TribunJabar/

Advertorial

Konsisten Konservasi SDA, Pemkab Bandung Ajak Guru Informasikan Cara Memanen  Air

Sebagai sumber kehidupan, air tentu saja perlu di konservasi untuk masa depan, salah satunya dengan cara konservasi untuk memanennya.

Konsisten Konservasi SDA, Pemkab Bandung Ajak Guru Informasikan Cara Memanen  Air
ISTIMEWA
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, melalui Sosialisasi Konservasi Sumber Daya Air (SDA), yang digelar di Balesawala, Kamis (23/3), memperkenalkan konservasi sebagai cara memanen air. 

AIR merupakan salah satu sumber kehidupan manusia. Keberadaanya harus dimanfaatkan sebaik mungkin, terlebih untuk melestarikannya. Kali ini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, melalui Sosialisasi Konservasi Sumber Daya Air (SDA), yang digelar di  Balesawala, Kamis (23/3), memperkenalkan konservasi sebagai cara memanen air.

 “Sebagai sumber kehidupan, air tentu saja perlu di konservasi untuk masa depan, salah satunya dengan cara konservasi untuk memanennya. Saya mengajak pada semua guru yang hadir hari ini, untuk konsisten dan bisa menginformasikannya baik pada murid ataupun masyarakat luas,” ucap Kepala DLH Kabupaten Bandung Asep Kusumah di depan para guru sebagai peserta sosialisasi.

Bersamaan dengan peringatan hari air sedunia yang jatuh pada 22 Maret, Dia menuturkan, tujuan usaha konservasi air adalah keseimbangan, untuk menjamin ketersediaan air untuk generasi masa depan juga pemenuhan kebutuhan fisiologi umat manusia. Ketersediaan sebaran air bumi kata Asep, terdiri dari air di bumi yakni 3% air tawar dan 97% air asin.

 “Sedangkan air tawar terdiri dari 30,1% air bawah tanah, 68,7% es dan 0,9% lainnya. Sementara  air tawar permukaan yakni, 2% air sungai, 11% rawa dan 87% air danau.  Konservasi dilakukan juga dengan tidak menebang pohon sembarangan, guna menjaga kualitas dan kuantitas air bumi,” pungkasnya.

Menurut Asep, kuantitas air bumi masih terjaga. Namun kembali lagi pada konsisten dan perilaku manusia sendiri untuk bisa menjaga dan melestarikan air sebagai anugrah dari tuhan. Melalui berbagai kebijakan yang dikeluarkan, tidak lebih berhasil dari perilaku manusia untuk memanfaatkan air dengan bijak.

 “pengurangan air segar dari sebuah ekosistem tidak akan melewati nilai penggantian alamiahnya. Harus dilakukan penghematan energi dari Pemompaan air, pengiriman, dan fasilitas pengolahan air limbah mengonsumsi energi besar. Melalui konservasi ini, air bisa dipanen,” tambahnya.

 Asep Kusumah mengatakan, kebutuhan air bersih rumah tangga diketahui berkisar antara 160-250 liter/orang per hari.   Manusia sebagai pengguna air, tentu saja harus paham dan menyadari akan penggunaannya secara benar.

 Untuk memaksimalkan aplikasi memanen air kata Asep, Pemerintah Kabupaten Bandung bekerja sama dengan unsur akadamisi dan penggiat lingkungan, yang selanjutnya akan diterapkan di masyarakat, baik  melalui metode teknologi maupun perilaku sosial.

 Sementara, perwakilan dari Tim akademisi Institute Pertanian Bogor (IPB), Wahyu mengungkapkan, bahwa berdasarkan besaran People Equivalent (PE), untuk rumah biasa diperkirakan jumlah air limbahnya adalah 120 liter/hari per orang. Menurutnya, jika jumlah ini dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia (229.964.720 jiwa) maka air limbah domestik yang diproduksi setiap hari akan mencapai 27.595.766.400 liter.

 “Air limbah yang dihasilkan dari rumah tangga mencapai 27 miliar liter.  Manusia memanen air untuk keperluan tertentu dan masa yang panjang. Air dapat dipanen secera efektif pada titik-titik tertentu dalam siklus hidrologi, Pemahaman mengenai siklus hidrologi akan membantu dalam menentukan teknik  pemanenan yang akan digunakan, disamping pembuatan lubang biopori,” ungkap Wahyu.

 Lebih lanjut Wahyu menjelaskan, manusia bisa memanen air secara hidrologi. Artinya air yang diolah yakni Air Hujan, Aliran Permukaan, Air Bawah Tanah, Evapotranspirasi contohnya ladang jagung dapat menguapkan 26.000 - 38.000 liter air/ha.

 “Dengan cara hidrologi, contohnya air hujan. Kita bisa mengolahnya dengan bantuan alat penampung air. Melaui talang air hujan, kemudian mengalir ke penampungan, yang sebelumnya telah dipasang saringan.  Apalagi di musim penghujan seperti sekarang, kita bisa memanen air,” imbuhnya.

 Menanggapi hal tersebut, Deni Ruswandani dari  Yayasan Elemen Lingkungan (Eling) menyampaikan giat yang dilakukan Dia bersama Tim dalam menjaga kelestarian air yakni, ikut menginisiasi terbangunnya Situ Cimeumal sebagai  retensi  air hutan dan destinasi wisata air dikecamatan Banjaran Kabupaten Bandung.

“Yayasan Eling, sebagai pemerhati lingkungan khususnya konservasi air, sejak 2008 melalui fasilitasi program Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air  (GNKPA) Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, menjadi inisiator terbangunya Situ Cimeumal di Kp Kiara Payung Desa Banjaran Wetan Kecamatan Banjaran,” ungkap Deni. (***)

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help