TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Zainul Muttaqin

Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam

KENING Darso berkerut melihat istrinya menggunting sehelai kain kafan dan diukurnya sesuai ukuran tubuhnya sendiri.

Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam
Ilustrasi Cerpen Kain Kafan yang Dibasuh Air Zamzam 

KENING Darso berkerut melihat istrinya menggunting sehelai kain kafan dan diukurnya sesuai ukuran tubuhnya sendiri. "Kenapa kau mengukur kain kafan itu ke tubuhmu?" Pertanyaan suaminya cuma dibalas dengan senyuman oleh Simar. Darso semakin tidak mengerti dengan tingkah pola istrinya karena besok mereka akan berangkat umrah. Tetapi, kenapa sang istri sibuk mengurus kain putih pembungkus jenazah itu. Pikiran Darso tak mampu menjangkau cara berpikir istrinya yang usianya hanya lebih muda dua tahun darinya.

"Aku mau basuh kain kafan ini dengan air zamzam," kata Simar kepada suaminya begitu selesai mengukur kain kafan untuk tubuhnya sendiri. Darso terkejut mendengar ucapan istrinya itu dan membuatnya langsung mengatur napas. Laki-laki yang baru dua tahun menikahinya itu langsung berpikir yang macam-macam soal istrinya. Tiba-tiba saja ia seperti diajak untuk membayangkan kematian istrinya yang terasa sebentar lagi.

"Seolah-olah kau akan segera mati setelah ini. Sementara kita tak tahu kapan mati. Kau membuatku cemas," Darso merasa ada sesuatu yang ganjil di dadanya. Suara jantung yang tak wajar. Namun ia buru-buru beristigfar. Perasaan ini tak lebih dari rasa takut akan kehilangan perempuan yang teramat ia cintai. Hal ini terlihat dari mata Darso yang menampung genangan air di ceruk matanya yang dalam.

"Kematian sesuatu yang niscaya. Karena kita tak tahu kapan mati. Maka tak salah jika kita mempersiapkannya." Simar mengucapkannya ringan, disusul senyum mengembang dari bibirnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa pagi itu ingin sekali menyiapkan kain kafan untuk dibasuh dengan air zamzam ketika tiba di Mekah nanti. Tetapi, satu hal yang tak sanggup ia mungkiri adalah bahwa Izrail akan datang kapan saja dan tanpa ia sadari kapan malaikat itu akan menarik nyawa satu- satunya yang dimiliki. Mungkin, karena inilah ia punya nyali mempersiapkan kematiannya sendiri.

Suaminya pun mulai waswas melihat gelagat Simar yang menampakkan tanda-tanda menjelang ajal. Darso lebih dibuat tercengang lagi saat lelaki kurus berwajah teduh itu mengetahui sang istri juga sudah mempersiapkan liang lahat bagi dirinya. Tiga hari yang lalu, Simar menyuruh seorang penggali liang lahat menggalikan lubang kubur untuknya. Ia memberikan ukuran luas tanah yang harus digali dekat makam ayahnya yang meninggal dua tahun lalu, tepat saat azan Isya bergetar di udara.

Keinginan Simar untuk menyucikan sehelai kain kafan dengan air zamzam tidak didasari oleh perihal apa pun. Bukan mimpi atau bisikan gaib yang menyuruhnya. Itu dilakukannya atas hasratnya sendiri. Meskipun begitu, ia sendiri nyatanya tidak mengerti, mengapa hari itu menjelang keberangkatan umrahnya yang pertama tiba-tiba saja ia mengikuti suara nalurinya agar membawa kain kafan untuk dibasuh dengan air zamzam.

Melihat sesuatu yang ganjil dari tingkah istrinya, hati Darso dibalur cemas. Ia kerap bertanya-tanya, pertanda apa yang sedang ditunjukkan Allah ini? Pertanyaan itu ia pendam sendiri di dasar hatinya. Belakangan ini, Simar pun sering ingin bermanja-manja dalam rangkulan suaminya. Bagi Darso, ini tak biasa dilakukan istrinya. Sebab, selama menikah Simar tak semanja sekarang ini. Kalaupun istrinya ingin dimanja, tak pernah terasa berlebih seperti ini.

Ditinggal sebentar, Simar langsung merajuk. Darso merasa sangat bahagia, sebab ia merasa dengan ini betapa sejatinya sang istri sangat mencintainya, tapi di lain sisi ia merasa khawatir. Baginya, tak wajar Simar bertingkah macam itu. Gerimis halus basah di kaca jendela. Darso tak mau berpikir yang bukan-bukan soal istrinya. Ia pun beranggapan, bisa jadi tingkah Simar begitu lantaran perempuan itu tengah hamil tiga bulan.

Bulan sebulat semangka menaiki dinding langit. Dari luar jendela terdengar angin berkesiur pelan. Darso melihat istrinya yang baru saja terlelap di pangkuannya. Dengan pelan ia rebahkan kepala Simar di atas bantal. Ia pandangi pula wajah istrinya yang nampak lebih terang dari sinar bulan yang memantul di bibir jendela. Ia mencium kening Simar sesaat sebelum ia coba memejamkan matanya di sisi istrinya tersebut.

Darso tak ingin liang kubur yang disiapkan Simar adalah pertanda datangnya ajal yang diisyaratkan alam kepadanya. Karena jika hal itu benar-benar terjadi, Darso tak tahu lagi apa yang mesti diperbuat. Walaupun begitu, Darso juga sadar sesadar-sadarnya bahwa betapa kematian sejatinya akan menghampiri siapa pun yang bernapas. Oleh karena itu, ia berusaha meyakinkan dirinya kelak jika Simar benar akan meninggal sepulang dari umrah atau setelah melahirkan anak satu-satunya, Darso akan menerima selapang-lapangnya. Meski pada hari itu mungkin dadanya akan terbelah dan air matanya akan mengucur.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help