TribunJabar/

Coffee Break

Pak Tua

TAK terhitung berapa banyak cerita tentang lelaki tua. Tiap cerita itu pun memiliki tokoh dengan watak masing-masing...

Pak Tua
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

TAK terhitung berapa banyak cerita tentang lelaki tua. Tiap cerita itu pun memiliki tokoh dengan watak masing-masing, bisa unik bisa juga umum meski dengan sedikit keunikan. Banyak dari cerita itu menjadi terkenal karena nilai kesastraannya dan mengandung nilai-nilai buat pelajaran bagi kita.

Ernest Hemingway menulis salah satu novel pendeknya yang terkenal, The Old Man and the Sea, yang mengisahkan perjuangan seorang nelayan tua, Santiago, yang menangkap ikan marlin raksasa—tangkapan terbesar dalam hidupnya. Santiago sudah melewati 84 hari tanpa menangkap seekor ikan pun.

Pada hari ke-85, Santiago berlayar sendirian, membawa perahu kecilnya jauh ke tengah teluk Meksiko. Pada siang harinya, seekor ikan besar yang dia yakin adalah seekor ikan marlin menggigit umpannya. Santiago tidak dapat menarik ikan itu, malah perahu kecilnya justru ditarik oleh sang ikan raksasa. Dua hari dua malam lelaki tua itu susah payah menahan tali jeratnya dengan tenaganya sendiri. Anehnya, meski sangat kesakitan dan terluka dalam perjuangannya, Santiago merasakan rasa kasih, haru, dan penghargaan untuk lawannya. Ia pun kerap menyebut sang ikan sebagai saudaranya. Ia juga memutuskan bahwa karena martabat besar sang ikan, tak ada seorang pun yang layak untuk memakan ikan tersebut.

Selama perjalanan pulang, Santiago harus berjuang mengusir ikan-ikan hiu yang membuntutinya karena darah ikan marlin yang terus menetes. Ia berhasil membunuh beberapa ekor hiu. Namun jumlah hiu itu terlampau banyak dan Santiago hanya bisa pasrah ketika tahu di malam harinya hiu-hiu tersebut telah melahap habis seluruh bangkai sang marlin, meninggalkan hanya kerangka tulang punggung, ekor, dan kepalanya. Keesokan harinya sekelompok nelayan berkumpul di sekeliling perahu Santiago. Salah satunya mengukur kerangka ikan yang ternyata sepanjang 18 kaki dari moncong ke ekornya.

Manolin, murid Santiago dalam mencari ikan, yang terus khawatir selama perjalanan si lelaki tua, menangis terharu saat dia mendapati sang guru sedang tertidur lelap. Dia tidur pulas menelungkup dan si anak laki-laki duduk menjaganya. Lelaki tua itu bermimpi tentang kawanan singa.

Berbeda dengan Santiago, Charlie dalam cerpen "Chief Sitting Bull" karya Umar Kayam adalah seorang kakek yang selalu mengisi hari-hari tuanya dengan naik carousel di Central Park, sama riangnya dengan penggemar komidi putar lainnya, yang semuanya anak-anak. Duduk di kuda-kudaan, ia merasa dirinya seorang Indian bernama Chief Sitting Bull. Selesai naik carousel, ia bertemu dengan squaw (kekasih)-nya, seorang nenek bernama Martha di sebuah taman. Kalau datang terlambat, ia beralasan gara-gara menantunya. Ketika ia pulang, sang menantu menyambutnya dengan pertanyaan dari mana. "Oh, dari perpustakaan, baca-baca. Lalu ke Washington Square ketemu kawan-kawan lama. Kami berdebat tentang politik," jawab Charlie.

Barangkali Kakek dalam cerpen "Robohnya Surau Kami" karya A.A Navis bernasib paling tragis. Ia adalah penjaga surau yang sangat rajin beribadah. Namun di akhir cerita ia meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendengar cerita dari Ajo Sidi—si Pembual—tentang Haji Soleh yang konon masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh, dalam cerita Ajo Sidi, masuk neraka karena "kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua.... Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang."

Nah, Anda bisa menulis cerita sendiri tentang lelaki tua mana saja. Anda bisa menulis cerita tentang Pak Tua yang lebih suka menikmati masa tuanya seperti Charlie atau tetap berjuang untuk hidup seperti Santiago. Kalau tidak, Anda juga bisa membaca karya orang lain. Dalam cerpen "Dilarang Mencintai Bunga-Bunga", Kuntowijoyo bercerita tentang si kakek yang mengisi masa tuanya dengan berkebun bunga.

Anda juga bisa membaca kisah orang-orang tua di dunia nyata. Semua tersedia dan dengan mudah kita menemukannya di mana saja. Benar, tak terhitung cerita tentang Pak Tua. Ada yang memilih terus berkarya secara diam-diam. Ada yang lebih suka menjadi pengamat yang bijaksana. Ada juga yang berkata nyinyir tanpa akhir. Dan yang jelas, meski sudah mencapai kedudukan yang tinggi, banyak lelaki yang tua-tua keladi, makin tua makin menjadi—makin menggelegak hasrat politiknya. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help