TribunJabar/

Kuliner

Opak Mungil, Praktis, Tetap Orisinal, dan Enggak Belepotan

Pokoknya praktis. Ukurannya pas di mulut. Kalau disimpan cukup dalam stoples. Ada kemasannya lagi, sehingga mudah bila dibawa

Opak Mungil, Praktis, Tetap Orisinal, dan Enggak Belepotan
TRIBUN JABAR/ANDRI M DHANI
Opak mungil. 

SELAMA ini bila makan opak, mulut jadi belepotan dan serpihannya menyebar ke mana-mana. Bila dibawa atau disimpan, perlu kantong atau wadah yang besar. Maklum opak yang dikenal selama ini ukurannya relatif besar, diameternya seukuran jengkal tangan orang dewasa.

"Biasanya opak yang selama ini dikenal, kan gede. Ukurannya besar. Bila disimpan makan tempat. Wadahnya harus besar. Kalau dimakan, mulut jadi belepotan," ujar Uting Rostini (37), perajin opak mungil dari Kalapajajar Ciamis kepada Tribun, Minggu (26/2).

Intinya, penampilan opak besar orisinil yang menjadi makanan khas di berbagai daerah di Tatar Pasundan dinilai kurang efesien di tengah kemajuan zaman yang serba praktis dan ekonomis saat ini. Apalagi di kalangan anak muda.

Atas dasar kepraktisan itulah, sejak setahun lalu Uting mencoba inovasi baru, membuat varian opak tanpa meninggalkan cita rasa aslinya sebagai cemilan khas Tatar Galuh Ciamis. Uting membuat opak ukuran mini yang disebutnya, opak mungil. Sesuai namanya, opak ini ukurannya mini, pas di mulut bila disantap alias dicemil.

"Pokoknya praktis. Ukurannya pas di mulut. Kalau disimpan cukup dalam stoples. Ada kemasannya lagi, sehingga mudah bila dibawa," katanya.

Dengan ukuran mungil dan praktis tersebut, tentunya opak mungil ini menjadi pilihan bagi penggemar cemilan baik untuk dihidangkan di rumah atau dinikmati saat bepergian.

Harganya pun cukup bersaing, hanya Rp 15.000/bungkus. Tampilan kemasan opak mungil ini tentulah menarik, jauh bila dibandingkan kemasan opak selama ini. Cita rasanya pun khas opak.
Ada dua pilihan rasa opak mungil buatan Uting ini, rasa manis dan rasa asin. Penampilannya juga mirip opak biasa, tapi ukurannya saja yang mini. Kehadiran opak mungil buatan Uting dari Kalapajajar, Ciamis, ini makin menyemarakan ragam makanan khas dan oleh-oleh dari Ciamis.
Uting memasarkan opak mungil kreasinya tersebut di oulet "Selaras" di Jalan Cokroaminoto, Gayam, Ciamis. "Saya juga memasarkan lewat jalur online. Jadi dari mana pun bisa pesan," ujar Uting yang juga pengurus Paguyuban UMKM Ciamis ini.

Selama ini, kata Uting, kendala yang banyak dialami para pelaku UMKM termasuk para perajin makanan khas Ciamis adalah pemasaran disamping modal tentunya. Para perajin makanan khas atau oleh-oleh biasanya menyimpan produk mereka di outlet atau toko kue maupun toko oleh-oleh dengan sistem konsinyasi. Setiap dua minggu sekali, barang yang tidak laku atau barang rusak (BS) dikembalikan. "Sehingga perputaran barang kurang cepat karena konsinyasi.

Saya merasakan sekali, beratnya sistem pemasaran secara konsinyasi tersebut. Dulu saya memproduksi cistik, sekarang lebih utama dengan opak mungil. Dan untuk pemasaran sekarang saya menjualnya terutama lewat online. Disamping juga lewat outlet di Gayam itu," katanya.

Untuk mendobrak kendala pemasaran ini, Uting bersama rekan-rekannya di Paguyuban UMKM Ciamis berharap Pemkab Ciamis, membangun suatu gerai pemasaran oleh-oleh khas Ciamis. Gerai seperti itu diperlukan untuk memudahkan pembeli khususnya wisatawan yang ingin mendapat oleh-oleh khas Ciamis. (sta)

Penulis: Andri M Dani
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help