TribunJabar/

Kuliner

Wow . . . Nikmatnya Sate Jando Bikin Konsumen Harus Antre

Sate Jando sudah lama eksis di Bandung. Mulanya, sate yang kini dijual di pinggir jalan ini adalah . . .

Wow . . . Nikmatnya Sate Jando Bikin Konsumen Harus Antre
ISA RIAN FADILAH
Sate Jando sudah lama eksis di Bandung. 

Laporan Isa Rian Fadilah

TRIBUNJABAR.CO.ID - JIKA Anda berjalan menyusuri trotoar di Jalan Cimandiri Bandung tepat di belakang Gedung Sate pada Minggu pagi, jangan kaget melihat antrean mengular panjang. Banyak orang rela menunggu lama untuk bisa menikmati lezatnya Sate Jando.

Menurut Sri Rejeki, pemilik Sate Jando, di hari Minggu ada pelanggan yang berbaris sampai satu jam demi bisa menyantap Sate Jando. Hanya dengan mencoba Sate Jando, Anda baru bisa mengerti dan memaklumi mengapa banyak orang bersabar mengantre selama itu.

"Saya juga sering kehabisan. Kalau Minggu orang baris bisa sampai 10 meter," ujar pembeli Sate Jando, Rani, kepada Tribun, sembari menunggu pesanan.

Sate Jando sudah lama eksis di Bandung.
Sate Jando sudah lama eksis di Bandung. (ISA RIAN FADILAH)

Alasan Rani kerap membeli Sate Jando tak lain karena rasanya. Dagingnya yang tebal dan berlumur bumbu sebelum dibakar membuatnya begitu menyukai Sate Jando.

"Enak, saya sukanya Sate Jando saja. Kalau Minggu saya rela nunggu meski lama. Ya memang sih kalau Minggu antre panjang karena suka ada yang olahraga di Gasibu beli sate di sini," ujar pembeli lainnya, Sella, seraya mengatakan dirinya adalah pelanggan setia Sate Jando.

Sate Jando sudah lama eksis di Bandung. Mulanya, sate yang kini dijual di pinggir jalan ini adalah sate gendong. Pertama kali dijajakan oleh Katemi, ibu dari Sri Rejeki, 25 tahun yang lalu dengan berkeliling di sekitar Bandung.

Ada tiga macam sate yang bisa dipilih di sini, yaitu sate ayam, sapi, dan payudara sapi. Nama Jando berasal dari konsumen yang sering menyebut sate payudara sapi tersebut jando. Seporsi sate berisi 10 tusuk termasuk lontong yang disajikan dengan daun pisang. Sate disiram bumbu kacang yang sangat kental, kecap, dan sambal. Seporsi sate bisa dibanderol Rp 22 ribu.

Sri mengatakan, daging sate tanpa bumbu kacang sudah mengandung rasa lantaran sebelum dibakar daging sate dilumuri bumbu kuning yang dibuat dari jahe, kunir, sirih, dan rempah lainnya.

Kabar tentang rasanya yang lezat membuat banyak orang terpikat. Pernah di suatu Minggu, 2.000 tusuk sate ludes hanya dalam waktu empat jam. Saat itu, Sate Jando mulai buka pukul 05.00 dan sudah tak tersisa pukul 09.00. Selain Minggu, normalnya sate sudah terjual habis pukul 12.00.

"Pernah ada juga pembeli yang marah-marah karena ada orang yang langsung pesan saja ke depan, padahal banyak yang ngantre," kata Sri Rejeki.

Bumbu kacang Sate Jando berbeda dengan sebagian besar bumbu kacang yang biasa dipakai sate. Teksturnya sangat kental. Rasanya begitu kuat. Tak sedikit pembeli yang meminta tambah bumbu kacang. "Bumbu kacang ini asli kacang sama cabai tanjung, tanpa aron atau ubi," ucapnya.

Khusus Minggu, ada delapan karyawan dengan dua alat panggang sate dipersiapkan. Selain Minggu, hanya ada satu alat panggang dan lebih sedikit karyawan. (ee)

Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help