TribunJabar/

Sorot

Tengok Kanan dan Kiri

Semakin banyak Anda berperan, maka semakin banyak manfaat yang Anda beritakan untuk lingkungan.

Tengok Kanan dan Kiri
dok pribadi
Wartawan Tribun Jabar, Kisdiantoro 

Oleh: Kisdiantoro, Wartawan Tribun Jabar

KOTA Bandung menjadi sorotan nasional dengan munculnya teror bom panci di Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, sepekan lalu. Pelaku yang meledakkan bom rakitan dari campuran paku dan zat kimia dalam sebuah panci, berakhir dengan kematian setelah Satbrimob Polda Jabar menembaknya.

Sepekan peristiwa itu berlalu, masyarakat mulai melupakannya, dan menjalani aktivitas secara normal. Hal yang memang harus dilakukan, menghapus bayang ketakutan teror bom. Seperti yang dilakukan anak-anak SMA 6 Kota Bandung yang secara tegas mengatakan "kami tidak takut dengan teror."

Hanya kita pun tetap lah harus waspada dengan jaringan teror bom yang bisa jadi kini masih bermukim di Kota Bandung. Buktinya, Rabu (8/3), Densus 88, detasemen khusus di kepolisisan yang menangani masalah terorisme, menangkap pria bermaa Agus di sebuah kamar kos di kawasan Kebon Gedang, Kota Bandung.

Tak banyak warga di sekitar kos yang menyadari bahwa Agus adalah pria yang dicari polisi karena diduga terkait dengan pelaku bom panci di Kelurahan Arjuna, Yayat Cahdiyat. Di dalam kamar kos, polisi mendapati cairan yang baunya serupa dengan cairan kimia dam kabel. Semua barang-barang "aneh" di dalam kamar itu pun diangkut polisi.Setelah kejadian itu, warga baru menyadari ternyata ada pria yang membahayakan.

Hiruk pikuk kehidupan kota memang seringkali membuat warganya lebih peduli dengan dirinya dan cenderung abai dengan lingkungan. Bahkan, untuk lingkungan yang masih suburban di perbatasan kota pun budaya saling sapanya mulai luntur. Antara satu tetangga dengan lainnya tak saling mengenal. Jika di pingir kota saja demikian, apalagi dengan mereka yang berada di pusat kota. Maka, menjadi maklum jika kemudian kegiatan sosial yang melibatkan mayarakat dengan tujuan sebagai ajang silaturahmi, sepi dari kerumunan warga. Kegiatan kerja bakti, membabat rumput, membersihkan selokan, siskamling, perlombaan antar-rukun tangga, tak banyak peminatnya.

Perilaku yang demikian inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Bukan saja pelaku teror, sebuah kampung pun bisa dijadikan sebagai sarang pencuri, tempat selingkuh, dan sejumlah rencana tindak kejahatan.

Lalu bagaimana agar orang-orang yang hendak berbuat jahat di lingkungan kita bisa terdeteksi? Sedehana saja, masayarakat harus banyak "tengok kanan dan kiri." Hal ini bisa dimaknai, kita semestinya peduli dengan lingkungan sekitar, mengenali orang-orang di sekitar kita. Lalu melaporkan kepada pengurus RT atau RW jika ada orang asing yang tiba-tiba menetap di lingkungan itu.

Dengan "tengok kanan dan kiri" bisa dimakani kita harus banyak melakukan silaturahmi, bergerak dari satu rumah ke rumah lain, menyapa tetangga yang satu dengan lainnya, tidak hanyak tinggal diam di rumah, meskipun itu adalah hari libur kerja. Dengan banyak silaturahmi, maka satu warga dan lainnya saling kenal, bahkan hingga usaha yang ditekuninya. Termasuk bila ada warga yang memiliki usaha kamar kos.

Di Kota Bandung mungkin sudah ada Brigadir RW, polisi yang bertugas di tiap lingkungan RW. Lalu ada petugas Linmas. Di kompleks perumahan ada satpam. Tapi, keterlibatan masyarakat tetap yang utama dalam rangka mendeteksi dini adanya ancaman keamanan lingkungan. Semakin banyak Anda berperan, maka semakin banyak manfaat yang Anda berikan untuk lingkungan. Demikian sebaliknya, semakin sedikit terlibat, maka semakin sedikit pula manfaat yang Anda berikan. Padahal, sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak bermanfaat untuk orang lain. Silakan, pilih yang mana? Mau "tengok kanan kiri" atau tahu- tahu tetangga Anda diciduk polisi. (*)

Penulis: Kisdiantoro
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help