TribunJabar/

Coffee Break

Peyorasi Bancakan

Namun, belakangan istilah bancakan juga kerap dipakai sebagai kata sifat yang bermakna negatif.

Peyorasi Bancakan
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

WARGA Sunda mengenal dua makna bancakan. Pertama, nama satu permainan anak tradisional semacam petak umpet atau dalam bahasa Sunda disebut ucing sumput (kucing bersembunyi). Permainan ini memakai sebuah batu dan potongan genting sebanyak jumlah pemain yang disusun bertumpuk. Keduanya, batu dan tumpukan genting, ditempatkan dalam dua lingkaran berdampingan. Sebelum permainan dimulai, peserta melakukan pengundian dengan cara hompimpa atau suit. Yang kalah harus menjadi petugas penjaga atau kucing (ucing).

Si ucing bertugas menyusun genting secara bertumpuk sebagai benteng selagi para pemain bersembunyi. Setelah genting tersusun secara sempurna, ucing mulai menjaga susunan genting itu agar tidak dirobohkan sambil mencari para pemain.

Jika menemukan pemain, si ucing harus menyebutkan nama pemain, kemudian menginjak batu sembari berteriak "bancakan!" sebagai tanda bahwa persembunyian si pemain sudah terbongkar dan pemain itu harus keluar dari tempat persembunyiannya. Begitu seterusnya, sampai semua pemain ditemukan. Permainan dimulai lagi dengan hompimpa untuk menentukan ucing yang baru.

Selain bersembunyi, pemain boleh menyerang benteng ucing, merobohkannya hingga bertebaran. Ucing wajib mempertanggungjawabkan kekalahannya dengan menjadi ucing lagi dalam ronde berikutnya sampai dia sukses menjalankan tugasnya sebagai penjaga. Jika pemain ditemukan dan ternyata baik ucing maupun peserta yang ditemukan sama-sama jauh dari benteng, mereka berdua harus berlomba untuk mencapai benteng dan menuntaskan misi masing-masing.

Kedua, menurut Ensiklopedi Sunda, bancakan atau babacakan ialah nama hidangan yang diwadahi nyiru (niru), dengan tilam dan tutup daun pisang, disajikan untuk dimakan bersama pada selamatan atau syukuran. Macam makanan yang dihidangkan lazimnya nasi congcor atau tumpeng beserta lauk-pauknya, antara lain urab sebagai sesuatu yang khas dalam hidangan selamatan. Tidak disediakan piring. Para hadirin makan beralaskan daun pisang. Makan bancakan dimulai setelah pembacaan doa selesai, setiap orang langsung mengambil dari nyiru nasi beserta lauk-pauknya.

Kamus Bahasa Sunda karya R.A. Danadibrata juga menyebut bancakan sebagai "curak-curak, sukan-sukan bari barang dahar ngariung jeung babaturan; ~ biasana lain di jero imah bae, tapi di kebon, di sawah, di tempat pelesir jste." Menurut Danadibrata, bancakan berarti bersukaria sambil makan bersama dengan teman-teman, yang biasanya diadakan di kebun, sawah, tempat pelesiran, dan lain-lain.

Tradisi Jawa juga mengenal bancakan dalam makna yang serupa. Dikutip dari sebuah literatur, bancakan adalah tradisi masyarakat Jawa berupa ritual doa atau hajatan yang dilakukan secara bersama-sama atas suatu kepentingan dan harapan tertentu baik oleh perseorangan maupun kelompok. Inti acara ini adalah memohon atas sesuatu yang diinginkan oleh pemilik hajat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Prosesi bancakan ini dipimpin oleh seorang tokoh agama, disaksikan oleh para undangan. Mereka melakukan doa bersama dan pada akhir acara biasanya para undangan diberi suatu bentuk imbalan, kebanyakan berupa makanan siap saji, tapi bisa juga makanan mentah, pakaian, atau uang tunai. Bancakan ini memiliki berbagai ragam, seperti tasyakuran, akikah, wiwit, unggah, ruwat, dan manakiban serta bancakan untuk orang yang telah meninggal.

Ada juga bancakan kelompok. Dalam tradisi ini mereka biasanya membawa makanan yang disebut asahan. Setelah mereka berkumpul, modin memanjatkan doa yang disertai oleh segenap warga. Setelah itu, barulah asahan yang telah dibawa itu dimakan bersama-sama. Bancakan ini memiliki berbagai jenis, seperti sedekah bumi, mauludan, megengan, tahun baru, sedekah laut, dan tolak bala.

Serupa dengan makna menurut masyarakat Sunda dan Jawa, KBBI menyebut bancakan sebagai sebuah kata benda yang bermakna (1) selamatan; kenduri; (2) hidangan yang disediakan dalam selamatan; (3) selamatan bagi anak-anak dalam merayakan ulang tahun atau memperingati hari kelahiran disertai pembagian makanan atau kue-kue.

Secara umum, baik pada permainan anak-anak maupun pada acara makan bersama, tersirat nilai- nilai positif berupa kegembiraan, keguyuban, dan doa.

Namun, belakangan istilah bancakan juga kerap dipakai sebagai kata sifat yang bermakna negatif. Terjadi proses peyorasi, yakni perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak, tidak baik, dan sebagainya.

Contohnya jelas: bancakan korupsi e-KTP.

Pada saat bancakan korupsi itu, barangkali, mereka melakukannya dengan gembira dan guyub, seraya berdoa supaya selamat dari incaran KPK. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help