TribunJabar/

Mencari Kenikmatan Camilan Tradisional yang Pas Sambil Ngopi

Dalam suasana santai, mereka unjuk kebolehan menyeduh kopi di hadapan para hadirin yang . . .

Mencari Kenikmatan Camilan Tradisional yang Pas Sambil Ngopi
ISA RIAN FADILAH
Rencang Kopi 

Laporan Isa Rian Fadilah

TRIBUNJABAR.CO.ID - DI bawah pohon rindang, tiga orang duduk berjajar di kursi yang terbuat dari batang pohon yang berpasangan dengan meja panjang bermaterial serupa. Di hadapan mereka tersedia biji kopi Bali lengkap dengan peralatannya seperti penggiling, pendidih air, dan penyaring kopi dari bambu (cur). Dalam suasana santai, mereka unjuk kebolehan menyeduh kopi di hadapan para hadirin yang terlihat begitu menikmati kebersamaan di tengah sejuknya tempat.

Aktivitas mereka terlihat seperti tengah mengikuti kompetisi kopi pada umumnya. Kesan ini berubah setelah masing-masing peserta membuat suatu menu yang menyandingkan kopi dengan camilan-camilan tradisional Nusantara. Belakangan diketahui mereka tengah terlibat dalam sebuah kompetisi kopi yang diklaim belum pernah digelar sebelumnya di Indonesia, yakni menyandingkan kopi dengan makanan tradisional Nusantara. Kompetisi tersebut dinamakan Rencang Kopi.

Sebanyak 24 peserta berpartisipasi dalam kompetisi yang digelar di Waroeng Pinus, Jalan Bukit Pakar Utara No 40B, Kota Bandung. Tak hanya dari Bandung, peserta juga dari Yogyakarta, Bekasi, Jakarta, dan kota lainnya. Setiap peserta diminta untuk memasangkan kopi dengan camilan tradisional. Secara bergantian, mereka diberi waktu sepuluh menit untuk menyeduh kopi termasuk mempresentasikan makanan tradisional yang menjadi pasangannya. Pasangan kopi dan makanan tradisional kemudian dibawa ke hadapan tim juri untuk dinilai. Tim juri terdiri atas ahli kopi, roaster sekaligus petani kopi dan juru masak.

Salah satu penggagas Rencang Kopi, Eko Purnomowidi, mengatakan, kompetisi ini digelar untuk mengangkat kembali makanan tradisional. Selain itu, kompetisi ini dihelat untuk mencari menu-menu makanan tradisional yang cocok dipasangkan dengan kopi.

"Ternyata banyak makanan tradisional yang cocok dengan kopi. Kalau dibuat kaya gini (kompetisi) kan jadi tahu banyak yang sudah diobservasi masing-masing," ujar Eko di sela acara, Sabtu (13/5).

Ada sejumlah aspek yang dinilai. Ada penilaian yang dilihat dari kombinasi kopi-makanan tradisional dan ada pula penilaian terpisah. Penilaian meliputi rasa, higienisitas, after taste, penataan makanan, bentuk, dan keseimbangan rasa. Tim juri pun menilai rasa yang ditimbulkan dari keduanya apakah lebih baik atau sebaliknya. "Dari 24 peserta ada beberapa rasa kopi yang hilang dan ada yang benar-benar menyatu banget. Rasa kopi tidak hilang dan rasa makanan jadi lebih enak dinikmati," ujar Ketua Tim Juri, Mirza Luqman.

Mirza begitu antusias menilai sajian peserta yang masing-masing membawa makanan yang sudah lama tidak ia temui. Bahkan, beberapa makanan tradisional baru diketahuinya setelah menillai pasangan-pasangan kopi dan makanan tradisional yang beraneka ragam.

Menurutnya, sebuah kombinasi akan menyatu jika seorang peserta menyesuaikan kopi berdasarkan makanan yang dibawanya.

"Kopi itu harus bisa tetap berasa seperti kopi yang diinginkan bahkan lebih baik dan makanannya pun demikian, jadi tidak bertabrakan atau malah jadi lain. Saya tidak menyangka antusiasme peserta benar-benar serius, bawa makanan yang benar-benar autentik. Saya baru tahu beberapa makanan yang berasal dari Jawa Tengah, Sunda, membuat juri juga semangat untuk mencicipinya," katanya seraya mengatakan kompetisi tersebut memiliki nilai lebih yang membuat para peserta memiliki semangat baru dalam berkompetisi.

Menurut Mirza, pada kompetisi mendatang peserta harus memikirkan bagaimana cara optimal untuk menikmati menu paduan kopi dan makanan tradisional tersebut.

Rencang Kopi
Rencang Kopi (ISA RIAN FADILAH)
Halaman
12
Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help