TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Yudhi Herwibowo

Malam Mengenang Sang Penyair

SAAT mendengar kabar meninggalnya karena sakit, aku diam tak bereaksi. Bahkan menyebut innalillahi pun tidak. Sudah lama, aku tak mau mengingatnya.

Malam Mengenang Sang Penyair
Ilustrasi Malam Mengenang Sang Penyair 

SAAT mendengar kabar meninggalnya karena sakit, aku diam tak bereaksi. Bahkan menyebut innalillahi pun tidak. Sudah lama, aku tak mau mengingatnya. Kuanggap hubunganku dengannya sudah selesai sejak dulu. Tapi sudah menjadi naluri, berita kematian selalu memurukkan kita pada perasaan sedih. Seakan itu tanda untuk menghapus segala kebencian. Jadi, walau sekuat tenaga tak lagi ingin mengingatnya, seperti yang sudah kulakukan sekian tahun ini, aku tetap saja tak berhasil.

Ia, Bara Abu. Itu nama yang benar-benar sudah diubahnya secara formal di kelurahan. Aku sendiri tak tahu nama aslinya. Dulu, sama seperti aku, Gundari, dan Nasir Umar, ia penyair baru yang tengah merintis karier. Tapi di antara kami berempat, hanya dialah yang kemudian berhasil. Sangat berhasil. Aku sendiri beberapa tahun lalu memutuskan menjadi PNS. Kupikir menjadi PNS jauh lebih mudah, sekaligus terjamin.

Sialnya, sebulan kemudian, saat aku mulai tak lagi mengingat kabar itu, muncul anak semata wayang Bara Abu di depan teras. Aku langsung bisa menebaknya karena wajahnya memang begitu mirip seperti bapaknya. Terutama aura menyebalkannya yang tak bisa disembunyikan, walau dalam kondisi sedih sekalipun.

"Kami ingin menggelar acara mengenang 40 hari perginya ayah," katanya setelah berbasa-basi sejenak. "Kami berharap Om Hanta berkenan hadir."

Aku tentu saja tak bisa menjawab. Saat itu aku ingin sekali langsung menolaknya. Tapi saat diundang seseorang seperti ini, siapa pun tak akan bisa menolaknya begitu saja. Seorang yang sudah meninggal memang memiliki permakluman lebih dibanding orang yang masih hidup.

Aku bertanya-tanya, apakah Gundari dan Nasir Umar akan datang? Mereka punya pengalaman sangat buruk dengan Bara Abu. Tapi aku menebak, bila mereka diundang dengan cara sepertiku, mereka pun pastilah tak akan bisa menolak.

Setidaknya dulu, bagi kami bertiga, Bara Abu pernah menjadi kawan seperjuangan. Walau cuma sebentar. Aku sendiri bertemu dengannya di sebuah acara baca puisi. Karena sama-sama dari kampus yang sama dan punya kesukaan yang sama, kami kemudian sepakat membentuk komunitas penyair. Saat itulah Gundari dan Nasir Umar bergabung. Sebenarnya masih ada lagi beberapa orang lagi yang bergabung. Namun sebagian dari mereka hanya panas-panas tahi ayam. Hanya kami berempat yang kemudian bertahan cukup lama.

Untuk mengirit pengeluaran, kami kemudian mengontrak rumah yang agak jauh dari kampus. Ada tiga kamar di situ. Satu kamar untukku. Satu untuk Bara Abu. Sedang satu kamar yang terbesar untuk Gundari dan Nasir Umar. Di rumah itulah sempat kenangan-kenangan tak terlupakan terjadi. Kami beriuran membeli kompor minyak bersama, dan di kala tak memiliki uang, kami bersama-sama membuat supermi dengan kuah yang banyak agar bisa merasa kenyang.

Tapi hanya beberapa bulan kemudian, sifat asli Bara Abu mulai terlihat. Ia ternyata orang yang sangat egois. Ia mulai menyimpan makanannya sendiri. Bahkan ia tak lagi membagi rokok bersama. Ia hanya mengeluarkan sebatang demi sebatang, untuk dirinya sendiri.

Keadaan makin memuncak saat Bara Abu mulai naik daun. Puisi-puisinya ternyata disukai redaktur sehingga bisa dimuat di mana-mana. Ia juga sempat memenangi salah satu sayembara puisi yang sangat prestisius. Satu lagi: ia mulai kerap diundang di acara-acara sastra.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help