TribunJabar/

Pelatih Persib Djadjang: Jadi Pelatih dan Pemain Persib Itu Berat, Menang Saja Tidak Cukup

Tak seperti biasanya, Pelatih Persib Bandung Djadjang Nurdjaman sedikit curhat (mencurahkan isi hati) mengenai besarnya tekanan

Pelatih Persib Djadjang: Jadi Pelatih dan Pemain Persib Itu Berat, Menang Saja Tidak Cukup
(Tribun Jabar/Deni Denaswara)
Pelatih Persib Bandung Djadjang Nurdjaman memberi arahan kepada Tonu Sucipto dan Tim Persib Bandung pada sesi latihan menjelang laga pamungkas grup tiga Piala Presiden 2017, di Lapangan Lodaya, Kota Bandung, Kamis (16/2/2017). Pelatih Djadjang Nudjaman bertegad memenangkan laga melawan Persela Lampongan di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, pada Jumat (17/2/2017). 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Tak seperti biasanya, Pelatih Persib Bandung Djadjang Nurdjaman sedikit curhat (mencurahkan isi hati) mengenai besarnya tekanan dan tantangan menjadi pelatih dan pemain Persib. Menurutnya, tak semua pelatih dan pemain bisa tahan berkostum Maung Bandung.

Bahkan sekelas pemain bintang di Indonesia belum tentu bisa "tahan" menghadapi derasnya tekanan dan ekspektasi tinggi ketika berkostum Maung Bandung. Tekanan itu bisa datang dari bobotoh, manajemen maupun insan sepakbola lainnya.

Di Persib, kata Djadjang, pelatih dan pemain selalu dituntut mempersembahkan gelar dan prestasi setiap tahunnya. Tak ubahnya seperti tim asal Spanyol, Real Madrid. Tak heran baik Persib maupun Madrid, setiap tahunnya selalu mendatangkan para pemain bintang demi merealisasikan target juara yang selalu dituntut bobotoh maupun manajemen Persib.

Namun bagi sebagian bobotoh, kemenangan yang dipersembahkan pelatih dan para pemain saja tak cukup. Selain meraih tiga poin, publik sepakbola Jawa Barat selalu menuntut pelatih dan pemain untuk bermain cantik serta menghibur bobotoh.

"Jadi pelatih dan pemain Persib tekanan pasti berat. Menang saja tidak cukup. Main cantik harus, menang juga harus. Susah kan," kata Djadjang.

Ia mencontohkan, posisi Persib yang berada di peringkat dua klasemen sementara dan belum pernah mengalami kekalahan pun masih dikritik bobotoh. Sebab, kata dia, kemenangan atau tidak kebobolan saja belum cukup bagi bobotoh karena bobotoh berharap lebih besar. Yaitu menang sekaligus bermain bagus.

"Kalau main jelek, kami pasti dikritik habis. Kadang saya kasihan sama pemain karena mereka sering dikata-katain kasar terutama di media sosial. Itu enggak pantas. Tak ada apresiasi sama sekali," kata Djadjang.

Pelatih berusia 59 tahun tersebut memang banyak menerima kritikan dalam beberapa pekan terakhir. Meski kini bercokol di posisi papan atas, Persib tetap dikritik karena dinilai belum menampilkan performa impresif. Alih-alih bermain menyerang, Persib malah dinilai bermainan negatif dengan menerapkan strategi parkir bus alias bertahan.

Dampaknya, produktivitas gol Maung Bandung sejauh ini belum bisa dikatakan bagus. Hingga pekan keenam, Persib baru mencetak enam gol dan dua kali kebobolan. Jika dirata-ratakan, Atep Cs hanya mencetak satu gol per pertandingan.

Itu pun dari enam gol yang sudah tercipta, tidak ada satu pun gol yang lahir dari pemain berposisi striker. Enam gol Maung Bandung, masing-masing dicetak Michael Essien dan Atep dengan dua gol. Dan dua gol lainnya masing-masing dicetak pemain muda Febri Hariyadi dan Billy Paji Keraf dengan masing-masing sebiji gol.

"Kami menyadari tengah disorot (publik). Kami juga punya keinginan yang sama dengan bobotoh. Kami sudah berusaha selama latihan," ujar Djadjang. (M zezen zainal m)

Penulis: M Zezen Zainal Muttaqin
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help