TribunJabar/

Ikon Petualang Alam Liar: Gunung Parang Cartenznya Purwakarta

Ikon petualang alam liar Indonesia Cahyo Alkantana menyebut Gunung Parang sebagai Puncak Cartenz-nya Purwakarta

Ikon Petualang Alam Liar: Gunung Parang Cartenznya Purwakarta
tribunjabar/mega nugraha
Wisatawan menyambangi Gunung Parang di Kampung Cihuni Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta, Senin (24/4). 

PURWAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Ikon petualang alam liar Indonesia Cahyo Alkantana menyebut Gunung Parang sebagai Puncak Cartenz-nya Purwakarta. Puncak Cartenz berada di ketinggian 4080 mdpl di Pegunungan Jayawijaya, Papua dan dikenal bersalju

"Jadi pertama saya dengar Gunung Parang, kalau di petualangan rock climbing adalah seperti Cartenz-nya (Purwakarta). Sangat spektakuler karena ketinggiannya 500 hinggaa 600 meter," kata Cahyo ditemui di area Gunung Parang, Kampung Cihuni Desa Sukamulya Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta, Senin (24/4).

Menurutnya, Gunung Parang dengan ketinggian total 980 meter di atas permukaan laut (mdpl), dinding tebingnya sangat representatif karena batuannya kokoh sehingga tidak ada fenomena batu roboh. Karenanya, cocok digunakan petualangan via verrata atau memanjat tebing gunung dengan tangga.

"Jadi ini sangat adventurer. Ada operatornya dan bisa memanjat hingga ketinggian 300 meter hingga 900 meter. Anak SD kelas 5 hingga orang tua tapi sehat bisa naik," kata Cahyo.

Selain Indonesia, via verrata juga ada di Kinabalu Malaysia. Hanya saja, Gunung Parang menurutnya sangat representatif karena di Kinabalu, akses menuju track memanjat cukup sulit.

"Disini anda tinggal parkir, jalan lima menit langsung bisa manjat. Apalagi, Gunung Parang berada di Purwakarta ini ada di tengah-tengah Jakarta dan Bandung," kata dia yang membuka pertama kali Gua Pindul, di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta itu.

Ia menambahkan,wisata petualangan via verrata termasuk wisata petualangan khusus dan rata-rata diminati wisatawan asing. Meski representatif, perlu standarisasi untuk keamanan.

"Untuk beraktifitas spesial interest tourism harus ada pendekatan safety. Harus bersertifikat dari Badan Nasional Standarisasi Profesi (BNSP). Guidenya enggak bisa sembarangan asal bisa manjat saja," ujar Cahyo.

Soal pengembangan wisata ke depan, Cahyo menambahkan para pengelola termasuk pemerintah harus memanfaatkan istilah "memancing di kolam tetangga".

"Jakarta itu tempatnya para ekspatriat dan banyak wisatawan datang ke Bandung. Karena Purwakarta berada di tengah Bandung dan Jakarta, maka itu harus dimanfaatkan," ujar Cahyo. (men)

Penulis: men
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help