TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Dadang Ari Murtono

Meninggalkan Semut di Masjid

Ali si bilal bersumpah bahwa ia melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman masjid wakaf yang ditinggalkan Kiai Haji Alim Alimin.

Meninggalkan Semut di Masjid
Ilustrasi Meninggalkan Semut di Masjid 

HUJAN turun.

Butiran-butiran air sebesar biji jagung menghajar genting dan ranting, pohon dan kebun, dan memaksa orang-orang menyembunyikan diri mereka dalam rumah masing-masing. Angin buruk berembus. Tiang listrik di ujung gang bergoyang-goyang. Tiga dahan besar pohon trembesi di pinggir jalan patah dan melintang dari tepi ke tepi yang lain. Itu adalah salah satu sore terburuk di sepanjang tahun 1987. Di antara guyuran hujan dan deru angin yang semakin menggila, samar-samar, terdengar entakan kaki yang diayunkan dengan berat. Itu adalah langkah dari seorang lelaki dengan jaket tebal usang. Ia mengenakan fedora dengan tiga tambalan dan kacamata hitam. "Tak ada tempat berteduh," ia menggumam. Dan ia terus berjalan. "Seperti juga tak ada tempat sembunyi dari maut jika memang waktunya sudah tiba," ia kembali menggumam, kali ini sambil mengetatkan jaketnya. Di balik jaket itu, seekor semut diam dalam saku bajunya, basah tapi aman. Seekor semut yang ia pungut dari jatuhan dahan trembesi. "Tapi waktunya belum tiba bagimu."

**

EMPAT puluh hari setelah Kiai Haji Alim Alimin wafat dalam damai pada usia sembilan puluh satu, Ali si bilal bersumpah bahwa ia melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman masjid wakaf yang ditinggalkan Kiai Haji Alim Alimin. "Tapi ia bukan manusia," ujar Ali si bilal dengan napas tersengal. "Sungguh, demi Allah," lanjutnya.

Mak Ijah si pemilik warung mengangsurkan gelas berisi air putih yang segera ditandaskan Ali. Ia tampak masih kesusahan mendapatkan kendali penuh atas dirinya sendiri. Hari itu Jumat. Dan tak ada satu pun penduduk di sana yang ingat menunaikan salat Jumat hari itu.

"Seperti kalian tahu, aku datang pukul setengah sebelas seperti biasanya untuk menyiapkan segala keperluan salat Jumat. Tidak ada yang aneh. Pintu depan masih terkunci. Pagar tertutup tapi tidak dikunci. Semua seperti biasa. Aku masuk seperti biasa. Aku membuka pintu depan seperti biasa. Dan aku melihat makhluk itu. Aku melihat makhluk itu."

"Seperti apa makhluk itu?" seseorang bertanya.

"Penuh bulu. Dan besar. Dan kakinya banyak. Aku tak tahu jumlah pastinya. Tapi banyak. Dan ia sangat hitam."

"Apa kau tidak bermimpi?"

"Aku bersumpah. Demi Allah."

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help