TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Adi Zamzam

Hanya Firman Tuhan

Sekali ia melihat kemungkaran di jalan, tangannya takkan ragu memukul dan kakinya takkan segan menendang.

Hanya Firman Tuhan
Ilustrasi Hanya Firman Tuhan 

LELAKI yang aku ceritakan kepada kalian ini adalah seorang pemuja Tuhan yang taat. Amat taat. Saking taatnya, sampai-sampai ketika ibunya melakukan transaksi jual beli berlumur kebohongan pun langsung ditegurnya dengan nada keras.

"Jangan suka berbohong jika kau masih ingin kupanggil ibu. Barang buruk tetaplah buruk. Janganlah kautambahi keburukannya dengan kebohongan, yang justru juga akan mengotori mulutmu. Sungguh, Tuhan tidak menyukainya. Demikian pula aku, Ibu," ujar lelaki ini mencegat kepulangan ibunya di rumah. "Aku rela tak lagi menjadi anak Ibu jika Ibu masih akan melakukannya lagi."

Lelaki ini benar-benar menepati ucapannya ketika sang ibu tak mengindahkan nasihatnya. Betapapun sang ibu merasa telah dikhianati lantaran setelah si anak sudah bisa cari makan sendiri, ia seperti kacang yang lupa kulitnya. Dengan tegas lelaki ini keluar dari rumah sang ibu dan menghapus statusnya sebagai anak.

**

DALAM pengembaraan hidupnya, lelaki ini merelakan dirinya menjadi kaki dan tangan Tuhan. Sekali ia melihat kemungkaran di jalan, tangannya takkan ragu memukul dan kakinya takkan segan menendang. Ia seperti polisi langit yang diturunkan Tuhan ke Bumi. Hukum-hukum Tuhan takkan bisa ditawar barang sedikit pun darinya. Baginya hitam adalah hitam, dan putih sudah jelas putihnya.

Berjalan waktu, lelaki ini pun kemudian menjadi sosok yang ditakuti oleh para pelaku kemaksiatan. Namanya menjadi ikon pedang Tuhan. Ia juga telah memiliki sejumlah pengikut yang setiap saat siap sedia membela dan berjuang bersamanya, berani mati demi Tuhan.

Tak sedikit pun waktu yang dimiliki lelaki itu tersia-sia tanpa digunakan untuk mengabdi kepada Tuhan. Baginya, jiwa raganya adalah milik Tuhan, yang akan selalu ia gunakan untuk menegakkan perintah Tuhan, meluruskan segala yang bengkok di mata Tuhan, serta mengangkat senjata atas nama Tuhan. Kakinya hanya akan berjalan ke arah perintah Tuhan serta menendang segala yang menghalangi jalan menuju Tuhan. Mulutnya ia jadikan perantara perintah dan larangan Tuhan. Kedua matanya ia jadikan serupa pengawasan Tuhan. Juga telinga. Jika ia melihat atau mendengar segala hal yang menyimpang dari batasan-batasan yang ditetapkan Tuhan, maka ia akan siap bertindak.

Bahkan hatinya pun telah ia serahkan kepada Tuhan.

Pernikahan yang pernah tiga kali ia jalani tak pernah membuatnya benar-benar bisa mencintai seorang perempuan. Cinta sejatinya hanyalah kepada Tuhan. Setiap kali istrinya menampakkan keengganan menjalankan perintah Tuhan dan mengabaikan nasihat-nasihatnya untuk taat kepada Tuhan, ia takkan segan menghadiahinya perceraian.

Begitu pula ketika ia menasihati orang-orang yang datang kepadanya demi untuk meminta nasihat.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help