Diseminasi Geopark Perlukan Sistem Komunikasi Pembelajaran Integral

Diseminasi geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi guna menjadi geopark global memerlukan sistem komunikasi pembelajaran terpadu.

Diseminasi Geopark Perlukan Sistem Komunikasi Pembelajaran Integral
tribunjabar/siti fatimah
Dewi K. Soedarsono, PIC Tim Geopark Ciletuh dari Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University sedang mempresentasikan materi komunikasi pembelajaran di Aula Setda Kabupaten Sukabumi. 

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID -- Diseminasi geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi guna menjadi geopark global memerlukan sistem komunikasi pembelajaran terpadu.

Dewi K. Soedarsono, PIC Tim Riset Geopark dari Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi Bisnis Telkom University (TelU) mengatakan, geopark bisa menjadi global dengan sinergi kalangan akademik.

"Namun musuh kita semua sekarang, kita ketahui bersama adalah gadget. Siswa mudah teralihkan, kita harus mengajar dengan menarik," katanya di sela-sela Sosialisasi ke 300 Kepsek-Guru Kawasan Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu di Aula Setda Kabupaten Sukabumi, Pelabuhan Ratu, dalam rilis yang diterima Tribun, Selasa (11/4/2017).

Untuk menarik atensi siswa, kata dia, ada dua tips. Pertama, mengajarlah dengan pendekatan 5W dan 1 H. What yakni memilih satu tema menarik, jangan semua diajarkan ke siswa karena bisa tidak efektif.

"Who itu kebiasaan tiap sekolah beda jadi perlu pendekatan beda, untuk where adalah mau cerita dimana, di dalam kelas apa aula atau lapangan sekolah. When adalah lihat jam berapa materi diberikan, kalau jam istirahat, maka tak bisa panjang lebar," katanya.

Dewi mengatakan, Why itu menjelaskan mengapa materi ini penting diketahui siswa sementara how menekankan teknik komunikasi. Misalnya untuk anak SD, maka teknik mendongeng (story telling) yang harus dikedepankan.

"Dan tips kedua adalah lakukan metode KISS, yakni Keep It Short and Simple. Materi harus singkat padat dan disajikan secara menarik. Makin panjang itu makin tidak mengerti. Jadi, dua tips inilah yang membentuk sistem komunikasi pembelajaran integral," katanya.

Selain Dewi, hadir pula Wakil Dekan Fakultas Komunikasi Bisnis TelU Ade Irma Susanti serta sejumlah dosen dari Prodi Ilmu Komunikasi dan Profi Administrasi Bisnis.

Di tempat sama, Ketua Pusat Penelitian Geopark dan Kebencanaan Geologi Unpad, Prof. Mega Fatimah Rosana, PhD., mengatakan, unsur akademik sangat penting dalam peneguhan posisi geopark Ciletuh dan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi.

"Kita sekarang sudah dapat dua geopark nasional dari Unesco. Pertama geopark Ciletuh per 22 Desember 2015 dan geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu per 21 Juni 2016. Sekarang mengejar geopark global, itu perlu dorongan akademik," katanya.

Geopark tersebut terdiri atas 8 kecamatan, 74 desa, seluas 126 hektar, dengan bentuk amfiteater (bentang alam setengah lingkaran) dengan luas 15 km.

Menurut Mega, Unesco sebagai badan dunia PBB bidang pendidikan dan budaya, maka perlu diyakinkan dengan adanya riset akademik serta publikasi internasional dari perguruan tinggi terkait Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu.

Di sisi lain, belajar dari sejumlah lokasi calon geopark global di tanah air, ada yang gagal karena diseminasi geopark belum maksimal oleh para pemangku kepentingan.

"Indonesia sekarang baru punya dua geopark nasional yakni Batur Bangli di Bali dan Gunungsewu Jating. Geopark Merangi Jambi dan Kaldera Toba sudah diajukan tiga tahun lalu tapi belum lolos. Bahkan di Rinjani, gagal geopark global itu karena belum masuk kurikulum pendidikan dasar menengah. Maka itu, acara ini kami gempur ke para pendidik agar masuk muatan lokal," katanya. (tif)

Penulis: tif
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help