TribunJabar/

Coffee Break

Ayo Perang Melawan Koruptor

Dengan catatan seperti itu, memang para koruptor akan gerah dan marah terhadap Novel, tapi tidak berani berhadapan secara terang-terangan.

Ayo Perang Melawan Koruptor
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

HAMPIR dua tahun lalu saya menulis di kolom ini dengan judul "Novel". Alinea pertama tulisan itu berbunyi, "Andai saja masih hidup, Abdurrahman Baswedan mungkin saja menangis mengetahui bagaimana proses penangkapan oleh polisi terhadap salah satu cucunya, Novel...."

Waktu itu Novel Baswedan, penyidik senior KPK, ditangkap polisi ketika sedang tidur di rumahnya, dini hari. Tangannya diborgol dengan tali plastik putih. Sebuah media menggambarkan penangkapan itu melalui berita utama halaman muka dengan judul "Novel Ditangkap Seperti Teroris". Novel ditangkap polisi gara-gara perkara lama saat ia menjadi kepala Satuan Reserse Kota Bengkulu pada 2004. Selama bertahun-tahun kasus itu dianggap selesai, tapi kemudian diungkit kembali pada 2012 saat KPK menyelidiki kasus simulator kemudi. Kasus yang sama diungkit lagi tak lama setelah KPK menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka perkara suap dan gratifikasi.

Kini saya ingin menulis lagi kalimat yang serupa: "Andai saja masih hidup, Abdurrahman Baswedan, pahlawan nasional itu, mungkin saja menangis lagi mengetahui sang cucu disiram wajahnya dengan air keras sepulang dari salat Subuh di masjid dekat rumahnya." Namun, pada saat yang sama saya juga membayangkan begini: "Kalau saja masih hidup, Abdurrahman Baswedan sangat mungkin akan bangga terhadap salah cucunya yang satu ini, yang sudah memberikan karya nyata bagi bangsa Indonesia."

Saya pernah sekali bertemu dengan Novel dan berbincang barang lima atau sepuluh menit dalam sebuah kesempatan di Jakarta. Kesan pertama saya: dia orang sederhana, berwajah ramah dan murah senyum, jauh dari kesan garang, dan bicaranya pelan. Namun, jika sudah berhadapan dengan koruptor, ia akan bertindak tanpa tedeng aling-aling.

Novel memang salah satu penyidik KPK dengan kategori par excellence—paling unggul. Sebagai penyidik, ia selalu diandalkan KPK dalam menuntaskan kasus korupsi skala besar. Ia tercatat sebagai penyidik kasus korupsi Wisma Atlet yang menyeret M. Nazaruddin. Ia juga yang menahan Angelina Sondakh dalam kasus suap soal penganggaran di Kemenpora dan Kemendikbud; menjebloskan Nunun Nurbaeti, istri mantan wakapolri Adang Daradjatun, ke penjara; menyidik kasus suap penganggaran pengadaan kitab suci Alquran dengan tersangka legislator Partai Golkar Zulkarnaen Djabar; berperan aktif dalam penangkapan Bupati Buol Amran Batalipu, yang saat itu tertangkap tangan menerima uang Rp 3 miliar dari Yani Anshori, manajer PT Hardaya Inti Plantations; menjadi ketua satuan tugas penyidikan kasus simulator SIM Korlantas Mabes Polri yang menyeret Irjen Djoko Susilo dan belakangan berperan membawa Komjen Budi Gunawan menjadi tersangka kasus kepemilikan "rekening gendut"; dan yang terakhir menjadi penyidik kasus e-KTP.

Dengan catatan seperti itu, memang para koruptor akan gerah dan marah terhadap Novel, tapi tidak berani berhadapan secara terang-terangan. Banyak kalangan yang menduga bahwa otak penyiraman dengan air keras itu adalah (para) koruptor, yang merasa terganggu oleh sepak terjang Novel. Dugaan seperti itu memang masuk akal. Jika benar, sudah pasti mereka tidak akan berani beradu muka dengan Novel; mereka hanya bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya.

Dilihat secara lebih luas, penyerangan terhadap Novel dapat dimaknai sebagai upaya pelemahan terhadap KPK. Dan peristiwa ini hanya salah satu dari sekian banyak upaya pelemahan terhadap lembaga antirasuah itu. Para koruptor pun tampaknya tidak pernah berhenti melakukannya, dengan berbagai cara. Satu cara yang beberapa kali dilakukan adalah kriminalisasi. Pada 2009 Ketua KPK Antasari Azhar didakwa melakukan pembunuhan, lalu dijebloskan ke penjara. Gara- garanya, diduga kuat, ia memenjarakan sejumlah tokoh penting karena kasus korupsi. Tak lama kemudian, dua pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah, ditahan polisi dalam kasus dugaan penyalahgunaan kewenangan. Beberapa tahun kemudian, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto, dua pimpinan KPK era berikutnya, juga tersandung kasus yang membuat mereka ditahan polisi dan terpaksa melepaskan jabatan di KPK. Belakangan, mereka dibebaskan dengan alasan masing-masing.

Selain dengan Novel, saya merasa beruntung pernah bertemu dan berbincang dengan Abraham Samad, Ketua KPK periode 2011-2015. Saya ingat salah satu pernyataannya: "Saya sedih ketika para pemimpin KPK dikriminalisasi. Itu menjadi antiklimaks penegakan hukum. Saya kasihan kepada negeri ini, yang tidak memberikan ruang leluasa bagi pemberantasan korupsi.... Mereka menganggap jika saya sudah terjegal, maka upaya pemberantasan korupsi akan melemah."

Sejalan dengan pernyataan Abraham, boleh jadi para koruptor itu menganggap, jika Novel Baswedan sudah terjegal, upaya pemberantasan korupsi akan melemah.

Saya yakin mereka keliru. Perang terhadap para koruptor akan terus bergolak, bahkan akan makin gencar. Saya yakin. (*)

Penulis: her
Editor: her
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help