TribunJabar/

Kuliner Bandung

Sedapnya . . . Sate Sableng Berlontong Warna-warni

"Di situ saya ingin cari solusi bagaimana caranya sate bebek tanpa bau amis dan kenyalnya pas," kata Fauzi Kurnia Saleh Sate Sableng

Sedapnya . . . Sate Sableng Berlontong Warna-warni
ISA RIAN FADILAH
Sate Sableng 

Laporan Isa Rian Fadilah

TRIBUNJABAR.CO.ID - SATE identik dengan daging ayam, kambing, atau sapi. Belakangan ini di Bandung muncul sate unik karena memakai daging yang berbeda, yakni sate bebek. Sate bebek belum banyak ditemui di Kota Kembang ini. Menurut pemilik Sate Sableng Fauzi Kurnia Saleh (22), sate bebek buatannya adalah yang pertama di Bandung.

Sate sableng terbuat dari seluruh bagian daging bebek peking kualitas baik. Mulai daging, kulit, kepala, hingga tulangnya dimanfaatkan untuk sate dan menu pendampingnya berupa sup. Khusus kepala dan tulangnya dibuat untuk sup. Kepala dan tulang bebek dibuat lunak sehingga bisa dikonsumsi.

Sate bebek Sableng tak hanya tersedia dengan bumbu kacang seperti sate pada umumnya. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, dibuat juga sate bebek rasa asin pedas.

Menu ini dinamakan hebring atau hejo bringas. Dinamakan hebring karena sate dilengkapi dengan sambal hijau. Perpaduan sate dengan sambal hijau pun terhitung unik dan jarang dijumpai. Selain sambal hijau, pelanggan pun bisa meminta sate dengan sambal merah.

Untuk menu manis, sate bumbu kacang dilengkapi bumbu lain dari gula merah dan kecap. Menu ini dinamakan kecup kang atau kecap kacang.

Satu porsi sate berisi 10 tusuk. Jika dipesan dengan lontong dan sup, sate berisi 8 tusuk.

Keunikan sate bebek bertambah dengan adanya lontong lalu lintas. Lontong lalu lintas berwarna merah, kuning, dan hijau layaknya lampu lalu lintas. Soal rasa, lontong ini sama seperti lontong biasa.

"Lontong kami buat berwarna dari pewarna kue, kunyit, daun pandan, dan nasi merah," ujar Fauzi saat ditemui di stan Sate Sableng di Grha Manggala Siliwangi Jalan Aceh, Bandung.

Bebek peking langsung didatangkan dari Madiun dan Bekasi. Seminggu sekali, Fauzi memasok 200 ekor bebek. Satu bebeknya bisa dibuat 80 tusuk sate. Artinya ia mampu menghabiskan 16.000 tusuk dalam seminggu. Sate Sableng aktif beroperasi di kegiatan-kegiatan kuliner di Bandung dan Jakarta.

"Pengolahan daging bebek terbilang sulit untuk dibuat sate karena baunya yang amis. Di situ saya ingin cari solusi bagaimana caranya sate bebek tanpa bau amis dan kenyalnya pas," kata Fauzi yang masih berkuliah di jurusan Teknik Kimia Polban.

Sate Sableng
Sate Sableng (ISA RIAN FADILAH)
Halaman
12
Penulis: Isa Rian Fadilah
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help