TribunJabar/

Coffee Break

Pak Amien

Buku Amien Rais saya pajang karena, pertama, tidak dilarang dan, kedua, saya ingin orang tahu bahwa saya pendukung reformasi

Pak Amien
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

SAYA pernah memiliki sebuah buku karya Amien Rais pada 1998, menjelang munculnya era reformasi. Judulnya Suara Amien Rais Suara Rakyat. Rasanya bangga memiliki buku itu, yang setelah saya baca tuntas saya pajang di lemari buku saya secara mencolok. Pasti ada semacam pamer dalam hati saya.

Di rak yang sama, saya punya tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer edisi fotokopi, tapi saya tidak berani memajangnya dan hanya menyembunyikannya sehingga tidak kelihatan. Buku karya Pram memang dilarang. Buku Amien Rais saya pajang karena, pertama, tidak dilarang dan, kedua, saya ingin orang tahu bahwa saya pendukung reformasi, posisi yang berseberangan dengan Orde Baru—posisi yang sungguh seksi saat itu.

Saya mengagumi Amien Rais karena tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik pemerintah dan berbagai perusahaan yang menurutnya tidak memihak rakyat. Meski demikian, saya belum sampai ke level penggemar beratnya. Waktu itu usia Amien 50-an, masih cukup muda dan pemikirannya masih segar.

Amien, yang lahir di Solo, 26 April 1944, dibesarkan di keluarga aktivis Muhammadiyah. Orang tuanya aktif di Muhammadiyah cabang Surakarta. Setelah lulus sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1968), dan lulus sarjana muda Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1969), ia melanglang ke berbagai negara dan baru kembali pada 1984 dengan menggenggam gelar master (1974) dari Universitas Notre Dame, Indiana, dan gelar doktor ilmu politik dari Universitas Chicago, Illinois, Amerika Serikat.

Kembali ke Tanah Air, Amien balik ke kampusnya, UGM, sebagai dosen. Ia bergiat pula dalam Muhammadiyah, ICMI, BPPT, dan beberapa organisasi lain. Menjelang keruntuhan Orde Baru, Amien berdiri paling depan sehingga kerap dijuluki "lokomotif reformasi". Amien pun membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) pada 1998 dengan platform nasionalis terbuka. Meski hasil pemilu 1999 tak memuaskan bagi PAN, Amien masih mampu bermain cantik dan berhasil menjadi ketua MPR.

Posisi itu membuat peran Amien begitu besar dalam perjalanan politik Indonesia saat itu. Pada 1999, Amien urung maju dalam pemilihan presiden. Lalu, boleh dikata dialah yang menaikkan Gus Dur menjadi presiden—tapi kemudian menurunkannya. Pada 2004, ia maju sebagai calon presiden, tetapi kalah dan hanya meraih kurang dari 15% suara nasional.

Pada era SBY episode pertama, Amien masih keras mengkritik pemerintah. Dalam buku Selamatkan Indonesia! (2008), Amien menyebut antara lain "mentalitas inlander makin bercokol dan mengakar", "telah terjadi erosi kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik dan kedaulatan pertahanan-keamanan yang terus berproses secara cepat", dan "permainan politik di masa Orde Baru telah muncul kembali ke panggung nasional".

Namun pada era SBY episode kedua, Amien terkesan lebih banyak diam. Banyak yang menilai Amien menikmati posisi nyaman karena partainya bergabung dengan koalisi pemerintah.

Kini, sesungguhnya saya berharap Amien, dalam usia hampir tiga perempat abad, menjadi sosok negarawan yang cerdas dan disegani, setidaknya setara dengan Buya Syafii Maarif, yang juga mantan ketua Muhammadiyah. Namun, memang, ada orang yang sudah meraih pendidikan tinggi, mencapai jabatan mapan, mendadak (karena kita tidak tahu prosesnya) menjadi "orang asing". Marwah Daud Ibrahim, misalnya, tiba-tiba menjadi tidak rasional dengan mendukung Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Saya tidak tahu persis proses Amien Rais sehingga menjadi "orang asing". Mungkin bermula saat gagal menjadi presiden, wallahualam. Setelah era SBY, Amien menempatkan diri berseberangan dengan Jokowi. Tentu saja posisi berseberangan bukanlah dosa. Yang menjadi masalah adalah Amien terkesan begitu membenci orang di seberangnya, kerap mengucapkan kata-kata yang kurang masuk akal. Amien pernah bilang akan berjalan kaki kalau Jokowi terpilih menjadi presiden, tapi ternyata tidak pernah mewujudkan kata-katanya. Kalau saja ia melaksanakan janjinya, seberapa pun kekuatannya, orang pasti akan menghormatinya. Tapi ingkar akan janji itu membuat rasa hormat banyak orang luntur.

Kata-kata Amien pun terkesan terucap bukan dari bibir orang bijak. Ia pernah menyebut Ahok sebagai dajal. Menurut KBBI, dajal berarti (1) setan yang datang ke dunia apabila kiamat sudah dekat (berupa raksasa) (2) orang yang buruk kelakuannya; penipu; pembohong. Karena Ahok manusia biasa dan tidak berbentuk raksasa, berarti Amien menilai Ahok orang yang buruk kelakuannya, penipu, dan pembohong.

Dan kini, nama Amien disebut-sebut dalam kasus alat kesehatan. Amien pun seperti kebakaran jenggot, antara lain menyebut KPK busuk.

Entahlah, kini saya merasa suara Amien Rais bukan lagi suara rakyat. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help