TribunJabar/

Festival Bela Diri Dunia Kembali Digelar di Purwakarta

Festival Bela Diri Dunia kembali digelar di Situ Buleud Jalan Singawinata bersamaan dengan pertunjukan Air Mancur Sri Baduga

Festival Bela Diri Dunia Kembali Digelar di Purwakarta
ISTIMEWA/Dok Hamas Purwakarta
Tampilan air mancur Sri Baduga dari udara saat peresmian tahap III, Sabtu (19/2/2017). 

PURWAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID -- Festival Bela Diri Dunia kembali digelar di Situ Buleud Jalan Singawinata bersamaan dengan pertunjukan Air Mancur Sri Baduga, Jumat (21/4/2017. Pencak Silat sebagai bela diri tradisional turut ditampilkan.

Festival itu digelar yang kedua kali. Tahun lalu, penampilan Iko Uwais memukau ribuan warga yang memadati Situ Buleud. Saat itu, festival dihadiri sejumlah delegasi dari beberapa negara.

Pun demikian kali ini. Hanya saja, petinju Chris John didapuk jadi pengisi acara utama pada gelaran tahun ini. Sejumlah ilmu bela diri tradisional Indonesia juga akan ditampilkan dalam ajang ini.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memiliki harapan tersendiri terkait penyelenggaraan kegiatan ini. Saat ditemui hari ini Kamis (20/4) di Gedung Negara, pria yang kini gemar mengenakan kemeja putih dan peci hitam tersebut mengatakan ingin membuat pencak silat sebagai karya seni bela diri anak bangsa agar mendunia.

“Temanya kan Pencak Silat Mendunia, kami ingin mendorong agar pencak silat sebagai khazanah bela diri Indonesia diakui dunia,” ujarnya.

Dedi sempat mengungkapkan makna yang terkandung dari kata “Pencak” dalam Pencak Silat. Menurut dia, Pencak berasal dari kata “Panca” yang termaknai sebagai lima falsafah yang harus dipegang oleh para pendekar. Kelima falsafah tersebut adalah penyerahan diri kepada Tuhan, hormat kepada sesama hidup, cinta tanah air, keteguhan diri dan semangat membangun persaudaraan.

“Jadi bukan untuk berkelahi, tapi para pendekar harus memiliki falsafah itu,” katanya.

Jawa Barat (Jabar) dan Purwakarta lanjut Dedi, memiliki varian pencak silat yang khas. Jawa Barat memiliki jenis Pencak Silat dari Garut dan Pangandaran yang sudah terkenal, sementara Purwakarta memiliki jurus-jurus Paleredan dan Syahbandar dari Wanayasa, sebuah daerah di ujung selatan Purwakarta.

“Ini semuanya akan ditampilkan saat acara, kami siapkan panggung untuk performance art-nya. Nanti ada juga penampilan bela diri taekwondo yang dibawakan oleh anak-anak pesantren,” kata Dedi.

Sejumlah ahli bela diri dari Indonesia, Amerika Serikat, Brunei Darussalam, Belanda, Swiss, Maroko, Italia dan Tiongkok akan unjuk gigi dalam ajang itu.

Bela diri pencak silat Cimanda juga akan unjuk gigi di ajang itu. Selama ini, Silat Cimande dikenal sebagai silat tertua di Indonesia yang dibawa ole Abah Khaer. Ahli bela diri Cimande, Atang Kosasih (50) mengaku bangga bisa dilibatkan dalam ajang ini.

"Ini kebanggan karena kami turut dilibatkan di ajang internasional ini," ujar Atang.

Menurutnya, ajang internasional yang lebih mengedepankan performance art akan lebih menarik. Apalagi, bersanding dengan para ahli bela diri dari negara lain.

"Tentu saja jadi pengalaman menarik, bagi kami, ajang seperti ini untuk menduniakan Silat Cimande," kata Atang. (men)

Penulis: men
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help