Tradisi Budaya

Tradisi Meminta Hujan di Kampung Tua di Purwakarta - Dilestarikan dalam Seni Domyak (2-Habis)

ADA banyak tradisi yang ada di Pasir Angin Kaler, kampung tertua di Kabupaten Purwakarta. Salah satunya adalah ritual meminta hujan.

Tradisi Meminta Hujan di Kampung Tua di Purwakarta - Dilestarikan dalam Seni Domyak (2-Habis)
TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA
DOMYAK - Warga Kampung Pasir Angin Kaler, Desa Pasir Angin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, menggelar seni domyak, belum lama ini. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha

TRIBUNJABAR.CO.ID - ADA banyak tradisi yang ada di Pasir Angin Kaler, kampung tertua di Kabupaten Purwakarta. Salah satunya adalah ritual meminta hujan.

MESKI ritual meminta hujan tak lagi dilakukan warga di Kampung Pasir Angin Kaler, Desa Pasir Angin, Kecamatan Darangdan, ritual ini tak pernah benar-benar hilang. Warga melestarikannya dalam bentuk kesenian, yang kemudian dikenal dengan sebutan seni domyak.

Seni domyak diadaptasi dari kegiatan warga membunyikan berbagai alat musik saat berjalan menuju mata air di Gunung Rahayu untuk menjalankan ritual meminta hujan. Alat musik yang dibunyikan antara lain, dogdog, bedug, kecrek dan angklung buncis. Ini pula yang kemudian membuat kegiatan membunyikan berbagai alat musik ini kerap juga disebut sebagai seni buncis.

"Suara tetabuhan yang dihasilkan dari dogdog, bedug, kecrek dan angklung buncis ini begitu khas dan menghibur. Tak heran, sejak dulu pun, tukang tatalu-nya kerap diundang warga untuk memeriahkan hajatan," ujar Mak Atik (64), warga Kampung Pasir Angin Kaler, yang masih sempat menyaksikan langsung jalannya ritual meminta hujan di kampung ini tahun 1950-an, di kediamannya belum lama ini.

Tahun 1950-an, kata Atik, pergeseran tradisi ritual meminta hujan menjadi bagian dari seni pertunjukkan juga sudah dimulai. "Saya pernah mengalaminya juga datang ke hajatana warga yang dalam acara hiburannya ditampilkan seni buncis ini," ujar putri Abah Jumanta, tokoh yang semasa hidupnya sempat menjadi sosok sentral ritual meminta hujan di Pasir Angin Kaler. Saat meninggal tahun lalu, usia Abah Jumanta sudah 128 tahun.

DOMYAK - Warga Kampung Pasir Angin Kaler, Desa Pasir Angin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, menggelar seni domyak, belum lama ini.
DOMYAK - Warga Kampung Pasir Angin Kaler, Desa Pasir Angin, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, menggelar seni domyak, belum lama ini. (TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA)

Berubah Nama
Perubahan nama seni buncis menjadi seni domyak terjadi pada medio 1980-an. Nama domyak diambil dari alat musik dogdog yang digunakan serta gerakan membungkuk hingga semua bagian depan tubuh menyentuh tanah (ngarampayak) yang dilakukan berulang kali. Domyak menjadi kirata dari kalimat ngadogdog bari ngarampayak.

Namun, seperti tradisi meminta hujan yang menjadi cikal bakalnya, keberadaan seni domyak pun belakangan mulai jarang sekali ditampilkan, terlebih sepeninggal Abah Jumanta. Di Pasir Angin hanya sedikit yang paham dan masih bisa memainkan kesenian yang melibatkan sembilan pemain plus satu orang sinden yang melantunkan kawih-kawih Sunda. Kebanyakan sudah tua-tua, kecuali Yossi Agustiawan, tenaga honorer di SMP Negeri 4 Darangdan, yang masih berusia 38 tahun.

Selain tekun mempelajari seni domyak, Yossi pun aktif menularkan pengetahuannya tentang seni ini pada orang lain.
"Saya membuka ekstra kurikuler kesenian domyak, sudah diikuti banyak siswa. Tujuannya supaya kesenian tradisional yang lahir dari peradaban panjang masyarakat Desa Pasir Angin tetap terjaga," ujar Yossi.

Untuk menjaga keberadaan kesenian ini, Yossi bahkan kerap mengajak para seniman domyak tersisa, yang rata-rata berusia di atas 45 tahun, untuk tampil di hajatan-hajatan warga atau acara-acara hiburan yang kerap digelar organisasi massa dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

Halaman
12
Penulis: men
Editor: ddh
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help