Coffee Break

Si Bison

MICHAEL Kojo Essien dan Didier Yves Drogba Tébily adalah dua pemain hebat level dunia asal Afrika dan saya pernah membenci keduanya.

Si Bison
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

MICHAEL Kojo Essien dan Didier Yves Drogba Tébily adalah dua pemain hebat level dunia asal Afrika dan saya pernah membenci keduanya. Saya membenci Essien dan Drogba waktu mereka bermain di Chelsea karena kehebatan mereka membuat klub favorit saya di Premiership, Liverpool, selalu menghalami kesulitan tiap menghadapi The Blues, terutama ketika ditangani Jose Mourinho periode pertama.

Siapa tidak mengenal Essien? Di Chelsea, selama musim 2005 hingga 2012, Essien mencatat penampilan 168 kali dan mencetak 17 gol. Lumayan untuk seorang pemain tengah. Oh, ya, waktu awal masuk di Chelsea, gaji Essien 24,4 juta pound (sekitar 390 miliar rupiah).

Secara permainan, Essien adalah gelandang yang kuat secara fisik dan sering disebut sebagai gelandang box-to-box karena kemampuannya untuk menggunakan energinya dalam mendukung permainan bertahan dan menyerang, serta gaya bermain dengan tekel yang bertenaga dan sulit. Dari situlah ia mendapat julukan The Bison. Selain gelandang, Essien dapat juga bermain sebagai bek, baik di sisi kanan maupun di tengah.

Ketika remaja, Essien turut mewakili negaranya, Ghana, pada Kejuaraan Dunia Remaja U-17 1999 dan Kejuaraan Dunia Remaja U-17 2001. Essien membuat debut tim senior pada Januari 2002 dan mewakili Ghana dalam tiga kali Piala Afrika serta dalam Piala Dunia FIFA 2006, tatkala Ghana mencapai babak 16 besar.

Ia memulai kariernya di klub negaranya, Liberty Professionals. Pada 2000, ia hijrah ke Prancis dan bergabung dengan Bastia. Ia menjalani tiga musim dan tampil dalam 60 pertandingan sebelum bergabung dengan Olympique Lyonnais pada 2003. Di Lyon, Essien meraih dua kali gelar liga dan pertama kali bermain dalam Liga Champions. Selama lima tahun berkarier di Prancis, ia memperoleh kewarganegaraan Prancis. Pada 2005, Essien menandatangani kontrak dengan Chelsea dan menjadi pemain sepak bola termahal Afrika dalam sejarah. Essien membantu The Blues memenangi Liga Utama Inggris pada 2006 dan 2010 serta tiga gelar Piala FA dan satu Piala Liga Inggris. Pada 2008, ia tampil dalam Final Liga Champions UEFA 2008. Ia memenangi gelar Chelsea Goal of the Season dua kali, pada musim 2006-07 dan 2008-09.

Ketika Essien bermain di Liga Spanyol, saya juga membencinya karena ia berkostum Real Madrid, pesaing klub favorit saya di La Liga, Barcelona. Meski tidak selalu dipasang oleh Mourinho, si Bison menjadi benteng lapangan tengah dan belakang yang sangat tangguh. Di Madrid, dalam semusim (2012-2013) ia tampil 21 kali dan mencetak dua gol.

AC Milan, klub kesukaan saya di Liga Italia, kemudian merekrutnya. Sayang, saat itu grafik kehebatan si Bison rupanya sudah menurun. Usianya sudah 31 tahun dan ia berkali-kali digempur cedera. Apa boleh buat, bison pun ternyata bisa cedera. Ia gagal mengangkat prestasi Rossoneri, hanya bermain 20 kali tanpa pernah mencetak satu pun gol.

Di klub berikutnya, Panathinaikos, di Liga Yunani—liga kasta dua atau tiga di Eropa—nama pemain kelahiran Ghana, 3 Desember 1982, itu makin tenggelam. Dalam semusim (2015-2016) ia hanya tampil 13 kali dan mencetak satu gol.

Didier Drogba boleh jadi lebih tersohor ketimbang Essien. Ia dikenal karena kemampuannya menjaga bola, duel di udara, dan kekuatan fisiknya, yang pasti tak kalah dengan si Bison. Ia pencetak gol terbanyak timnas Pantai Gading sepanjang masa dan berada di urutan keempat pencetak gol terbanyak Chelsea sepanjang masa.

Sampai kemarin, Essien sudah pasti akan berkostum biru Persib, sedangkan Drogba belum. Meski usianya menjelang 40 tahun, Drogba mungkin masih membanderol dirinya mahal buat klub selevel Persib, boleh jadi lebih mahal dibanding Essien. (Toh, Cristian Gonzales masih bertaji tajam meski sudah hampir berusia 41 tahun.)

Andai Essien dan Drogba bisa merapat, kekuatan Maung Bandung pasti menggentarkan tim-tim lain. Taruh kata kemampuan keduanya tinggal separuh masa kejayaan mereka, buat ukuran sepak bola kita keduanya pasti masih menakutkan. Ingat, Liga Amerika pun memulai kemajuan sepak bola mereka melalui para mantan bintang Eropa.

Saya tidak tahu kojo dalam bahasa Ghana, sebagai nama tengah Essien, bermakna apa. Namun dalam bahasa Sunda, kojo dapat bermakna sang jagoan. Dengan usianya yang mulai beranjak senja dan cedera yang sering melanda, bobotoh memang jangan berharap Essien masih seperti ketika di Chelsea 10 tahun lalu. Namun boleh, lah, kita berharap ia masih menjadi kojo di Persib.

Simak saja pernyataannya yang dapat kita baca di media sosial: "Persib adalah klub idola saya sejak kecil. Chelsea, Real Madrid, dan AC Milan hanyalah batu loncatan."

Jangan serius. Namanya juga meme. (*)

Penulis: her
Editor: her
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help