TribunJabar/

Berbasis Keyakinan Pada Tuhan, Ekonomi Syariah Diyakini Bisa Membawa Kemajuan

Aher menjelaskan bahwa Ekonomi Syariah merupakan sistem ekonomi berbasis pada keyakinan kepada Allah SWT

Berbasis Keyakinan Pada Tuhan, Ekonomi Syariah Diyakini Bisa Membawa Kemajuan
ISTIMEWA
Dalam acara launching Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Institut Pertanian Bogor (IPB) di IPB International Convention Center, Jl. Pajajaran Raya, Tegallega, Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (16/5/17), Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menjadi keynote speech atau pembicara utama dalam sesi seminar. Pada kesempatan ini, Aher memaparkan penerapan konsep Ekonomi Syariah di hadapan ratusan mahasiswa. 

KOTA BOGOR, TRIBUNJABAR.CO.ID - Dalam acara launching Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Institut Pertanian Bogor (IPB) di IPB International Convention Center, Jl. Pajajaran Raya, Tegallega, Bogor Tengah, Kota Bogor, Selasa (16/5/17), Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menjadi keynote speech atau pembicara utama dalam sesi seminar. Pada kesempatan ini, Aher memaparkan penerapan konsep Ekonomi Syariah di hadapan ratusan mahasiswa.

Aher menjelaskan bahwa Ekonomi Syariah merupakan sistem ekonomi berbasis pada keyakinan kepada Allah SWT dengan sumbernya Al-Quran dan Sunah Nabi. Dengan begitu, sistem ekonomi ini diyakini bisa membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia.

"Untuk urusan ekonomi yang bersumber pada wahyu, ini kan urusannya believe atau keyakinan. Urusan keyakinan itu diyakini karena berasal dari pencipa alam semesta, Allah SWT, meski dalam prakteknya belum tentu terjadi tetapi sebagai sebuah believe ga ada masalah. Karena kalau belum terjadi, yang salah yang mempraktekkan, belum berhasil mempraktekkan, bukan konsepnya salah. Itu kalau kemudian sebuah konsep berkategori believe, berkategori keyakinan," papar Aher.

"Berbeda dengan konsep yang berasal dari manusia. Berdasarkan pengalaman dan pengamalan, bukan keyakinan. Kalau Ekokomi Syariah sumbernya adalah Al-Quran dan Sunah berkategori keyakinan, ini Insya Allah akan memajukan bangsa dan NKRI ini. Kemudian kita menghadirkan konsep apapun dalam ruang negeri yang kita cintai ini, sesungguhnya ini bagian dari cinta kepada negeri untuk menghadirkan berbagai konsep kehidupan yang bisa menghadirkan Indonesia yang lebih makmur, lebih sejahtera," lanjutnya.

Ekonomi merupakan pilar sebuah peradaban. Bahkan separuh dari unsur penciptaan manusia merupakan unsur materi/fisik atau perekonomian. Aher menjelaskan, bahwa peradaban yang dibangun ketika zaman Nabi Muhammad SAW ada empat. Tahapan pertama, yaitu pembangunan masjid. Tahapan kedua, pembangunan kohesi sosial melalui persaudaraan. Tahapan ketiga, yaitu pembangunan pasar. Tahapan keempat yaitu pembangunan jaminan sosial.

"Jadi seharusnya orang yang beriman itu maju luar biasa. Karena iman membawa paradigma baru tentang kehidupan, paradigma kemajuan. Benci akan kemiskinan, benci akan kebodohan, benci akan segala urusan keterbelakangan. Yang dia cintai karena keimanannya adalah kemajuan dan kemajuan dalam konteks iman dan taqwa kepasa Allah SWT," tutur Aher.

Lebih lanjut, Aher menjelaskan bahwa prinsip ekonomi dalam Islam yaitu pasar bebas yang berkeadilan. Artinya, non-ribawi, non-gharar, dan non-keserakahan. Menurut Aher, distribusi merupakan kunci bagi pihak yang memiliki banyak modal atau kemampuan dalam materi.

"Dalam konteks hak dia (pemodal atau kaya harta) dibelanjakan untuk anak dan istri (keluarga), untuk keperluan hidupnya. Lalu didistribusikan lagi untuk orang lain, dalam bentuk distribusi wajib, zakat namanya. Dan distribusi tidak wajib infaq dan sedekah namanya. Dan ternyata, infaq sedekah bukan mengurangi harta tapi menambah harta," jelas Aher.

Dengan distribusi ini (zakat, infaq, dan sedekah) harta tidak akan diam. Harta akan mengalir kepada pihak lain, sehingga orang lain ikut berdaya dan menjadi sejahtera. Menurut Aher, hal tersebut bertolak belakang dengan prinsip Adam Smith, yang membiarkan harta menumpuk pada seseorang atau kaum kapitalis saja.

"Nah, Adam Smith beda, kata Adam Smith biarkan saja harta menumpuk pada seseorang nanti juga netes. Ternyata ga netes-netes sampai akhir. Jadilah konglomerasi yang kemudian ada kesenjangan yang luar biasa antara yang kaya dan miskin," tukas Aher.

Halaman
12
Editor: dia
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help