TribunJabar/

Sorot

Kim dan Cerita pada Minggu Malam

ADA drama di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu (5/3) malam. Ini tak jauh dari tentang kandasnya . . .

Kim dan Cerita pada Minggu Malam
DOKUMENTASI TRIBUN JABAR
Sugiri UA, Wartawan Tribun Jabar. 

Oleh Sugiri UA, Wartawan Tribun Jabar

ADA drama di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Minggu (5/3) malam. Ini tak jauh dari tentang kandasnya perjuangan Persib Bandung melangkah ke semifinal Piala Presiden 2017, ajang pramusim sebelum bergulirnya kompetisi resmi berupa Liga 1 2017.

Berharap menang 1-0 untuk lolos otomatis setelah kalah 1-2 di kandang Pusamania Borneo FC pada leg pertama, pertandingan harus diakhiri adu penalti karena skor hingga extra time adalah 2-1 untuk keunggulan Persib. Dengan kondisi itu, berarti agregat sama kuat 3-3.

Singkat cerita, pemain Persib yang tertunduk saat keluar lapangan di tengah tatapan puluhan ribu bobotoh dan kegembiraan tim asuhan Ricky Nelson. Persib gagal mempertahankan gelar yang didapat pada pelaksanaan Piala Presiden jilid pertama pada 2015. Kim Jeffrey Kurniawan yang paling terpukul. Atep merangkulnya ketika berjalan menuju pinggir lapangan.

Wajar Kim sangat sedih. Sebagai penendang ketiga, pemain naturalisasi ini gagal menjalankan tugas. Bola hasil sepakannya dari jarak dua belas meter di depan kiper Pusamania, Wawan Hendrawan, melambung di atas mistar gawang. Akibatnya, penendang kelima Persib tak perlu menjalankan tugas setelah Dirkir Kohn Glay tak kesulitan membobol gawang I Made Wirawan. Persib kalah 3-5.

Menjadi pesakitan, cerita Kim malam itu berbeda dengan ketika awal bergabung dengan Maung Bandung. Tidak ada suara hujatan keluar dari mulut bobotoh. Mereka justru memberi dukungan kepada adik ipar Irfan Bachdim agar tetap kuat. Nama Kim menggema di seantero stadion berkapasitas 28 ribu, yang isinya adalah bobotoh.

Bandingkan dengan kondisinya ketika berstatus pemain baru pada awal tahun lalu. Kim yang selalu dimainkan Dejan Antonic, pelatih Persib kala itu, menjadi sasaran kritik bahkan hujatan. Dia dicap anak emas karena Dejan memang menanganinya sejak di Pelita Bandung Raya.

Semua cerita buruk itu perlahan tergerus ketika Djadjang Nurdjaman yang pulang dari berguru ke Inter Milan menggantikan Dejan sejak laga kesembilan ISC A 2016. Djadjang seakan setuju dengan keputusan Dejan. Dia tetap memainkan Kim di mayoritas laga. Seakan sadar dengan jalan yang diberi, Kim membuktikan diri bahwa keberadaannya di tim memang dibutuhkan. Kim kemudian menjadi idola bobotoh.

Kim sempat mengira keadaannya memburuk lagi di mata bobotoh ketika gagal mengeksekusi penalti dalam keadaan krusial sehingga mimpi bobotoh melihat tim juara lagi menjadi sirna. Anggapan Kim salah besar. Bukan hanya menunjukkan kedewasaan di stadion, bobotoh juga memberi dukungan tanpa henti di dunia maya. Unggahan pertama Kim di akun Instagram pribadinya setelah momen menyesakkan banjir likes dan komentar. Bisa dikatakan, tidak ada kalimat negatif menjejali kolom komentar.

Tapi, seperti dalam kalimat yang diunggahnya, Kim wajib membalas semua yang dilakukan bobotoh. Caranya, tentu saja, dengan bekerja keras untuk bermain apik ketika diberi kesempatan tampil. Masih ada Liga 1 yang akan digulirkan pada pertengahan April sebagai media bahwa Kim tetap bisa bejalan berdampingan dengan bobotoh walau momen gagal penalti di semifinal Piala Presiden 2017 disebutnya sebagai yang terburuk dalam karier sepak bolanya yang membuatnya sedih.

Tenang Kim, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo juga pernah gagal mengeksekusi penalti, kok. Maka, tetaplah semangat dan berusahalah penuhi janjimu memberi hadiah juara buat bobotoh atas kepercayaan yang mereka beri untukmu, suatu saat nanti. (*)

 Naskah ini juga bisa Anda baca di edisi cetak Tribun Jabar, Kamis (9/3/2017).

Penulis: rie
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help