Sorot

Surga dan Neraka

SETIAP memasuki hari Jumat, ada saja yang coba penulis pikirkan secara khusus dalam rangka introspeksi diri sebagai seorang muslim.

Surga dan Neraka
TRIBUN JABAR
Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun Jabar. 

Oleh: Dicky Fadiar Djuhud, Wartawan Tribun Jabar

SETIAP memasuki hari Jumat, ada saja yang coba penulis pikirkan secara khusus dalam rangka introspeksi diri sebagai seorang muslim. Mungkin demikian pula dengan sidang pembaca sekalian. Kalau tak ada yang kepikiran, mencoba dipikir-pikirkan biar ada yang kepikiran. Hingga, kali ini teringat akan petuah-petuah dari orang tua-orang tua dulu. Salah seorang di antaranya, orang tua penulis mengatakan iman seseorang tidak bisa distandardisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda.

Lalu, Bapak penulis yang sudah almarhum itu pun menegaskan, makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhirnya ya makmumnya di belakang kesal, enggak ikhlas.

Bapak penulis bukanlah jebolan pesantren tapi apa yang dikemukakannya terkadang seperti mereka yang minimal pernah menimba ilmu di pesantren. Meski enggak lulus. Bapak pernah mengatakan pula dan kerap terngiang di telinga, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita salat. Lebih ekstrem lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita salat (walau itu enggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya, titik! Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Artinya, sudah enggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridha, enggak marah pada kita.

Motong rambut atau kuku enggak harus nunggu hari Jumat. Lantas mau "campur" suami-istri aja kok ya harus nunggu malam Jumat, ni gimana sih? Itulah kita, tarafnya masih kemaruk (serakah) pahala. Enggak ada pahala, enggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rasul. Pikir sendiri! Begitu yang dikemukakan Bapak, dulu. Terkadang apa yang dilontarkan Bapak jangan diartikan linier dan harfiah.

Entah kenapa, ketika Tribun Jabar berulang tahun pada tanggal 23 dan syukuran berlangsung di kantor Tribun Jabar, Kamis (23/2). Seolah ada atmosfer, suasana yang membuat penulis tiba-tiba saja teringat bapak penulis, Soegandi (almarhum). Sejurus kemudian muncul dalam benak gambar-gambar masa lalu, petuah-petuah, dan hal-hal yang berkaitan dengan kenangan saat almarhum masih hidup. Ya, angka 23 merupakan tanggal kelahiran dari Bapak penulis. Hanya beliau lahir di bulan Januari. Terpaut satu bulan dengan kelahiran koran ber- tagline Spirit Generasi Baru yang mengalami perubahan dari Metro Bandung jadi Tribun Jabar pada 23 Februari 2000.

Suatu ketika, Bapak penulis mengatakan kebanyakan manusia hanya kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena dulu sewaktu di dunia cuma mencari surga, enggak pernah mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau enggak dikasih surga, terus kita kost atau ngontrak di mana?

Jadi? Ya, fokuskan dirimu hanya pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Zat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta. Korelasinya dengan apa yang terjadi di tanah air, berbagai bencana mengemuka di berbagai wilayah bisa jadi karena manusia gagal fokus. Mulai dari pemimpin, pemuka agama, ustaz, alim ulama, dan masyarakat. Mereka fokus mencari surga, bukan mencari Tuhan. Sehingga, sang Maha Pencipta coba 'meluruskan' dengan 'cara-Nya'. (*)

Naskah ini juga bisa Anda baca di koran Tribun Jabar edisi Jumat (24/2/2017).

Penulis: dic
Editor: ddh
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help