Coffee Break

Indonesia di Bus Antarkota

KALAU kau ingin memandang salah satu potret Indonesia, cobalah pada hari-hari ini naik bus ekonomi antarkota.

Indonesia di Bus Antarkota
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

KALAU kau ingin memandang salah satu potret Indonesia, cobalah pada hari-hari ini naik bus ekonomi antarkota. Kau bisa melihat banyak fenomena yang bisa mewakili wajah negeri ini: fakta seadanya, tanpa polesan rias wajah.

Saya rutin mengalaminya: rata-rata dua minggu sekali naik bus dari Bumiayu ke Bandung.

Begitu naik di Terminal Bumiayu, sebuah kota kecil di wilayah selatan Kabupaten Brebes, penumpang akan disuguhi kegiatan ekonomi dan budaya. Para pengasong segera menawarkan komoditas mereka dengan cara masing-masing: aneka minuman, kacang rebus, tahu, getuk goreng, buku-buku islami, koran, dan lain-lain. Akan terjadi transaksi tanpa paksaan. Penumpang yang kehausan membeli minuman. Penumpang yang kelaparan membutuhkan makanan. Penumpang yang tidak memerlukan apa-apa tinggal menggeleng dan para penjual tidak akan memaksa. Itulah potret pasar tradisional Indonesia yang guyub.

Di tengah riuhnya aktivitas ekonomi, akan kausaksikan pergelaran musik rakyat. Pemusik sekaligus penyanyi tunggal akan memainkan alat musik tunggal berupa gitar atau ukulele mengiringi vokalnya yang jujur (baca: lebih banyak falsnya) dan syair alakadarnya. Penumpang boleh memberikan uang atau rokok, dengan bonus doa dari si penyanyi. Mereka yang menolak, ya, tidak apa-apa—kecuali di daerah tertentu akan terjadi pemaksaan.

Hampir sepanjang perjalanan, kegiatan ekonomi itu terus berlangsung. Para pedagang dan pemusik silih berganti naik dan turun mencari rezeki. Apalagi jika bus terjebak dalam kemacetan atau arus lalu lintas yang tersendat-sendat. Seolah-olah para penumpang bus adalah orang-orang yang berkelebihan rezeki. Penumpang bus ekonomi, kau tahu, berasal dari strata rakyat kebanyakan juga.

Dalam perjalanan terakhir beberapa hari lalu, bus melaju di ruas-ruas jalan kelas nasional yang rusak berat. Kalau kondisi jalan mulus, katakanlah dalam pekan-pekan awal pasca-Lebaran, jarak Bumiayu-Prupuk bisa ditempuh dalam setengah jam saja. Namun kemarin jarak itu dicapai tidak kurang dari 3,5 jam. Permukaan jalan sudah tinggal tanah berlumpur, bergelombang di sana-sini. Beberapa potongan jalan sedang dicor dan itulah salah satu penyebab kemacetan. Lalu lintas dibuka-tutup. Kondisinya akan makin runyam kalau ada mobil yang tidak sabaran sehingga mencuri jalur.

Saya kadang tidak memahami mengapa pengaspalan jalan hanya tahan dalam hitungan bulan. Paling lama setahun. Menjelang Lebaran, akan dilakukan pengaspalan lagi. Seakan-akan jalan bagus itu jadi semacam karpet merah khusus buat para pemudik Lebaran. Apakah kondisi itu disengaja supaya proyek tahunan itu terus berlangsung? Apakah kontraktor jalan itu memang dengan sadar mengurangi spek sehingga konstruksi aspal jalan tidak tahan lama? Jika benar, begitulah salah satu wajah korupsi di negeri ini: tidak juga hilang meski berganti-ganti pemerintahan.

Masih mending sekarang jarang terlihat kondektur bus atau kernet truk melemparkan "kotak korek api" ke arah polisi. Sebelum-sebelumnya, lemparan seperti itu sudah biasa. Tahu sama tahu, lah. Sangat boleh jadi, aksi seperti itulah yang mempercepat kehancuran aspal jalan. Bus masih mending. Bayangkan truk-truk yang kelebihan muatan melaju di jalan yang sebenarnya terlarang dilewati. Dan kau tahu, jalan raya sekarang dikuasai truk-truk sarat muatan. Cobalah kau hitung perbandingan jumlah truk dan nontruk di jalan raya. Saya pernah melakukannya. Dan hasilnya selalu sama: jumlah truk lebih banyak daripada jumlah nontruk (bus, minibus, sedan, dan lain-lain dijadikan satu). Secara tidak langsung, inilah dampak dimatikannya jalur-jalur kereta api—kebijakan yang juga mengherankan. Pertanyaannya, mengapa truk-truk tetap sarat muatan? Bukankah muatan itu dibatasi menurut aturan? Apakah masih terjadi pungli di jembatan timbang? Wallahualam.

Pada 1990-an, saya pernah naik bus Bumiayu-Bandung dengan waktu tempuh lima jam. Padahal waktu itu belum ada jalan tol. Sampai awal 2000-an, waktu tempuh masih 6 atau 6,5 jam. Sekarang, dalam kondisi jalan yang mulus, paling cepat tujuh jam, itu pun dengan masuk jalan tol mulai Pejagan (Brebes) hingga Kertajati (Majalengka). Pada perjalanan terakhir kemarin, 10 jam!

Apakah era Soeharto lebih enak dibanding dengan era sekarang? Tentu tidak sesederhana itu. Kondisi ini hanya mewakili satu gambaran: kehidupan makin sulit. Jangan dipersulit lagi dengan aksi-aksi konyol, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Contohnya, ketika di tengah kemacetan saya membuka ponsel, saya baca komentar seorang pimpinan DPR seperti ini: "Pemerintah jangan gagah-gagahan", sebagai reaksi atas upaya keras pemerintah menghadapi kasus Freeport. Ingin saya berkomentar begini: "Bung, apa yang telah Anda berikan buat negeri ini?" (*)

Editor: her
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help