TribunJabar/

Melestarikan Amanat Astana Gede Kawali yang Telah Menjadi Obyek Wisata

ASTANA Gede di Ciamis utara dikenal sebagai bekas pusat pemerintahan Kerajaan Galuh sekitar abad ke-14 Masehi.

Melestarikan Amanat Astana Gede Kawali yang Telah Menjadi Obyek Wisata
KOMPAS/DEDI MUHTADI
Mata air Cikawali di situs purbakala Astana Gede, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, dikenal warga setempat sebagai bagian dari bekas pusat pemerintahan Sunda-Galuh pada abad ke-14 Masehi. Mata air itu dipercaya sebagai petilasan pemandian putri Raja Galuh, Diah Pitaloka, yang gugur pada perang Bubat. 

TRIBUNJABAR.CO.ID - ASTANA Gede di Ciamis utara dikenal sebagai bekas pusat pemerintahan Kerajaan Galuh sekitar abad ke-14 Masehi.

Di situs purbakala yang terletak di lereng timur Gunung Sawal itu ditemukan enam prasasti, tiga di antaranya berisi amanat karuhun (leluhur) Galuh yang dipelihara dan dilestarikan warga Tatar Galuh (Ciamis) hingga kini.

Peristiwa Pasundan Bubat dituturkan dalam naskah kuno Kitab Pararaton dan Kidung Sundayana. Perang itu terjadi pada masa Pemerintahan Prabu Maharaja Linggabuana atau Raja Sunda-Galuh yang berpusat di Astana Gede, Kawali.

Kala itu rombongan Kerajaan Sunda-Galuh mengantar putri Diah Pitaloka yang dipinang Raja Majapahit Hayam Wuruk.

Saat rombongan sampai di Bubat, Mahapatih Gajah Mada menyatakan bahwa utusan itu merupakan upeti penaklukan. Utusan yang dipimpin Raja Linggabuana menolak disebut sebagai upeti penaklukan sehingga terjadi perang Bubat yang mengakibatkan raja dan putrinya gugur.

”Kisah ini juga tertulis dalam naskah Wangsakerta, tetapi belum semua ahli sejarah mengakui keasliannya,” kata penulis Astana Gede Kawali, Djadja Sukardja (2002).

Naskah kuno Negarakertagama tidak menuliskan soal perang Bubat. Cerita perang Bubat, menurut Djadja, diduga merupakan bagian dari alat penjajah untuk mengadu domba suku-suku di Hindia Belanda.

Terlepas dari kontroversi perang Bubat, Kompleks Astana Gede berikut prasasti peninggalannya masih terpelihara dan dilestarikan oleh masyarakat hingga sekarang.

Bekas pusat pemerintahan Kerajaan Sunda-Galuh yang diteliti oleh pemerintah kolonial Belanda ini terletak di Desa/Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Situs purbakala yang berada di ketinggian 400 meter di atas permukaan laut ini berlokasi di areal hutan lindung seluas 5 hektar di lereng timur Gunung Sawal.

Halaman
123
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help