Seandainya burung sit-uncuing itu tertangkap wujudnya, Nining ingin melemparnya, mengusirnya jauh-jauh. Tapi percuma bila hal itu dilakukannya. Karena kabar itu sudah datang. Nunung, kakak Nining satu-satunya, menjadi salah seorang korban kecelakaan kereta api. Hujan besar telah menyebabkan longsor yang menimpa rel di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Nunung, yang bekerja di Surabaya, rencananya pulang selama seminggu ke Bandung.

Semalam Nining menerima kabar dari orang yang mengaku Tim Pengendalian Bencana.

"Sebaiknya ada keluarga yang datang ke sini," kata orang Tim Pengendali Bencana itu.

Mang Sakri dan Wa Enjum malam itu juga berangkat ke tempat bencana. Tugas Nining adalah menyampaikan kabar buruk itu kepada Ambu. Semua saudaranya, amang-ibi-alo-uwa sampai nini-akinya, merasa tidak sanggup menyampaikan kabar itu kepada Ambu. Nining, sebagai sarjana psikologi dan anak yang dekat dengan Ambu, mereka anggap akan lebih bisa menyampaikan kabar itu.

Menurut kabar televisi, kecelakaan kereta api itu menelan puluhan korban jiwa.

"Nunung mengalami patah tulang kaki dan tangan. Itu yang paling beratnya. Sementara di kepala, pinggul, tangan, tidak terlalu parah," kata Mang Sakri melelui telepon genggam. "Kamu harus bisa menyampaikan kabar ini kepada Ambu, harus hati-hati."

Ambu adalah ibu Nining dan Nunung. Usianya enam puluh satu tahun. Abah, suaminya, ayah Nunung dan Nining, sudah meninggal lima tahun yang lalu. Sejak Abah meninggal Ambu sakit jantung, sakit yang membuat wajahnya kurang segar. Tidak boleh terlalu lelah, tidak boleh tertekan, tidak boleh terkejut. Menurut riwayat sakitnya, tiga kali mendapat serangan jantung parah. Penyebabnya hanya karena tertekan ada yang bertanya kenapa kedua anak gadisnya belum juga menikah, mendapat kabar kematian sahabatnya, dan jengkel karena anak tetangga semalaman menyalakan kembang api saat tahun baru.

**

Halaman
1234
Editor: her
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help