TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen Otang K Baddy

Pesan Diw

Sebagai pemilik rumah, saya bersikap wajar-wajar saja kendati suasana mistis demikian tercipta dari lidahnya yang bak pisau.

SEBENARNYA di dunia ini tak ada yang samar dan tersembunyi selain hanyalah kebodohan dan kemalasan yang membuat berserah diri, demikianlah istri saya berfilsafat. Wualah, ngomong apa kamu ini, Diw. Mau sok filsuf, ijazah saja masih dipertanyakan. Kendati mungkin hoaks istri saya layak diperbimbangkan, saya lipat dulu. Kemudian bertolak ke sesi yang baru dengan nuansa yang eksotis, yakni wanita yang tiba-tiba hadir melibas istri yang pernah saya nikahi sepuluh tahun lalu. Ya, wanita itu memang telah mencengkeram saya, terlebih dalam pandangan dan pesannya yang membuat saya tak bisa berkutik.

Makanya sempat khawatir ketika menyebut dalam rumah ini ada penghuni lain selain saya dan keluarga. Apakah itu tidak berbahaya atau setidaknya punya dampak buruk bagi pemilik rumah, kamu segera berkilah. "Tidak. Malah kasihanilah, jangan diganggu atau setidaknya jangan usir dari tempat itu. Mereka terdiri dari dua perempuan, yang satu tua, satunya lagi muda. Yang tua berjalannya ngesot, sedangkan yang muda rambutnya dikepang serta pakai kebaya. Keberadaan serta wajah keduanya sangat memprihatinkan."

Sebagai pemilik rumah, saya bersikap wajar-wajar saja kendati suasana mistis demikian tercipta dari lidahnya yang bak pisau. Demikian pula ketika ia mengetahui di sumur saya ada suara yang tengah menimba air. Derit kerekan katrol usang berkarat katanya terdengar nyaring dan linu di telinganya—yang ternyata kegiatan yang dilakukan dua wanita itu. Aneh, saat kami tengah bertelepon di sumur tak ada siapa-siapa selain hanya katrol usang dan timba itu.

Saya tak menganggap apa yang diucapkannya merupakan hoaks atau sekadar meniru praktisi dunia lain seperti pernah ditayangkan di statsiun televisi. Tadi pun saya sebut lidah dia adalah bak pisau yang tajam. Kerenanya saya sering pula tak berdaya kalau tak mau dikatakan teperdaya olehnya.

Ya, semua ini terjadi karena kelebayan dan bisa juga kepilonan. Kepilonan atau kelemahan keduanya antara saya dan dia. Mungkin karena sama-sama pilon atau lebay akhirnya berpagutlah cinta. Cinta dari perjuangan atau kelebayan itu. Maka kami pun tiba-tiba sering menjunjung atau mengagungkan kata cinta.

Karenanya, tak berlebihan dan saya akui jika kebusungan dada ini sempat muncul juga. Tak tanggung-tanggung, istilah dewa penyelamat pun tiba-tiba tersandangkan pada diri saya. Dalam istilah ini saya sebut kegombalan yang berbuah. Dalam kearoganan yang kuakui sebelumnya, saya ini seorang penyelamat kematian. Bah, tampak keren, bukan?

"Saya ingin bunuh diri. Saya sudah tak mau hidup lagi. Saya ingin mati saat ini juga!" teriak wanita itu dalam tangis yang tergesa. Lantas saya mencegahnya dengan sangat hati-hati, sebab merasa berdosa besar jika hal fatal itu sampai terjadi gara-gara saya membiarkannya.

"Tak perlu berbijak, seribu rayu kata bermadu, akan sangat percuma dan tak akan membuat saya luluh. Saya tetap ingin mati, saya ingin bunuh diri.!"

Apa yang yang mesti kulancarkan menghadapi situasi seperti itu? Benarkah wanita itu akan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri? Memangnya kenapa mau bunuh diri?

Dan tiba-tiba saya berhasil menguasai diri, menanggapinya dengan santai saja. Sebab beberapa jurus lembut, seperti kata "sayang", "nyai", "jungjunan", "geulis", dan nada bujuk lainnya telah kutawarkan tak mempan.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help