TribunJabar/

Coffee Break

Marissa

DULU, dari sebuah survei yang tidak ilmiah, saya pernah menyimpulkan bahwa kecantikan perempuan berbanding terbalik dengan kecerdasannya

Marissa
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

DULU, dari sebuah survei yang tidak ilmiah, saya pernah menyimpulkan bahwa kecantikan perempuan berbanding terbalik dengan kecerdasannya: perempuan cantik umumnya bodoh dan perempuan cerdas umumnya tidak cantik. Namun makin lama saya makin menemukan banyak fakta yang sebaliknya. Saya kemudian mengakui bahwa banyak perempuan yang cantik dan cerdas sekaligus. Misalnya Marissa Haque.

Sebagai generasi yang tumbuh remaja pada 80-an, saya mengagumi banyak selebritas muda yang tengah naik daun saat itu. Salah satunya Marissa Haque. Dia memiliki kecantikan yang berbeda dari kecantikan perempuan "lokal". Ia berwajah India karena kakeknya berasal dari India. Lebih dari itu, ayahnya, Allen Haque, adalah keturunan Belanda-Prancis, sedangkan ibunya, Nike Suharyah binti Cakraningrat, berasal dari Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Nama lengkapnya Marissa Grace Haque, lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962. Ia menjalani masa kecil berpindah-pindah, yakni dari TK dan SD di Palembang, kemudian pindah ke Jakarta, mengikuti ayahnya yang karyawan Pertamina, serta melanjutkan pendidikan dasarnya di SD Tebet Timur Pagi III. Ia meneruskan pendidikan di SMP Negeri 73, Tebet, lalu di SMA Negeri 8, Bukit Duri. Ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Trisakti dalam bidang hukum perdata. Ia lalu menamatkan studi S2 dalam bidang bahasa anak tunarungu di Universitas Katolik Atma Jaya. Ia juga lulus sebagai magister administrasi bisnis (MBA) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Puncaknya, ia mendapat gelar doktor pada Februari 2012 dari Pusat Studi Lingkungan Institut Pertanian Bogor.

Perjalanannya sebagai artis dimulai saat ia aktif mengisi waktu luangnya dengan menyanyi dan menari dalam sanggar Swara Mahardika pimpinan Guruh Soekarnoputera. Pada 1980 sutradara film M.T. Risyaf menawarkan peran untuk Marissa dalam film Kembang Semusim. Ia meraih Piala Citra sebagai Aktris Pembantu Terbaik di film Tinggal Landas Buat Kekasih (1984), yang disutradarai oleh Sophan Sophiaan.

Ia menikah dengan penyanyi rock Ikang Fawzi pada 1986 dan dikarunai dua orang anak perempuan, Isabella Muliawati Fawzi dan Chikita Fawzi.

Sampai di sini saya sungguh melihat Marissa sebagai contoh perempuan yang sukses baik dalam pendidikan maupun karier. Dapat dihitung dengan jari tangan jumlah perempuan artis yang berhasil meraih gelar doktor. Hanya beberapa gelintir pula pemain film yang sukses merebut Piala Citra. Sudah cantik, bergelar doktor dan peraih Piala Citra pula. Andai saja ia meneruskan karier di bidang pendidikan dan seni, mungkin ia dapat meraih prestasi yang lebih tinggi.

Entah kenapa, pada 2004, ia seperti banting setir ketika mengawali karier politiknya sebagai anggota DPR dari PDI Perjuangan untuk daerah pemilihan Bandung. Namun, karena pencalonannya sebagai wakil gubernur Banten, mendampingi Zulkiflimansyah, kandidat gubernur yang diangkat oleh PKS dan PSI pada Agustus 2006, Marissa dipecat PDI-P dan dikeluarkan dari DPR. PDI-P sendiri mendukung pasangan Ratu Atut Chosiyah dan Mohammad Masduki. Marissa kemudian bergabung dengan PPP pada 7 Oktober 2007. Namun, pada 4 Oktober 2012, ia meloncat lagi untuk bergabung dengan PAN.

Meski karier politiknya diwarnai sejumlah kontroversi, sampai di sini pun orang mungkin masih menilai wajar. Politik adalah rimba yang ruwet dan sulit dipahami orang awam. Jadi, kalau seseorang gagal di politik, bisa saja itu bukan kesalahannya.

Sebagai kader PAN, pada pilpres 2014 Marissa mendukung Prabowo-Hatta Rajasa. Kemudian, pada pilkada DKI 2017, ia mendukung Agus Harimurti-Sylviana Murni, sebelum mengalihkan dukungannya kepada Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Mendukung siapa pun bukan masalah. Itu biasa. Yang menjadi masalah, Marissa selalu mengkritik pedas calon lawannya secara berlebihan. Sekadar contoh, ia pernah menyebut Ahok sebagai "laknatullah". Kata ini bermakna "terkutuk di mata Allah". Ah, seburuk-buruknya seseorang di mata kita, apakah kita berhak menyebut orang itu dilaknat Allah? Bahkan terhadap adik kandungnya sendiri, Soraya Haque, ia tega menyebutnya sebagai "tidak mengerti Alquran" dan "belum mendapat hidayah".

Kalau Anda tidak percaya, cobalah cari di Google atau lihat sendiri akun Marissa di Facebook dan Instagram. Akan Anda dapati banyak postingan Marissa yang, hmmm..., jauh dari gambaran seorang doktor.

Saya masih yakin bahwa banyak perempuan yang cantik dan cerdas sekaligus. Hanya memang, kadang-kadang, ada saja contoh yang justru memperkuat kesimpulan lama saya: bahwa kecantikan perempuan berbanding terbalik dengan kecerdasannya. Contohnya Marissa Haque yang sekarang. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help