TribunJabar/

Coffee Break

The Dream Team

Dengan skuat sekarang, sang Pangeran Biru menjadi salah satu kandidat kuat juara. Inikah saatnya julukan The Dream Team layak disematkan bagi Persib?

The Dream Team
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

HANYA ada dua tim di dunia yang terkenal dengan julukan The Dream Team: tim bola basket Amerika Serikat dan klub sepak bola AC Milan dari Italia.

Pada Olimpiade 1992 di Barcelona, untuk kali pertama para pemain NBA dibolehkan tampil di ajang olahraga tingkat dunia itu. Pada olimpiade-olimpiade sebelumnya, olahragawan yang tampil, termasuk para pebasket, hanya yang berstatus amatir. Maka, tim Amerika berlaga di Barcelona dengan pemain-pemain yang sudah tak asing lagi bagi para basketmania: Michael Jordan, Scottie Pippen (Chicago Bulls), John Stockton, Karl Malone (Utah Jazz), Magic Johnson (LA Lakers), Larry Bird (Boston Celtics), Patrick Ewing (New York Knicks), Chris Mullin (Golden State Warriors), David Robinson (San Antonio Spurs), dan Charles Barkley (Philadelphia 76ers).

The Dream Team pun melaju mulus, mengalahkan lawan-lawannya, termasuk Kroasia di final, dengan selisih angka rata-rata 44. Ibarat kata, Michael Jordan, Magic Johnson, dan lain-lain itu bermain sambil berekreasi saja untuk meraih medali emas Olimpiade 1992. Kualitas teknik mereka jauh di atas lawan-lawannya.

Meski makin mendapat perlawanan ketat dari tim-tim negara lain, tim bola basket AS masih tetap yang terbaik hingga Olimpiade Brasil 2016. Toh, julukan The Dream Team hanya melekat pada tim yang tampil di Olimpiade 1992. Julukan tersebut begitu identik dengan Michael Jordan dan kawan-kawan saat itu.

Associazione Calcio Milan mendapat julukan The Dream Team pada 1990-an ketika diperkuat trio Belanda yang legendaris: Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard. (Pada 1988, trio ini menjadi bagian penting De Oranje Belanda ketika menjuarai Piala Eropa.) Ditambah sejumlah pemain Tim Azzurri macam Giovani Galli, Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Paolo Maldini, Roberto Donadoni, dan Carlo Ancelotti, di bawah pelatih Arrigo Sacchi (dilanjutkan oleh Fabio Capello), AC Milan menjelma menjadi klub yang paling disegani di Eropa dan dunia. Pada era itu, di Seria A, Milan menjadi juara pada musim 1991-92, 1992-93, 1993-94, dan 1995-96. Di level Eropa, mereka juara Liga Champion 1989-90 dan 1993-94. Di level dunia, mereka juara Intercontinental Cup 1989 dan 1990.

Setelah era AC Milan, tentu saja ada sejumlah tim lain yang setara atau mungkin lebih hebat dibanding AC Milan pada era itu. Misalnya Real Madrid. Tapi klub ini terkenal bukan dengan julukan The Dream Team, melainkan Los Galacticos, yang bermakna klub dengan pemain- pemain tidak lagi berkualitas dunia, tapi level galaksi. Saat itu, awal 2000-an, Real Madrid diperkuat antara lain megabintang Zinedine Zidane, Ronaldo, Luís Figo, Roberto Carlos, Raúl, dan David Beckham.

Indonesia sebenarnya pernah punya sekelompok atlet hebat yang layak mendapat julukan The Dream Team. Mereka tak lain para pendekar bulu tangkis era pertengahan 1970-an. Indonesia memiliki tujuh pemain putra yang sangat disegani: Rudy Hartono, Liem Swie King, Iie Sumirat (tunggal), Tjun Tjun, Johan Wahyudi, Christian Hadinata, Ade Chandra (ganda). Mereka merajai arena All England dan Piala Thomas. Ketujuh pemain itu dijuluki The Magnificent Seven, yang diambil dari sebuah judul film koboi tahun 1960-an, yang dibintangi antara lain Yul Brynner, Steve McQueen, Robert Vaughn, dan Charles Bronson. Oh, ya, film yang dibuat ulang pada 2016 itu sebenarnya versi koboi dari film Jepang tahun 1950-an berjudul Seven Samurai. Jadi, bisa saja Rudy Hartono dan kawan-kawan diberi julukan Tujuh Pendekar. Nah, sekitar dua puluh tahun kemudian, Indonesia kembali memiliki tujuh pemain bulu tangkis putra yang hebat, yang juga pantas dijuluki Tujuh Pendekar. Bedanya, kali itu semuanya pemain tunggal: Joko Supriyanto, Bambang Suprianto, Fung Permadi, Hermawan Susanto, Alan Budi Kusuma, Ardi B Wiranata, dan Hariyanto Arbi. Mereka seakan-akan bergiliran menjadi juara di berbagai arena, termasuk Alan di Olimpiade 1992.

Di level regional, kita belum mendengar tim cabang apa pun yang berjulukan The Dream Team. Ketika menjadi juara Liga Indonesia 1994-1995 dan Liga Super Indonesia 2014, Persib Bandung tidak diberi label The Dream Team. Begitu juga ketika Persipura Jayapura, Arema FC, dan Sriwijaya FC ketika menjadi juara liga.

Menghadapi liga musim mendatang, Maung Bandung tidak tanggung-tanggung merekrut dua marquee player, Michael Essien dan Carlton Cole, dan salah satu pemain naturalisasi andalan timnas, Raphael Maitimo, untuk melengkapi para bintang yang sudah ada, macam I Made Wirawan, Supardi, Vladimir Vujovic, Ahmad Jufriyanto, Sergio van Dijk, dan Shohei Matsunaga. Dengan skuat sekarang, sang Pangeran Biru menjadi salah satu kandidat kuat juara.

Inikah saatnya julukan The Dream Team layak disematkan bagi Persib? (*)

Penulis: her
Editor: her
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help