TribunJabar/

Coffee Break

Dua Wajah Amerika

INILAH salah satu keberhasilan Amerika Serikat: sejak kecil jutaan anak di seluruh dunia percaya bahwa Amerika mewakili kebaikan

Dua Wajah Amerika
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

INILAH salah satu keberhasilan Amerika Serikat: sejak kecil jutaan anak di seluruh dunia percaya bahwa Amerika mewakili kebaikan, sedangkan musuhnya pasti kejahatan.

Ketika mulai "mengenal dunia", tahun 1970-an, saya termasuk anak yang percaya bahwa Amerika adalah sang jagoan, sang protagonis, sang pahlawan dunia. Bersama sekutu-sekutunya di Blok Barat, Amerika terus berjuang memberantas kejahatan di seluruh dunia. Musuh besarnya waktu itu tentu saja komunisme. Dengan kata lain, negara-negara komunis Blok Timur, yakni Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur, Cina, Vietnam, Kuba, dan lain-lain adalah para penjahat.

Oh, betul, di negeri ini, peran pemerintahan Orde Baru tentu saja tidak bisa dilepaskan. Selama berkuasa, rezim ini memang menempatkan komunisme sebagai musuh utama, penjahat besar yang tak terampuni. Tidak hanya orang-orang yang terlibat langsung dengan partai komunis, bahkan anak-cucu mereka tidak lepas dari "warisan dosa" sehingga pantas disingkirkan dari berbagai peluang.

Secara de jure negeri ini memang anggota Nonblok, tapi de facto nyata-nyata memihak Amerika. Kita bersahabat akrab dengan Amerika dan kawan-kawan, tapi sebaliknya bermusuhan, setidaknya bukan kawan akrab, dengan Uni Soviet, Cina, dan kanca-kanca.

Anak-anak negeri ini dicekoki pemahaman tentang Amerika sebagai sang jagoan melalui berbagai media: film, pemberitaan, buku, seni, iptek, dan sebagainya. Kita membaca sejarah bahwa Amerika adalah pahlawan Perang Dunia II. Amerika dan kawan-kawan menghancurkan dua negara antagonis: Jerman dan Jepang. Bom atom Amerika di Hiroshima dan Nagasaki menghentikan perang yang melibatkan banyak negara dan membunuh jutaan penduduk dunia itu.

Kita juga pasti akan mudah menyebutkan judul film tentang para superhero asal Amerika: Superman, Batman, Spiderman, Captain America, dan entah siapa lagi. Mereka selalu menang menghadapi penjahat model apa pun, yang sering dikaitkan dengan (salah satu) negara Blok Timur. Bahkan film-film bukan superhero pun selalu memunculkan (orang) Amerika sebagai protagonis. Sebut misalnya Rambo dan Rocky Balboa, yang sama-sama diperankan Sylvester Stallone. Meski sudah jelas kalah dalam Perang Vietnam, Rambo berupaya menjejalkan pemahaman bahwa Amerika adalah sang pemenang dan berada di pihak yang benar. Dalam salah satu serinya, Rocky Balboa menghadapi musuh dari Uni Soviet, Ivan Drago.

Entah berapa banyak orang generasi saya yang masih membawa kepercayaan hingga dewasa bahwa Amerika adalah pahlawan dunia. Meskipun tidak sampai benci setengah mati, saya "beruntung" bisa keluar dari tempurung pemahaman yang menyesatkan. Saya masih menghargai Amerika sebagai negara yang maju dalam pendidikan, demokrasi, dan iptek, tapi pada saat yang sama mengecam Amerika sebagai pelaku perusakan di sejumlah negara di dunia.

Di era perang dingin, Amerika jelas-jelas selalu berpihak kepada penguasa yang melawan komunisme. "... orang-orang komunis pada dasarnya adalah pengkhianat.... Lebih baik memiliki rezim dengan kekuasaan kuat ketimbang pemerintahan liberal yang ramah dan santai, tetapi rawan dipenetrasi oleh orang-orang komunis," tulis Noam Chomsky dalam How the World Works, menggambarkan kebijakan Amerika yang menjadi dasar invasi ke sejumlah negara komunis: Korea, Vietnam, Nikaragua, El Salvador, dan lain-lain.

Ketika Uni Soviet runtuh, yang dianggap sebagai penanda kehancuran komunisme, Amerika menciptakan musuh baru: terorisme. Dan di mata Amerika, terorisme berkelindan dengan Islam, terutama yang garis keras. Kemudian kita tahu apa yang terjadi di Afganistan, Irak, Mesir, Libia, dan lain-lain.

Dan kini Suriah. Jumat kemarin, Amerika, atas perintah Presiden Donald Trump tentu saja, meluncurkan tak kurang dari 59 rudal Tomahawk ke sebuah pangkalan militer di Suriah, menewaskan setidaknya sembilan warga sipil yang empat di antaranya anak-anak. Trump menyebut serangan itu sebagai balasan terhadap serangan bom kimia yang dilakukan Selasa lalu oleh Presiden Suriah Bashar Assad.

Di sini logika awam saya memberontak: bagaimana mungkin Assad mengebom rakyatnya sendiri? Taruh kata benar bahwa itu tindakan Assad, landasan moral apa yang membenarkan Amerika mengebom Suriah? Trump, sebagai personifikasi Amerika, boleh jadi hanyalah sedang mencoba mempertahankan citra sebagai pahlawan dunia. Ia menyerang Assad sebagai rezim yang jahat.

Dan dunia mungkin masih terbelah saat memandang Amerika: pahlawan atau penjahat. Dalam hal ini Amerika tak ubahnya seperti Henry Jekyll dan Edward Hyde, dua kepribadian dalam satu tubuh. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help