Sorot

Jika Mau Nyampah Harus Pandai Memilah

DI negeri ini, khususnya di kota-kota besar, masalah sampah adalah persoalan tiada habis. Banjir akibat sampah sudah . . .

Jika Mau Nyampah Harus Pandai Memilah
dokumentasi tribun jabar
Adityas AA, Wartawan Tribun Jabar

Oleh: Adityas AA, Wartawan Tribun Jabar

DI negeri ini, khususnya di kota-kota besar, masalah sampah adalah persoalan tiada habis. Banjir akibat sampah sudah berpuluh tahun mejadi persoalan. Sekalipun imbauan, larangan, bahkan ancaman hukuman bagi pembuang sampah sembrangan diberlakukan, namun tetap setiap individu di negeri ini tidak sabar untuk menahan sampah.

Bagaimana tidak, sampah ingin segera dibuang dari genggaman tangan, rumah, mobil, dan segala benda milik pribadi. Tidak heran jika tempat sampah penuh dan sampah juga berserakan dimana-mana. Bahkan sekalipun setiap orang tahu bahwa selokan dan sungai itu bukan tempat sampah, namun warga tetap membuang sampah di selokan atau sungai. Alasannya karena tidak ada yang mau memegang atau melihat sampah di kawasan pribadinya.

Alhasil, sangat sulit mendidik warga di negeri ini baik kaya maupun miskin, baik cendekiawan maupun awam, baik pebisnis maupun pengemis, untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tak sedikit keluarga yang karena tidak mau menahan sampah, maka mereka membungkus sampah, lalu tengah malam berjingkat membuang sampah di tempat yang menurut keluarga itu sebagai pembuangan sampah. Mereka sering berpikir, toh nanti sampah ada yang membersihkan.

Seperti di Kota Bandung, misalnya, masalah sampah benar-benar sulit ditangani, sampai- sampai Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung, Deni Nurdiana, mengatakan tahun ini para camat dan lurah di Kota Bandung akan dikerahkan membuat jaring sampah yang melewati sungai di wilayah masing-masing.

"Jaring sampah menjadi program Pak Wali tahun kemarin. Jadi, masalah sampah ini bukan wacana untuk diskusi, tapi harus aksi nyata dengan solusi tepat," katanya (Tribun, 6/3).

Sebenarnya kunci pertama membereskan sampah adalah keinginan dan kemampuan memilah sampah. Itu hal pertama yang harus dilakukan.

Dalam manajemen sampah terkenal dengan istilah 3R dalam menangani sampah. Istilah 3R tersebut mengacu pada reuse (guna ulang) yaitu kegiatan penggunaan kembali sampah yang masih bisa digunakan baik untuk fungsi yang sama maupun fungsi lain, reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah, dan recycle (mendaur ulang) yaitu mengolah sampah menjadi produk baru.

Jepang adalah satu bangsa di dunia yang memiliki kesadaran 3R tinggi. Sejak kelas 3 SD, anak-anak di Jepang dilatih membuang sampah sesuai jenisnya. Jadi sejak kecil mereka terbiasa memilah sampah. Hal tersebut membangun kultur buang sampah yang mampu tertanam di alam bawah sadar. Membuang sampah sesuai jenis sudah menjadi kebiasaan.

Bukan itu saja, setiap selesai beraktvitas yang menghasilkan sampah, misalkan makan bersama, warga Jepang secara otomatis memilah sampah dari aktivitas tersebut, lalu membuang di tempat yang sesuai dengan jenis sampah. Sebagian besar tempat sampah di Jepang tidak hanya satu keranjang, minimal ada dua keranjang sampah untuk memilah sampah organik dan anorganik.

Di Indonesia pun hal itu dilakukan dengan menggiatkan bank sampah, bahkan di Kota Bandung upaya pembentukan bank sampah hingga ke tingkat RW. Permasalahannya bukan saja kesadaran masyarakat yang rendah, tapi juga tidak ada panutan dari tokoh masyarakat dalam berperilaku 3R terhadap sampah.

Perlu kerja keras dari para pemegang amanah, tokoh masyarakat, alim ulama, dan pendidik untuk membuat kesadaran diri masyarakat agar jika mau "nyampah" harus pandai memilah. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di Tribun Jabar edisi Selasa (7/3/2017).

Penulis: ary
Editor: ddh
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help