Kuliner

Ada Nasi Goreng dalam 'Peti Mati' dan Bakso Hitam di Kafe Ini

Tak hanya itu, menu-menu lain pun dibuat seram dengan nama-nama seperti kuntilanak dan . . .

Ada Nasi Goreng dalam 'Peti Mati' dan Bakso Hitam di Kafe Ini
ISTIMEWA
Nasi goreng gentayangan 

Laporan Isa Rian Fadilah

TRIBUNJABAR.CO.ID - SUDAH pernah mencoba nasi goreng yang disajikan di dalam 'peti mati'? Nasi goreng dengan konsep unik ini bisa dinikmati di I Coffee, Jalan Sulanjana No 5, Bandung.

Bentukan 'peti mati' yang digunakan sebagai pengganti piring ini dibuat dari keramik dipadu dengan hiasan muka-muka seram. Di dalamnya tersaji nasi goreng dengan topping ayam dan telur asin.

Tak hanya itu, menu-menu lain pun dibuat seram dengan nama-nama seperti kuntilanak dan buto ijo. Khusus nasi goreng buto ijo, nasi gorengnya berwarna hijau yang berasal dari sayur bayam.

Nasi goreng ini tentunya bisa memberikan pengalaman baru. Apalagi di zaman sekarang di mana orang begitu hobi membagi foto-foto unik ke media sosial. Adanya nasi goreng gentayangan, kebutuhan pelanggan untuk selalu eksis di medsos dengan foto-foto unik bisa terpenuhi.

Layaknya makanan zaman sekarang, nasi goreng gentayangan pun memiliki tingkat kepedasan berbeda, mulai level 1 hingga 10.

Di I Coffee, Anda pun bisa mendapat sajian yang tak kalah unik lainnya, yakni bakso hitam. Bakso bakso hitam terbuat dari daging sapi dan pare yang dibakar, jadi seperti arang. Nama lainnya adalah arang jepang.

Bakso disajikan seperti bakmi, dengan suwir ayam yang ditaburkan di atas mi. Agar terjamin higienitasnya, mi pun diproduksi sendiri.

"Saya background-nya kan catering. Zaman sekarang ini dituntut kreatif. Jadi saya buat nasi goreng gentayangan dan bakso hitam yang berbeda dari yang lain," ujar pemilik I Coffee, Mutia Okviana, saat ditemui di kafenya, kemarin.

Bakso hitam mengadopsi resep bakso Tasikmalaya. Hanya warnanya yang dikreasikan menjadi hitam. Anda pun bisa menikmati bakso hijau di sini yang terbuat dari sayuran. Nasi goreng dan bakso hitam bisa dinikmati dengan harga yang sama, Rp 20 ribu.

Dengan tempat yang instagrammable, I Coffee mampu menarik banyak pelanggan dari berbagai kalangan. Ada dua konsep tempat, yakni vintage dengan kursi dan meja kayu dan beberapa dekorasi menarik seperti motor Vespa yang dipasang di dinding.

I Coffee beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 23.00.

Tempat Pengusaha UKM Berkiprah
I Coffee menjadi rumahnya para UKM. Mutia sengaja membuat kafe yang memfasilitasi para UKM memasarkan produk-produknya.

"Saya buat kafe supaya produk-produk UKM bisa naik kelas. Tentunya dengan konsep kafe yang kekinian," ujar Mutia yang juga menjadi pengurus Asosiasi Pemasar Produk UKM Jawa Barat.

I Coffee menjadi tempat berkumpul para UKM untuk belajar. Mereka berlatih membatik dua kali dalam seminggu di sini.

"Nanti kafe ini jadi one stop shopping. Makanan-makanan atau busana, dan aksesori para anggota disimpan di sini. Anggota dilatih, distandardisasi dulu produknya," ucapnya. (ee)

Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: ddh
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help