TribunJabar/

Coffee Break

Sang Raja

KATA raja berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti laki-laki penguasa tertinggi sebuah kerajaan

Sang Raja
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

KATA raja berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti laki-laki penguasa tertinggi sebuah kerajaan (bisa karena warisan, bisa pula karena mendirikan kerajaan baru). Kalau perempuan, sebutannya rani atau ratu.

Namun, kata raja juga dipakai untuk menyebut orang yang besar kekuasaannya (pengaruhnya) dalam suatu lingkungan (perusahaan), misalnya raja minyak, raja dangdut, raja copet; binatang, jin, dan sebagainya yang dianggap berkuasa terhadap sesamanya, misalnya raja buaya, raja jin, raja hutan. Malahan ada juga ungkapan dengan makna yang berbeda, misalnya raja laut (laksamana), raja sehari (pengantin), dan raja singa (penyakit sifilis).

Dalam dongeng, raja selalu identik dengan penguasa yang tinggal di istana megah, memiliki harta yang melimpah ruah, dan dikawal dengan pasukan pengawal yang gagah-gagah. Ketika seorang pangeran tampan ditetapkan menjadi raja, didampingi seorang putri yang cantik jelita, selalu ada ungkapan yang khas: mereka bahagia selama-lamanya.

Dalam kisah fiksi-sejarah berlatar kerajaan-kerajaan di Jawa karya S.H. Mintardja, sebut saja Nagasasra & Sabuk Inten dan Api di Bukit Menoreh, seorang raja selalu digambarkan sempurna lahir dan batin. Ia sakti mandraguna, lebih sakti dibanding dengan para hulubalangnya, termasuk panglima perangnya. Kadang raja sendirilah yang bertindak sebagai pemimpin tertinggi pasukannya. Selain itu, ia mempunyai ilmu batin yang mumpuni serta menguasai ilmu keduniaan dan tata negara yang luas.

Dalam kisah Nagasasra & Sabuk Inten, Sultan Trenggono adalah penguasa Demak yang sakti. Waktu itu Jaka Tingkir, menantu Trenggono, masih seorang calon raja yang juga memiliki ilmu kesaktian sangat tinggi yang sulit dicari tandingannya. Dalam Api di Bukit Menoreh, Jaka Tingkir sudah menjadi raja Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Danang Sutawijaya, anak angkat Hadiwijaya, juga dilukiskan sebagai pemuda yang memiliki ilmu yang sulit diukur kedalamannya. Ia memisahkan diri dari Pajang dan mendirikan Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Mungkin kisah-kisah rekaan Mintardja itu terpengaruh legenda dan kisah-kisah babad, yang selalu menggambarkan raja sebagai manusia pilih tanding, istimewa, keturunan dewa atau nabi.

Tidak demikian dalam cerita-cerita silat karya Asmaraman Kho Ping Hoo, yang sebagian besar berlatar belakang sejarah kekaisaran Cina. Dalam cerita-cerita Kho Ping Hoo, seorang kaisar kerap digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan silat sama sekali, tapi semua orang tetap menghormatinya sebagai manusia pilihan. Bagi kubu pemerintah, kaisar adalah sosok yang harus dijaga dan dibela dengan nyawa sekalipun. Para pendekar yang berada di pihak kekaisaran akan membela mati-matian kaisarnya. Sebab, tewasnya kaisar berarti runtuhnya kekaisaran.

Posisi kaisar yang demikian mungkin lebih realistis dibanding raja atau sultan dalam rekaan Mintardja. Seperti itu pulalah posisi dan kekuatan raja dalam permainan catur. Raja hanya bisa melangkah satu kotak ke segala arah, jauh lebih lemah dibanding dengan (perdana) menteri yang bisa melangkah ke segala arah sejauh mungkin. Sekalipun menteri mati, permainan catur masih berjalan terus. Namun ketika raja mati, skakmat, selesai sudah permainan.

Meski kadang tidak realistis, kehebatan para raja Jawa dalam legenda dan kisah rekaan justru mirip dengan kehebatan para pemimpin Islam di masa-masa awal perkembangannya. Kendati tidak digambarkan sebagai manusia-manusia sakti mandraguna, terutama dalam olah kanuragan, Rasulullah dan para khalifah adalah manusia-manusia pilihan yang mumpuni lahir dan batin. Selain sempurna dalam ilmu agama, mereka adalah para panglima perang yang tangguh. Bahkan Rasulullah disebut-sebut sebagai panglima perang terbaik sepanjang zaman. Para khalifah juga terkenal dengan kehebatannya di medan perang. Ketika masih muda, Ali bin Abi Thalib pernah berduel dan menang atas seorang jagoan Quraisy, Amr bin Abd Wad.

Bagaimana dengan raja-raja Arab Saudi masa kini? Tidak diceritakan apakah Raja Abdulaziz sendiri yang memimpin pasukan. Namun lelaki yang dikenal juga sebagai Ibn Saud itu memulai pendirian negara baru pada 1902 dengan menyatukan Nejd, Hejaz, Al-Ahsa, dan 'Asir dalam sebuah kerajaan bernama baru Arab Saudi pada 1932. Raja-raja sejak kematian Ibn Saud menurunkan takhtanya kepada para putranya. Toh, tidak semua dipilih berdasarkan keturunan. Pengganti Raja Abdullah, misalnya, bukanlah anaknya, melainkan saudaranya, Salman.

Bagi warga Indonesia, Raja Salman yang kaya-raya tak ubahnya seperti raja dalam dongeng. Namun kita berharap bantuannya kepada negeri ini adalah kenyataan, bukan dongeng. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help