TribunJabar/

Coffee Break

Jabar Menghangat

Meski masih tetap menilai tidak akan panas membara seperti di Jakarta, saya menduga Pilgub Jabar tahun depan tetap menyengat.

Jabar Menghangat
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

DI kolom ini saya pernah menulis persaingan memperebutkan kursi gubernur Jawa Barat tahun depan tidak akan sepanas pemilihan gubernur DKI. Alasannya, meski bertetangga, Jabar berbeda dengan DKI. Jabar didominasi warga Sunda, sedangkan DKI ibarat Indonesia mini: terdiri atas bermacam suku dan agama. Pilgub DKI juga disebut-sebut sebagai "pilgub rasa pilpres" karena para kandidatnya dianggap mewakili kubu-kubu yang juga berkompetisi di Pilpres 2014.

Saya sempat memprediksi pilgub Jabar tahun depan tidak akan seseru pilgub DKI karena di antara bakal calon gubernur Jabar tidak ada sosok kontroversial yang mirip Ahok—berasal dari minoritas ganda: nonmuslim dan Tionghoa, serta dianggap melakukan penistaan agama. Kita bisa memperkirakan bahwa para calon gubernur Jabar mendatang akan berasal dari kelompok agama yang sama. Demikian juga kesukuannya. Jadi, kecil kemungkinan akan terjadi saling serang berbau SARA. Mungkin akan muncul letupan kecil beraroma SARA, misalnya Dedi Mulyadi yang dianggap tidak benar-benar mewakili Islam karena penampilannya yang Sunda "wiwitan". Barangkali juga akan ada serangan terhadap siapa pun calon dari PDI-P. Bagaimanapun, banyak yang menganggap partai ini tidak mewakili Islam. Namun, tetap level persaingannya masih jauh di bawah level persaingan Pilgub DKI.

Kali ini saya mesti merevisi prediksi saya. Meski masih tetap menilai tidak akan panas membara seperti di Jakarta, saya menduga Pilgub Jabar tahun depan tetap menyengat. Hari-hari ini pun udara politik Jabar sudah mulai terasa hangat. Mengapa? Pemilihan gubernur baru akan berlangsung tahun depan, tapi nama-nama kandidat sudah mencuat.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil-lah yang pertama kali menyulut kehangatan. Kang Emil sudah mendeklarasikan pencalonannya bersama Partai Nasdem. Di satu sisi, deklarasi itu menunjukkan bahwa Kang Emil tidak malu-malu untuk mengakui memang berhasrat jadi gubernur Jabar. Itu patut diapresiasi. Banyak orang yang bicara normatif saja jika didorong maju berebut kursi kepala daerah, macam "Saya akan maju kalau mendapat amanah rakyat." Selama ini, Kang Emil memang kerap disebut salah satu calon terkuat di pilgub Jabar tahun depan. Ia sudah mencatat banyak prestasi untuk Kota Bandung, antara lain mengubah wajah Bandung menjadi lebih hijau dan penuh taman. Ia juga meraih banyak penghargaan atas prestasinya.

Di sisi lain, deklarasi itu menimbulkan reaksi keras dari partai-partai yang mengusungnya menuju kursi wali kota Bandung: Gerindra dan PKS. Mereka sudah menyatakan tidak akan mengusung Kang Emil dalam pilgub Jabar. Alasannya, Kang Emil menyetujui tiga syarat dalam deklarasi bersama Partai Nasdem itu, terutama syarat ketiga: mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Padahal, mereka sudah harga mati mendukung Prabowo. Udara politik makin hangat ketika ada pihak yang menyebut Kang Emil sebagai Syiah, yang membuat sang Wali Kota melaporkan pihak tersebut ke polisi.

Baik Gerindra maupun PKS belum menentukan nama yang akan mereka usung. Namun, secara umum memang belum ada partai lain yang menyebut nama. Hanya PAN yang sempat menyebut Desy Ratnasari, Primus Yustisio, dan Bima Arya sebagai sosok-sosok yang layak mendampingi Kang Emil sebagai cawagub.

Sejauh ini, baik terang-terangan maupun malu-malu, sudah beredar sejumlah nama sebagai bakal pesaing Kang Emil. Ada Deddy Mizwar, Netty Heryawan, Dede Yusuf, Tb. Hasanuddin, Rieke Diah Pitaloka, Uu Ruzhanul Ulum, dan Dedi Mulyadi.

Deddy Mizwar punya keunggulan dalam popularitas. Demikian juga Dede Yusuf dan Rieke. Netty adalah wanita yang cerdas dan bukan tidak mungkin dialah yang berada di balik keberhasilan sang suami. Mungkin dia punya kapasitas yang memadai. Tapi politik dinasti selalu menimbulkan persoalan. Kalaupun mau maju, tunggulah lima tahun lagi. Lagi pula, maukah PKS mendukung perempuan menjadi cagub? Hasanuddin dan Uu berada di level yang jauh, setidaknya secara popularitas.

Dedi Mulyadi, sementara itu, dianggap berhasil memimpin Kabupaten Purwakarta, dari wilayah "antah berantah" menjadi dikenal di seantero negeri. Selain membangun banyak monumen, termasuk Taman Air Mancur Sri Baduga, ia dikenal karena hasil kerjanya dianggap nyata untuk rakyat setempat.

Jadi, kompetisi yang masuk akal akan terjadi antara Kang Emil dan Kang Dedi. Kasarnya lebih kurang, Kang Emil sukses membenahi wilayah perkotaan, Kang Dedi berhasil menata desa-desa. Kang Emil representasi manusia modern yang berada di podium tinggi, Kang Dedi menjejak di permukaan bumi.

Benarkah? Bagaimana jika Gerindra dan PKS tiba-tiba mengajukan calon yang mengejutkan, seperti yang mereka lakukan di Pilgub DKI? Dan bagaimana jika terjadi polarisasi yang serupa? Jika benar, seperti Jakarta, Jabar juga akan membara. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help