TribunJabar/

SOROT

Peta Bencana dan Ketegasan Penguasa

Setelah pertiwa nahas itu, ajakan untuk kembali menghijaukan kawasan perbukitan dengan menanam tanaman keras, menjadi keharusan.

Peta Bencana dan Ketegasan Penguasa
dokumentasi
Kisdiantoro

Oleh Kisdiantoro

Wartawan Tribun Jabar

KITA ikut berduka seorang petani di Kampung Cipurut, Desa Dukuh, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Mansur, kemarin, tewas karena tertimpa material longsor. Sementara beberapa pertani lainnya mengalami luka serius dan kini mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Mansur dan empat petani lainnya tak menyangka tebing setinggi lima meter itu bakal longsor. Mereka bekerja di bawah terbing untuk membuat saluran air. Keterangan dari petugas penyelamat Kantor SAR Bandung, menyebutkan mereka juga hendak memperlebar sawah garapan. Namun nahas, terjadi pergerakan tanah dan mengakibatkan terbing pun longsor.

Mansur tak bisa menyelamatkan diri dan tewas di lokasi kejadian akibat tertimbun longsor. Kedua temannya ikut tertimbun longsor tapi nyawanya selamat. Dan dua petani lainnya sigap menyelamatkan diri.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, terdapat 30 titik daerah rawan longsor dan pergerakan tanah yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Bandung. Termasuk di antaranya adalah Kecamatan Ibun. Topografi daerah Ibun berupa perbukitan dan rawan longsor. Bahkan pada delapan tahun lalu pernah terjadi longsor serupa. Kawasan ini menjadi sangat berpotensi terjadi bencana karena kondisi tanahnya gembur.
Dari peristiwa longsor di Kampung Cipurut, pemerintah bisa mengambil pelajaran penting sekaligus sebagai landasan mengambil kebijakan.

Kebijakan yang akan menyelamatkan masyarakat dan lingkungan. Mitigasi bencana yang memetakan sejumlah titik kawasan rawan longsor, tentu bukan hanya untuk dibaca dan diketahui, tetapi dijadikan landasan untuk segera bertindak. Sosialiasi dan mengajari warga di sekitar daerah longsor adalah yang paling utama dilakukan. Pengetahuan itulah yang akan membekali setiap orang di kawasan rawan bencana, sadar apa yang harus dilakukan untuk selamat.

Bagaimana untuk selamat? Setelah ada peta bencana atau mitigasi, pemerintah bisa mengajak masyarakat yang bermukim di wilayah dengan sekala potensi bencana paling tinggi untuk pindah. Keselamatan nyawa adalah alasan utama. Dengan menyediakan tempat yang aman, diharapkan mereka bisa merelakan tempat tinggalnya dan tinggal di daerah baru.

Kenyataanya merelokasi itu tidak mudah. Buktinya, sejumlah warga yang tinggal di Kampung Legok Kiara, Desa Rawabogo, Ciwidey, yang pada tahun 2015 wilayah itu porak poranda karena diterjang longsor dan tanah bergerak, sebagian tak mau pindah.

Maka upaya lain untuk menyelamatkan nyawa warga adalah dengan ketegasan pemerintah. Bukan untuk memaksa mereka pindah karena kenyataanya mereka menolak. Tetapi tegas melarang warga untuk tidak melakukan alih fungsi lahan dari lahan yang semula terisi tanaman keras menjadi areal pesawahan atau kebun. Mengubah fungsi berarti menciptakan potensi baru terjadinya longsor karena tanah menjadi sangat gembur. Tanaman keras bukan saja sebagai lumbung oksigen tapi juga berfungsi sebagai pengikat tanah dari tumbukan air hujan.

Seperti yang terjadi pada peristiwa di Kampung Cipurut, didapat keterangan bahwa petani juga berupaya memperluas lahan selain membuat saluran air. Maka, tidak aneh jika kemudian terjadi longsor.

Apakah mereka tak mengetahui bahaya alih fungsi lahan? Jika para penyuluh lapangan mengerjakan tugasnya dengan baik, tentu mereka mengetahuinya. Tapi bisa saja mereka tidak tahu karena minim informasi.

Setelah pertiwa nahas itu, ajakan untuk kembali menghijaukan kawasan perbukitan dengan menanam tanaman keras, menjadi keharusan. Pemerintah pun harus tegas untuk mengatakan, "jangan gunduli bukit!" Memperlakukan alam itu sama pentingnya ketika para orangtua melindungi anak-anak dari jerat narkoba. Abai terhadap rambu larangan, maka bisa membinasakan. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help