TribunJabar/

Di Hari Kartini, Wanita Fatayat NU Sarasehan Pencegahan Terorisme

Ratusan wanita yang tergabung dalam Fatayat NU berkumpul di Hotel Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jumat (20/4/2017).

Di Hari Kartini, Wanita Fatayat NU Sarasehan Pencegahan Terorisme
TRIBUN JABAR/TEUKU MUH GUCI S
Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius, menjadi narasumber dalam acara sarasehan pencegahan paham radikalisme dan terorisme di Hotel Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jumat (21/4/2017). Acara itu diikuti ratusan wanita yang tergabung dalam Fatayat NU. 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Ratusan wanita yang tergabung dalam Fatayat NU berkumpul di Hotel Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Jumat (20/4/2017). Mereka berasal sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Informasi yang dihimpun Tribun, Fatayat NU menggelar sarasehan pencegahan paham radikalisme terorisme bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Kegiatan yang digelar pada hari peringatan RA Kartini itu dihadiri Ketua Umum Fatayat NU, Anggia R Marini, Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius, dan perwakilan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kolonel Sujatmiko, Kasubdit Was dan KP BNPT, mengatakan, kegiatan itu untuk menggalang pencegahan paham radikalisme dan terorisme di kalangan wanita. Kegiatan itu juga membangun daya tangkal kaum wanita terhadap bahaya radikalsime dan terorisme.

"Kaum wanita juga harus melindungi anak-anaknya dari paham radikalisme. Kita tdak boleh kalah," kata Sujatmiko.

Anggia mengatakan, terdapat 21 ribu pimpinan anak cabang (PAC) di seluruh Indonesia. Menurutnya, angka itu merupakan potensi yang luar biasa untuk menjadi sarana untuk mencegah paham radikalsime dan terorisme.

"Kami berharap perempuan NU siap memberikan energinya untuk Indonesia," kata Anggia.

Isu terorisme, ujar Anggia, memang sudah membidik kalangan perempuan dan anak-anak. Ia mengatakan, sudah banyak data soal keterkaitan anak dibawah umur menjadi pengantin bom bunuh diri.

"Ada pengantin bom bunuh diri yang masih berusia 16 tahun," ujar Anggia.

Selain itu, kata dia, seorang wanita asal Bekasi mencoba untuk mengebom Istana. Beberapa waktu lalu, kata dia, juga terdapat wanita yang dideportasi di Taiwan karena diduga terlibatdengan ISIS.

"Jadi sangat tepat sekali kalau Fatayat NU diajak mencegah paham terorisme dan radikalisme yang juga sudah membidik perempuan dan anak," kata Anggia.

Anggia berharap, Fatayat di lapangan mampu mendeteksi paham atau gerakan yang membahayakan negara. Maka dari itu, pihaknya meminta instansi terkait memberikan ketrampilan tambahan terhadap Fatayat dalam mendeteksi gerakam radikalisme dan terorisme.

"Ini tantangan kami, kami harus mampu karena punya struktur sehingga bisa menjadi fasilitator di masyarakat," ujar Anggia. (cis)

Penulis: cis
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help