TribunJabar/

SOROT

LPG 3 Kg Langka, Ah Biasa . . .

Unik bukan? Hanya untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram masyarakat harus inden, seperti hendak membeli mobil keluaran terbaru.

LPG 3 Kg Langka, Ah Biasa . . .
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro
Wartawan Tribun Jabar

KETERSEDIAAN gas elpiji ukuran 3 kilogram langka. Warga yang kehabisan gas harus mencari ke banyak tempat, bahkan hingga ke daerah yang jauh dari tempat tinggalnya. Beruntung jika mendapatkan, meski harganya menjadi mahal, jauh dari harga toleransi eceran. Ada yang menjual Rp 22 ribu, ada juga hingga Rp 25 ribu. Jika sudah mencari tidak menemukan, maka ia harus bersabar menunggu gas elpiji 3 kilogram kembali ada.

Jika pasokan datang, maka hanya dalam sekejap akan habis diburu. Tidak dalam hitungan jam, bahkan dalam hitungan menit pun habis. Sebab, beberapa hari sebelumnya banyak warga memesan kepada pengecer di warung-warung. Unik bukan? Hanya untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram masyarakat harus inden, seperti hendak membeli mobil keluaran terbaru.

Jika di tingkat eceran tidak tersedia, maka mencari ke pangkalan pun tidak akan menemukan. Coba saja jika penasaran. Paling-paling Anda akan menemukan tulisan di depan pintu, "gas kosong."

Kelangkaan ini ternyata tidak hanya di Kota Bandung, di sejumlah daerah lain di Jabar pun mengalami hal yang sama. Bahkan di Palembang, Sumatra Selatan, dari pemberitaan di televisi pun mengalami kelangkaan. Ah biasa, menjelang puasa Ramadan memang suka menghilang. Demikian komentar sejumlah orang yang dibuat susah karena stok gas di rumah habis. Apakah benar demikian?

Fakta di lapangan memang demikian. Tapi Pertamina maupun pemerintah memastikan pasokan gas elpiji 3 kilogram akan aman hingga memasuki puasa Ramadan. Seperti halnya yang dikatakan Kepala Bidang Dinas Pedagangan dan

Perindustrian Kota Cimahi, Muhammad Sutarno. Ia malah mengatakan kelangkaan tidak mungkin terjadi karena pasokan terus bertambah. Tapi, seorang teman di Cimahi mengatakan saat ini sulit menemukan gas elpiji 3 kilogram.

Dulu ketika kelangkaan gas elpiji 3 kilogram terjadi, ada analisis bahwa hal itu terjadi karena ada migrasi dari pemakai gas ukuran 12 kilogram ke gas 3 kilogram. Apa sebabnya? Ada disparitas harga yang lebar. Gas isi 12 kilogram tanpa subsidi tentu harganya mahal dan beberapa kali mengalami kenaikan. Sementara harga gas elpiji 3 kilogram diperuntukkan bagi masyarakat miskin dijual dengan harga murah dengan tarif di pangkalan Rp 16.500 dan di tingkat eceran menjadi Rp 20.000.

Apakah kelangkaan gas elpiji bersubsisi hari ini juga disebebkan hal yang sama. Bisa jadi iya, ada migrasi pengguna gas elpiji 12 kilogram ke gas elpiji 3 kilogram. Namun penyebabnya bisa berbeda. Apakah karena tarif listrik subsidi dihapus? Mungkin saja. Sejak lama wall di laman Facebook dipenuhi sumpah serapah mahalnya tarif listrik. Di warung- warung kopi pun tak kalah ramai obrolan listrik yang mencekik.

Per 1 Mei 2017, pelanggan listrik golongan 900 Volt Ampere (VA) tak lagi mendapatkan subsidi. Semula tarif per KWH hanya Rp 585 dan pemerintah menanggung Rp 875 per KWH. Setelah subsidi dihapus, tarif menjadi 1.450 per KWH.
Perumahan-perumahan kelas buruh umumnya dibangun dengan listrik 1200 VA. Ketika tarif listrik 1200 VA naik, banyak rumah tangga yang beralih ke 900 VA dengan alasan berat diongkos. Mereka pun mulai belajar berhemat listrik.

Faktor panic buying pun mungkin saja menjadi penyebabnya. Beberapa hari lalu, berembus kabar dari mulut ke mulut, gas elpiji 3 kilogram susah dicari. Maka, warga serentak berusaha mengamankan persediaan. Belum lagi para pedagang yang umumnya memiliki banyak tabung gas elpiji 3 kilogram.

Silakan melapor! Ini respons pemerintah. Tapi banyak yang tak tahu salurannya. Maka, sebaiknya pemerintah dan Pertamina merespons cepat dengan melihat langsung ke lapangan. Mencari tahu penyebab kelangkaan dan menindak tegas pihak-pihak yang berbuat curang untuk mengambil keuntungan dengan memanfaatkan momen menjelang Ramadan. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help