TribunJabar/

Coffee Break

Wah, Afi

Ya, perasaan saya memang campur aduk mengenai Asa Firda Nihaya, pemilik akun Facebook Afi Nihaya Faradisa

Wah, Afi
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

KAMUS besar kita memerikan wah adalah kata seru untuk menyatakan kagum, heran, terkejut, dan kecewa. Ya, perasaan saya memang campur aduk mengenai Asa Firda Nihaya, pemilik akun Facebook Afi Nihaya Faradisa yang beberapa hari ini tak ubahnya seperti meteor yang melejit di bidang langit.

Saya tidak mengikuti dengan intens perkembangan remaja kelahiran Banyuwangi, 23 Juli 1998, itu di media sosial. Saya hanya membaca satu tulisannya, "Warisan", yang mampir di beranda FB saya dan yang sedang menjadi viral. Saya mengagumi pemikiran gadis yang baru lulus SMA ini, yang lantas menjadi narasumber di mana-mana dan diundang para pejabat penting.

Melalui "Warisan", Afi mengajak warga Indonesia untuk menjaga toleransi, khususnya di media sosial, yang rawan dengan gesekan. "Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak. Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan," tulis Afi di bagian awal. Lalu, di bagian akhir, "Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan. Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir."

Setelah tulisannya itu menjadi viral, nama Afi makin berkibar. Ia dan ayahnya sempat diundang Bupati Banyuwangi, Azwar Anas, sarapan di ruang kerjanya. Ia juga diundang rektor Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang untuk berbicara di depan para profesor dan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Jawa Timur. Tak lama kemudian, Afi menjadi tamu pembicara di panggung car free day Jakarta bersama Menkominfo Rudiantara. Ia juga tampil di sejumlah stasiun televisi. Puncaknya, Afi bertemu dengan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla seusai acara resmi upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Kemlu.

Dalam sekejap Afi menjelma menjadi selebritas. Padahal, beberapa waktu sebelumnya ia "bukan siapa-siapa". Ia anak pertama dari dua bersaudara yang ayahnya, Wahyudi, berjualan bakso menggunakan gerobak di depan masjid dekat rumahnya, Masjid Al-Hidayah, sambil mengurusi masjid itu, mulai dari membersihkan, azan, hingga menjadi imam salat, dan ibunya, Sumarti, menderita glukoma dan kehilangan penglihatannya sejak tiga tahun lalu. Sumarti mengaku lulus SD dan tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya biaya. "Saya nggak mau anak saya seperti saya. Asa dan adiknya harus sekolah tinggi bagaimanapun caranya," katanya.

Tapi tidak semua orang menyukai Afi, ternyata. Ia mengaku sering mendapat ancaman setelah tulisannya di FB viral dan disukai banyak orang. Ancaman itu datang di inboks di FB-nya dan telepon dari orang tidak dikenal. "Saya dianggap sebagai liberal, sekuler, dan tidak berpihak kepada Islam," katanya. Toh, ia mengaku tidak akan membawa ancaman-ancaman itu ke ranah hukum. Baginya, makin ancaman itu ditanggapi, yang mengancam makin senang.

Terakhir, Afi dituduh memplagiat tulisan orang lain. Di internet, muncul perbandingan tulisan Afi berjudul "Belas Kasih Dalam Agama Kita" di akun FB-nya pada 25 Mei 2017, dengan tulisan "Agama Kasih" di akun FB bernama Mita Handayani tanggal 30 Juni 2016. Akun Mita kemudian meresponsnya seperti ini: "Aku pernah salah. Kamu pernah salah. Kita semua pernah salah. Jika usaha Afi kali ini dianggap kesalahan, aku mohon dimaafkan... Afi merasa harus berbuat sesuatu, dan jika itu salah, mohon dimaafkan,"

Tentu saja saya kecewa jika tuduhan plagiasi itu benar. Saya berharap tulisan Afi benar-benar karyanya sendiri. Kalaupun Afi memposting tulisan orang lain, saya berharap itu kekhilafan karena tidak mencantumkan sumber. Di sisi lain, saya juga kecewa terhadap orang-orang yang gencar mengecamnya.

Sedikit banyak, Afi mengingatkan saya pada Tanti R. Skober. Pada sekitar tahun 1990, nama Tanti menjadi pembicaraan di kalangan penulis dan sastrawan. Saat itu ia masih duduk di SMA tapi tulisan-tulisannya, baik esai maupun cerpen, sudah tersebar di sejumlah media massa, dengan gaya tulisan dan diksi yang sangat terpilih serta mengandung pemikiran yang dalam. Dengan prestasinya itu, ia terpilih menjadi pemuda berprestasi tingkat Jawa Barat. Namun, banyak orang yang meragukan keaslian tulisan Tanti, menyangka tulisan-tulisan itu buah karya sang ayah, bahkan mengadakan "pengadilan" segala.

Sampai sekarang saya tidak tahu mengenai hal yang sebenarnya. Saya masih mengaguminya dan dalam hati kecil saya berharap Tanti orang yang jujur dan semua tulisan Tanti itu buah karyanya sendiri. Oh ya, Tanti sekarang menjadi dosen Unpad dan sedang menempuh S-3.

Seperti kepada Tanti, saya juga tetap mengagumi Afi dan berharap Afi orang yang jujur dan dapat mementahkan semua tudingan miring kepadanya. (*)

Penulis: her
Editor: her
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help