Banjir

Kerap Dilanda Banjir, Para Guru SDN 7 dan 10 Dayeuhkolot Sambut Positif Usulan Relokasi

Guru kelas enam SDN 10 Dayeuhkolot, Dadang Mahya, mengatakan banjir kerap terjadi ketika terjadi hujan deras

Kerap Dilanda Banjir, Para Guru SDN 7 dan 10 Dayeuhkolot Sambut Positif Usulan Relokasi
TRIBUN JABAR/Yudha Maulana
Murid SDN 7 Dayeuhkolot belajar di rumah warga karena sekolah mereka masih terendam oleh banjir, Senin (9/4/2017). 

DAYEUHKOLOT, TRIBUNJABAR.CO.ID - Guru-guru Sekolah dasar negeri (SDN) 7 dan 10 Dayeuhkolot menyambut posItif usulan dari Bupati Bandung, Dadang M Naser yang berencana untuk merelokasi sekolah mereka di Kampung Bolero, Desa dan Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Kedua sekolah tersebut kerap disergap banjir ketika Sungai Citarum meluap, sebab, lokasinya yang berada di bantaran sungai. Pantauan Tribun, letak kedua sekolah tersebut hanya berada 20 meter dari bibir sungai.

Guru kelas enam SDN 10 Dayeuhkolot, Dadang Mahya, mengatakan banjir kerap terjadi ketika terjadi hujan deras di wilayah hulu Citarum, yakni di wilayah Gunung Wayang, Pacet, Kertasari.

Dadang mengatakan saat ketinggian air mencapai puncaknya, air masuk ke dalam kelas setinggi 1,5 meter lebih. Padahal pihak sekolah pernah melakukan rehabilitasi dengan meninggikan bangunan setinggi satu meter dari badan jalan.

"Supaya aset aman, jadi kita tinggikan pada tahun 2005, dapat bantuan Rp. 45 juta dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung," ujar Dadang kepada Tribun di SDN 10, Senin (10/4/2017).

Rencananya kata Dadang, komite sekolah mengusulkan untuk meninggikan bangunan SD setinggi tiga meter dengan membuat kolong, yang mirip dengan rumah panggung.

"Sekarang dari provinsi, sudah di acc, untuk membuat SD kolong dan jadi percontohan, karena selain SD 7 dan 10 ini, masih ada SD lain yang terendam banjir seperti di Bojongasih," katanya.

Kendati begitu, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berjalan di SDN 10, setelah banjir surut mereka membersihkan kelas secara swadaya dengan melibatkan murid dan guru.

Lain halnya dengan SDN 7, sekolah yang menampung sekitar 150-an siswa ini lokasi bangunannya berada satu meter lebih bawah daripada SDN 10. Ketinggiannya sejajar dengan lapangan yang kIni tampak seperti kolam akibat banjir yang kembali datang pada Minggu (9/4/2017) malam.

Amelia Oktaviana, guru SDN 7 mengatakan sejak frekuensi banjir datang menyergap pada 20w5 lalu, Idirinya kerap kali membawa sepatu bot, masker dan sarung tangan. Tujuannya untuk membersihkan kelas sebelum KBM dimulai. Ia pun menyambut jika usulan Bupait yang hendak merelokasi SD ke kawasan Yon Zipur 3/YW.

"Sebagai guru alhamdulillah yang penting aman buat siiswa dan guru, kiami menyambut dengan gembira," katanya.(dam)

Penulis: Yudha Maulana
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved