TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Teguh Affandi

Rio Menjadi Serangga

SAAT mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku.

Rio Menjadi Serangga
Ilustrasi Cerpen Rio Menjadi Serangga 

SAAT mata terbuka, kesadaran saya hanya mengingat bahwa saya memang dilahirkan sebagai kutu buku. Saya bukan pegawai rendahan yang oleh mantra Kafka kemudian menjadi kecoa. Juga bukan penulis muda yang oleh sihir Murakami dijadikan kambing yang dari perutnya beterbangan kunang-kunang. Saya kutu buku sedari dulu.

Di salah satu kios buku bekas, saya tinggal di antara lipatan-lipatan buku. Saya mencium dan kadang menemukan banyak kawan saya sesama kutu buku sekadar hidup dan makan. Lahir sebagai kutu buku adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Namun menjadi kutu buku bodoh, sekadar menggeripisi halaman demi halaman buku, dan menanti ajal mengundang adalah pilihan.

Di salah satu halaman ensiklopedia yang saya baca, serangga-serangga kecil seperti saya hidupnya tak lebih lama dari masa tanam pohon jagung. Bahkan bisa lebih pendek kalau wanita pemilik kios ini menyemprotkan obat antiserangga, memberi kapur barus, atau dengan kejinya menginjak tubuh-tubuh kami yang kecil hingga keluar semua isi perut kami.

Maka dari itu, saya ingin berkisah tentang bagaimana Tuhan dengan begitu senonoh menanamkan rasa cinta kepada saya. Cinta, baik di serangga maupun manusia, sama saja. Dia datang tiba-tiba dan kerap menggelapkan mata. Tapi berkat cinta juga, tubuh saya kerap memanas ketika yang saya cintai menampakkan wajahnya.

Saya bukan jatuh cinta kepada pemilik kios buku bekas saya. Dia seorang wanita tua yang bila tak ada pembeli datang akan tertidur sambil duduk di kursi plastik. Mendengkur dan sesekali saya saksikan tetesan liur membasahi blus hingga rok. Saya tak akan menyukai manusia yang tak pernah menghitung hari seperti dia.

Saya jatuh cinta kepada Rio. Saya tidak tahu nama lengkapnya. Saya juga sedikit ragu apakah nama itu benar namanya sungguhan atau sekadar nama asal yang ditemukan wanita tua penjaga kios buku.

Jam 9 lebih sedikit, hari Selasa, karena saya ingat dua hari sebelumnya gereja yang tak jauh dari pasar buku loak ini melantunkan senandung misa yang damai. Wanita tua itu diserang kantuk pagi. Kepalanya berkali-kali terantuk dengan dadanya sendiri.

Seorang lelaki mengangkat sebuah buku tua. Saya tahu buku itu tak pernah dipegang karena tak menimbulkan minat, dan dua kawan saya sesama serangga telah membuat lubang di seratus halaman terakhir. Tak banyak, tapi sudah cukup membuat buku itu cacat. Dia membuka-buka beberapa halaman dan kemudian terbatuk lantaran debu yang terselip di antara halaman-halamannya.

Suara batuknya mengagetkan wanita penjaga kios buku bekas.

"Nyari apa, Nak?" tanya wanit penjaga kios buku.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help