TribunJabar/

Seblak Basah Deu' Tjenghar

Seorang wanita paruh baya tak hentinya mengaduk-aduk wajan besar dipenuhi kuah berwarna merah dan berbagai macam kerupuk seblak.

Seblak Basah Deu' Tjenghar
tribunjabar/isa rian fadilah
Seblak basah 

TRIBUNJABAR.CO.ID -- Seorang wanita paruh baya tak hentinya mengaduk-aduk wajan besar dipenuhi kuah berwarna merah dan berbagai macam kerupuk seblak. Di gerobak yang sama, toples-toples besar berisi lebih dari sepuluh macam kerupuk, batagor, dan siomay kering dipajang di bagian atasnya sebagai etalase. Bahan-bahan seblak yang penuh warna ini seperti sengaja diletakkan di sana, supaya dilihat pengunjung yang berlalu-lalang di sekitar Jalan Purnawarman Bandung dan membelinya.

Cukup jarang melihat seblak dimasak dalam jumlah banyak sekaligus. Biasanya, seblak dimasak di wajan kecil, dan hanya digunakan untuk memasak seblak ukuran beberapa porsi. Lantaran pemesan yang terus berdatangan, penjual seblak mengantisipasinya dengan memasaknya dalam jumlah besar sekaligus. Dengan begitu, meski banyak pesanan datang, tak perlu waktu lama untuk menyajikan seblak. Cukup memasukkannya ke dalam cup. Di Seblak Basah Deu' Tjenghar ini, seblak dimasak di dua wajan besar sekaligus. Satu wajan berisi seblak tanpa sambal, sedangan wajan lainnya diracik dengan bumbu sedikit pedas. Sambal pun disediakan terpisah untuk mengatur tingkat kepedasan.

Seblak ini pun memiliki ciri khas pada kuahnya yang melimpah, laiknya bakso. Pemiliknya Erni Erlita adalah penggemar bakso, sehingga ia memilih membuat seblak berkuah.

Untuk memberikan kepuasan maksimal kepada pelanggan yang menyukai pedas, dibuat sambal dari cabai jenis japla. Dengan cabai ini, kuah yang mengandung bumbu dan kaldu ayam menjadi berwarna merah. Cabai jenis lain menurut Erni tak membuat kuah berwarna merah.

"Dimasak banyak sekaligus biar enggak keteteran. Di sini keroyokan (pembeli datang). Tapi tetap ada aturan, air sekatel sudah ada takaran bumbunya. Tidak sembarangan," ujar Erni saat ditemui di Jalan Purnawarman Bandung, kemarin.

Ada sekitar 30 macam menu seblak di sini. Pembeli bisa memesan seblak dengan pilihan isi ceker, krupuk, bakso, batagor, sosis, siomay, ceker, tulang, mi ceker, kornet, kikil, kwetiau makaroni, wortel, jamur kuping, dan brokoli.

Erni gemar berwisata kuliner. Dengan begitu ia pun bisa membandingkan seblak-seblak lain dengan seblak buatannya. Bumbu seblak dibuat dengan racikan sendiri. Pembuatan bumbu kencur dan bawang putih saja melalui beberapa kali proses masak.

"Tidak ada racikan aneh-aneh. Yang penting punya racikan sendiri lah, orang sudah mengenal rasanya," ungkapnya.

Di antara 30 menu seblak, menu batagor, siomay, ceker, krupuk, dan tulang paling banyak dipesan pelanggan. Menu ini bisa dinikmati dengan harga Rp 14 ribu.

Jika ingin lebih banyak, pelanggan memesan seblak berisi makroni, bakso, batagor, jamur, ceker, tulang, sosis dan siomay. Menu ini dikemas di dalam cup berisi 450 mililiter. Menu biasa sebanyak 400 mililiter.

Di sini pelanggan juga bisa meminta seblak bakso berisi cincang dan cengek.

Seblak vegetarian juga ada, isinya wortel, jamur kuping, dan brokoli.

Seblak Basah Deu' Tjenghar sudah lama menjadi tujuan penyuka seblak. Saat sedang ramai, sebanyak 500 porsi seblak habis terjual dalam sehari.

"Di sini diusahakan tidak pakai msg, karena ceker dan tulangnya kan kuintalan, jadi dari situ kaldunya," ucapnya.

Selain di Purnawarman, Seblak Basah Deu' Tjenghar bisa didapat di Baltos, Antapani, Gegerkalong, Rancaekek, UPI, Permata Biru, Garuda, dan luar kota seperti Jakarta Depok Bogor Cikarang Bekasi. (ee)

Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: Ferri Amiril Mukminin
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help