TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Beni Setia

Ditinggal Kenangan

SUDAH larut ketika aku naik ke kereta dan berjalan lesu mencari tempat duduk, dan kebetulan dua kursi di hadapan pintu tembus ke gerbong depan.

Ditinggal Kenangan
Ilustrasi Cerpen Ditinggal Kenangan 

--soreang on my mind--

SUDAH larut ketika aku naik ke kereta dan berjalan lesu mencari tempat duduk, dan kebetulan dua kursi di hadapan pintu tembus ke gerbong depan. Tepat di belakang WC, tepat depan lawang bordes, di balik pintu tembus, yang selalu tertutup demi stabilnya suhu ruang ber-AC. Menaruh tas di rak, di atas tempat duduk, menghenyak usai mengeluarkan botol minuman dan kemasan kue kering pabrikan—pengganjal lapar bila nanti terjaga. Nanti—mungkin mendekati Subuh, seperti mau sahur.

Gerbong lengang, banyak kursi kosong, sehingga penumpang bisa acak memilih kursi kosong—seperti aku, leluasa berada di dua tempat duduk gandeng. Menghenyak. Menjulurkan kaki, berselonjor setengah miring, dengan tumit—tanpa sepatu sandal—di sudut belakang kursi depan serta jendela. Terpenjam. Melamun: mendadak telah sampai meski loko baru mengubah pola kecepatan laju dari langsam. Apa dalam satu jam lagi bisa tertidur?

Entah. Mengeluarkan HP. Membuka FB, tanpa tahu akan mencari siapa dan baca apa. Iseng. Sekadar menunggu kantuk. Tapi apakah akan selamat sampai di T?

**

MENURUT trayek, kereta menuju B, dari poin setuntas Magrib akan tiba setelah Subuh. Tapi aku hanya akan turun di T, di tiba mendekati fajar rekah—jadi perjalanan kereta hanya sekitar 3 jam setelah S, serta sekitar 3 jam menjelang B. Seperti dikukuhkan kondektur pemeriksa tiket, yang ramah, yang membikin liang pertanda cek dengan alat mirip staples. Seusainya, setelah menata tiket di saku depan celana jins di dekat dompet—kantong kanan HP. Bersiap buat tidur karena merasa kewajiban penumpang telah dikukuhkan. Memang.

Menguap—meski tidak mutlak mengantuk. Terus terang, ada yang menyesakkan dengan perjalanan kali ini. Keinginan, seharusnya aku terus ke B—sebab telah 14 tahun tak pulang ke S. Dan bila dihitung lebih cermat, itu ada dalam rentangan 15 kali Lebaran, sehingga aku sering mimpi ditugaskan memeriksa keabsahan pembiayaan—sesuai bukti pengeluaran—ke kantor cabang di B. Minimal ke titik kantor lebih jauh dari T dan amat menjelang ke B, sehingga punya kesempatan mencuri waktu untuk mampir di S. Ke tempat 12 tahun, dulu, Ayah ditugaskan—kota kecil, sekitar 25 menit dari B. Tapi, selama 10 tahun ini, sampai sekarang aku hanya ditugaskan di T. Ya!

Sebenarnya selalu ada sisa waktu tiga hari itu buat mampir di S—meski itu memakan waktu tempuh 5 jam—tapi aku tak punya keberanian mencuri kesempatan bebas, sebab tiket selalu mengharuskan pulang di hari keempat bertugas—si tiket pulang telah dibeli, dan itu harus dilampirkan sebagai bukti riil laporan tugas luar. Sialnya, aku selalu merasa sudah harus berada di S pada hari itu—untuk segera menyeberang ke M, untuk di esoknya memeriksa pembukuan kantor cabang P. Dan dari mencuri waktu ke S yang pasti membuat aku lelah—meski dengan mencarter mobil—aku memilih lebih mencuri kesempatan untuk beristirahat di P atau malah di S sebelum menyeberang.

Lagi pula, aku hanya mendapat uang harian tiga hari ada di T, serta tiga hari ada di P; dan harus punya dua bukti tiket ke/dari T serta dua bukti tiket ke/dari P. Yang jumlahnya amat lumayan bagi karyawan bawahan seperti aku.

**

Halaman
12
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help