Perempuan Penanggungjawab Tol Cisumdawu Ini Sempat Dipandang Sebelah Mata

Bekerja di lapangan memang menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang hobi traveling ini.

Perempuan Penanggungjawab Tol Cisumdawu Ini Sempat Dipandang Sebelah Mata
tribunjabar/wisnu saputra
Wida Nurfaida 

TRIBUNJABAR.CO.ID -- Bekerja di lapangan memang menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang hobi traveling ini. Wida bahkan tak merasa takut jika wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih itu akan rusak terpapar sinar matahari atau pun debu dari pengerjaan proyek tol.

Didikan ayahnya yang seorang tentara membuat kepribadian Wida menjadi seorang perempuan kuat dan disiplin. Apalagi saat ini ia juga harus memimpin proyek tol dengan medan yang bisa disebut tak ramah bagi seorang perempuan.

Medannya yakni perbukitan terjal dengan kontur tanah yang labil, sehingga sewaktu-waktu bisa saja mendatangkan bencana bagi dirinya dan para pekerja. Wida pun akhirnya dituntut menjadi maskulin saat terjun di lapangan. Wida pun tetap bekerja secara profesional.

Apalagi, proyek Tol Cisumdawu tersebut juga memiliki pengerjaan untuk membuat sebuah terowongan dengan panjang 472 meter dengan diameter 14 meter.

Terowongan jalan tol dibawah bukit tersebut, disebut-sebut sebagai terowongan jalan tol pertama yang ada di Indonesia. Lagi-lagi, Wida lah yang juga harus bertanggung jawab penuh terhadap pengerjaan terowongan itu.

Bagi Wida, mengerjakan proyek jalan tol dengan memiliki sebuah terowongan tersebut bukan seolah-olah menjadi sebuah beban. Ia dengan profeional turun langsung mulai dari memperiapkan Detailed Engineering Design (DED), beberapa kelengkapan dokumen, berkoordinasi dengan instansi terkait, masyarakat hingga langsung terjun ke lapangan.

Pasalnya, Wida ingin jika Jalan Tol Cisumdawu yang memiliki terowongan tersebut menjadi salah satu bahan percontohan untuk proyek kedepannya. Terowongan yang ramah lingkungan dan tidak mengubah kondisi alam aedikit pun. Walau pun pengerjaannya memiliki resiko yang lebih besar.

Karena menurut Wida, terowongan tersebut di Indonesia belum ada contohnya. Contoh terowongan tersebut hanya ada di luar negeri seperti di Cina. Ditambah, kondisi tanah untuk membuat terowongan tersebut sangat labil. Ia juga harus belajar membuat terowongan ke negara lain. Namun, ia merasa bangga dengan apa yang sedang dikerjakannya.

"Sebagai perempuan dipercaya memimpin proyek ini tentunya bangga banget.  Deg-degan juga sih. Tapi dengan ini memacu saya untuk terus belajar, belajar dan banyak belajar lagi," ujar anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Supriono Sayidtun dan Supriati Mukhtar ini.

Namun, menjadi Kasatker Tol bagi Wida bukan perkara gampang. Ia berkali-kali sering dicemooh dan dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Apalagi, proyek yang tengah dikerjakannya itu mayoritas pekerjanya adalah laki-laki.

Halaman
12
Penulis: raw
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help