TribunJabar/
Home »

Fiksi

» Cerpen

Cerpen S Prasetyo Utomo

Tarian Sufi

Belum lama Wisnu duduk, ditinggal sopir taksi yang akan menjemputnya nanti malam, seorang gadis menghampiri, mohon diperkenankan duduk di hadapannya.

Tarian Sufi
Ilustrasi Tarian Sufi 

TAK ingin menenggak anggur merah di minibar kamar hotel, atau memesan kopi di kafe dengan pertunjukan musik jazz, Wisnu meninggalkan lobi. Berjalan melintasi taman. Menghampiri sopir taksi. Minta diantar ke kedai kopi. Lima menit melaju, sopir taksi membawanya ke sebuah kedai kopi sederhana. Kedai itu dibuka di pelataran rumah pinggir kota. Kursi dan meja diatur rapi di pelataran yang luas berhawa dingin pinggir kota berbatasan dengan pegunungan. Beberapa orang ngobrol menghadapi cangkir kopi, teh poci, wedang jahe atau wedang uwuh. Sopir taksi itu memperkenalkannya dengan pemilik kedai, Pak Jo, lelaki pensiunan wartawan yang pernah bertugas sembilan tahun di Aceh. Dia sangat cekatan dan memikat menuang berulang-ulang kopi tarik, meracik wedang jahe gula batu, atau menyeduh wedang uwuh.

Wajah Pak Jo berewok, mata tajam di balik kacamatanya, rambut ikal sedikit botak. "Anda wartawan? Bukan? Oh, pilot. Wah, ini tamu kehormatan saya. Pesan apa? Kopi hitam? Tidak? Kopi tarik. Baik. Makanan? Ada pisang goreng, singkong goreng, tempe goreng, tahu petis. Pesan satu porsi pisang goreng? Tunggu sebentar. Di sudut, di bawah pohon jambu, masih ada kursi kosong untuk dua orang."

Belum lama Wisnu duduk, ditinggal sopir taksi yang akan menjemputnya nanti malam, seorang gadis menghampiri, mohon diperkenankan duduk di hadapannya. Kursi kosong tinggal satu, di depan Wisnu. Bukan gadis pribumi. Wisnu segera mengenali gadis itu berasal dari Turki: postur tubuh, kulit, mata, garis hidung, lekuk bibir, dan dagunya mengisahkan asal-usulnya. Tiap kali mendarat di Bandar Udara Esenboga, utara kota Ankara, ia senantiasa bersua gadis-gadis berpostur tubuh serupa itu menuruni tangga pesawatnya.

"Boleh duduk di sini?" gadis itu memohon kepada Wisnu. Lelaki muda itu tak mungkin menolak. Ia mengangguk. Menghilangkan kesan terkesima. Sekilas ia memperhatikan desain henna setangkai bunga di kedua punggung tangan gadis Turki yang ditangkupkan di atas meja.

"Kuliah di sini? Bukan? Bekerja?"

"Saya guru di sekolah internasional yang didanai sebuah yayasan dari Turki, tak jauh dari kedai ini."

Kopi tarik pesanan Wisnu diantar ke meja bersamaan dengan kopi hitam pesanan Alya Fainah, gadis Turki itu. Berikut seporsi pisang goreng panas. Cecapan busa lembut di permukaan gelas kopi tarik itu telah menggoda ujung lidah Wisnu.

"Kerasan tinggal di sini?"

"Tentu. Ini tahun ketiga saya berada di kota ini," kata Alya. "Sesekali memang saya teringat Nevsehir, daerah kelahiran saya, berpanorama menawan, dengan kerajinan karpet, keramik, dan anggur."

"O, ya? Saya pernah singgah di Nevsehir, menikmati wisata balon udara."

"Saya sedang berpikir untuk tetap tinggal di negeri ini," Alya berhenti sejenak, mencecap kopi pesanannya. "Kalau saja ada lelaki negeri ini yang berkenan menikahi saya, tentu saya akan senang."

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help