TribunJabar/

Destinasi

Berdoa Meminta Hujan, Tradisi di Kampung Tua di Kabupaten Purwakarta

"Kata Abah, saat Abah masih kecil pun tradisi ini sudah dilakukan warga. Katanya, tradisi ini sudah berabad-abad," ujar Mak Atik

Berdoa Meminta Hujan, Tradisi di Kampung Tua di Kabupaten Purwakarta
TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA
Suasana di Kampung Pasir Angin Kaler, Desa Pasir Angin, Kecamatan Darangdan, Purwakarta. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Mega Nugraha

ADA banyak tradisi yang ada di Pasir Angin Kaler, kampung tertua di Kabupaten Purwakarta. Salah satunya adalah ritual meminta hujan.

BERADA di ketinggian, kampung di Desa Pasir Angin, Kecamatan Darangdan ini tampak seperti balkon. Dari kampung ini sebagian lembah Gunung Burangrang hanpir selalu tertutup kabut. Sungai Cileutik mengalir tepat di bawahnya.

Seperti umumnya warga di kampung yang berada di ketinggian, warga Pasir Angin Kaler juga kerap kekurangan air. Mata air di kampung ini segera menyusut saat musim kemarau datang. Saat itulah, biasanya warga akan menggelar tradisi meminta hujan.

Mak Atik (64), warga Kampung Pasir Angin Kaler meyakini, ritual meminta hujan ini sudah dimulai sejak tiga abad lalu di kampung mereka. Abah Jumanta, orang tua Mak Atik, adalah orang yang paling tua di kampung tersebut. Usianya 128 tahun saat meninggal tahun lalu.

"Kata Abah, saat Abah masih kecil pun tradisi ini sudah dilakukan warga. Katanya, tradisi ini sudah berabad-abad," ujar Mak Atik di kediamannya, belum lama ini.

Hingga sekitar tahun 1950-an, tradisi ini, menurut Atik, masih rutin digelar. Atik mengaku masih sempat mengalaminya.

"Ritual dimulai pagi hingga menjelang sore. Warga, mayoritas laki-laki berbondong-bondong menuju mata air di Gunung Rahayu, bukit yang ada di kaki Gunung Burangrang," ujarnya.
Sambil berjalan, warga membunyikan aneka tetabuhan mulai dari dogdog dan bedug, serta kecrek dan angklung buncis, yang suaranya diyakini mengandung unsur magis.

"Di sekitar mata air itulah warga akan memandikan kucing hitam dan berdoa kepada Gusti Allah. Warga kemudian akan saling melempar lumpur yang dilanjutkan dengan makan bersama sebagai bentuk syukur. Kami berdoa agar hujan turun," ujar Mak Atik.

Karya (60), suami Mak Atik, mengatakan hujan biasanya akan turun satu atau dua mingguan setelah mereka melakukan ritual. Bagi mereka, turunnya hujan adalah jawaban atas doa-doa yang mereka panjatkan.

Halaman
12
Penulis: men
Editor: dia
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help